in

Petakan Tantangan Penyelenggaraan Ibadah Haji, Petugas Harus Siap

 

HALO SEMARANG – Direktur Bina Haji Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU) Arsad Hidayat, menyampaikan bahwa petugas haji adalah pelayan bagi dhuyufurrahman.

Karenanya mereka harus siap menghadapi tantangan, yang mungkin dihadapi dalam penyelenggaraan ibadah haji 1445H/2024M.

Hal itu disampaikan Direktur Bina Haji Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umroh (PHU) Arsad Hidayat, di hadapan 890 calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), yang sedang mengikuti Bimtek PPIH Arab Saudi Tahun 1445H/2024M di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu (20/3/2024).

“Petugas haji adalah pelayan dhuyufurrahman, tugasnya adalah melayani tamu Allah, dan dipilih oleh Allah,” kata Arsad Hidayat

Dia pun mengatakan bahwa para petugas haji tersebut, tak cukup hanya menandatangani pakta integritas.

“Bapak Ibu diharapkan bukan hanya menandatangani pakta integritas, namun harus siap dengan tantangan yang akan dihadapi pada penyelenggaraan haji tahun ini,” kata dia.

Arsad menambahkan, dirinya telah memetakan beberapa tantangan yang mungkin dihadapi pada penyelenggaraan ibadah haji nanti.

“Pertama, tahun ini terdapat 45.000 jemaah haji lansia. Sehingga, perlu ditekankan mindset melayani lansia pada petugas,” kata Arsad.

Dalam melayani lansia, gambaran sederhana adalah melayani orang tua sendiri.

“Harus kita sambut, siapkan tempat terbaik, makanan terbaik, demikian pula pada jemaah lansia ini. Siapkan yang terbaik, layani dengan baik, komunikasi dengan bahasa yang baik, dan jangan sakiti mereka,” pesannya.

Selain tantangan pada jemaah haji Lansia, Arsad menuturkan bahwa pada tahun 2023, jumlah jemaah haji yang wafat lebih dari 820.

“Angka tersebut merupakan angka tertinggi dalam sejarah penyelenggaraan haji. Sehingga, menjadi PR bersama supaya mendukung jemaah haji dalam kondisi nyaman, beribadah nyaman, berangkat nyaman dan pulang nyaman,” lanjutnya.

Kondisi ini, lanjut Arsad, harus diantisipasi dengan memberikan alternatif ibadah bagi jemaah haji lansia dengan membuat perencanaan yang tepat, tanpa keluar dari ketentuan manasik.

Dikatakan Arsad, berdasarkan informasi dari Kemenkes, angka kematian jemaah haji bertambah signifikan setelah puncak haji karena faktor kelelahan.

“Tentu, ini menjadi PR, agar konsultan ibadah dan pembimbing ibadah membuat skema alternatif saat puncak ibadah haji,” imbuhnya.

“Apalagi, tahun ini, pemerintah telah merespon masukan dari jemaah terkait Armuzna. InsyaAllah jemaah haji tidak ada yang tinggal di Mina Jadid,” Ungkap Arsad.

Rencananya, jemaah haji Indonesia akan ditempatkan di sebelah tenda-tenda Malaysia di dekat negara-negara Asean.

“Saya harap tim akomodasi perlu memastikan kondisinya, dan mengantisipasi potensi jemaah berdesakan,” tambahnya.

Selanjutnya, Arsad menjelaskan bahwa musim haji tahun ini masih di siklus musim panas, bahkan bisa sampai 50 derajat.

“Ini penting, agar disosialisasikan pada jemaah, pada saat kondisi panas sekali untuk mempertimbangkan afdhal dengan mengabaikan kemaslahatan jiwa,” tuturnya.

Terakhir, Arsad juga berpesan agar keterlambatan transportansi Armuzna yang disediakan oleh Masyair tidak terulang kembali.

“Kita perlu menyiapkan transportasi, sehingga tidak ada keterlambatan bus di Armuzna. Berbagai tantangan tersebut perlu dipersiapkan dalam penyelenggaraan haji tahun 2024,” tandasnya.

Berseragam

Arsad Hidayat juga meminta petugas haji menggunakan seragam, selama bertugas walaupun saat berada di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

Dikatakan Arsad, petugas adalah orang pertama yang akan dicari jemaah ketika mereka menemukan permasalahan. Hal ini juga akan menunjukkan eksistensi petugas selama berada di tanah suci.

“Seragam adalah jati diri petugas haji. Sebagai pembentuk prilaku dan sikap ketika berhadapan dengan jemaah. Seragam juga akan memudahkan jemaah meminta bantuan terutama yang tersesat,” ungkap Arsad.

Bukan hanya menggunakan seragam petugas, Arsad juga meminta petugas haji memegang beberapa komitmen melaksanakan tugas selama berada di tanah suci.

Diulas Arsad, petugas haji diminta berkomitmen setiap hari mengikuti apel pagi. Hal ini untuk memastikan bahwa petugas siap melayani jemaah haji.

“Dengan adanya kewajiban apel pagi, tidak ada lagi petugas yang tidur sehingga bisa melayani jemaah dengan baik,” tegasnya.

Komitmen selanjutnya kata Direktur, petugas haji siap untuk tidak melaksanakan ibadah haji kecuali yang belum berhaji.

“Yang lebih penting dari itu adalah petugas siap bekerja 24 jam. Petugas bisa istirahat ketika tidak ada lagi pekerjaan, tetapi ketika ada permintaan atau telepon petugas harus siap,” ujarnya lagi.

Petugas haji sambung Arsad, petugas siap untuk tidak membawa keluarga atau muhrim. “Ketika memahrami keluarga, tugas melayani jemaah otomatis akan terganggu sehingga jemaah tidak terlayani dengan baik,” ingat Arsad.

“Untuk itu, saya juga minta komitmen petugas untuk menjalankan seluruh tugas dan kewajiban yang ada dalam pakta integritas. Komitmen ini harus dijaga dan dijalankan dengan baik,”

Terakhir, Arsad minta petugas mengikuti Bimtek dengan baik dengan mengikuti seluruh materi dan sesi, sehingga setelah Bimtek, tahu apa yang menjadi tugas dan fungsi masing-masing.

“Saya minta kepada petugas, baik yang melalui proses seleksi atau penunjukan, tolong jaga amanah ini dengan sebaik-baiknya. Ketika masuk dalam korp petugas, siapkan diri menjadi pelayan tamu-tamu Allah,” pungkasnya. (HS-08)

Polresta Surakarta Tangkap Empat Pemuda Pesta Miras di Jebres,

Kedubes AS Sebut Penyuluh Agama di Indonesia Ikut Jaga Stabilitas Negara