in

Peringati Harlah Satu Abad NU Jateng, Bupati Batang Awali Aksi dengan Donor Darah

Bupati Batang M Faiz Kurniawan menjadi donor darah, dalam acara peringatan Harlah NU Satu Abad tingkat Jawa Tengah, di Pendapa Batang, Kabupaten Batang, Minggu (1/2/2026). (Foto : batangkab.go.id)

 

HALO BATANG – Bupati Batang M Faiz Kurniawan menjadi donor darah, dalam acara peringatan Harlah NU Satu Abad tingkat Jawa Tengah, di Pendapa Batang, Kabupaten Batang, Minggu (1/2/2026).

Menurut Bupati Batang M Faiz Kurniawan, kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan panggilan kemanusiaan yang nyata, terutama mengingat banyaknya warga Batang yang membutuhkan, termasuk di antaranya para penderita Thalassemia.

“Ya, menurut saya sih kegiatan yang positif dan ya kami berharap banyak masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam setiap kegiatan donor darah,” kata dia, seperti dirilis batangkab.go.id.

Ia meyakinkan masyarakat bahwa berbagi darah tidak akan merugikan kesehatan. Sebaliknya, hal itu adalah bentuk dukungan moral pada sesama manusia.

Insyaallah tidak akan berkurang sedikit pun kalau kita donor darah. Malah tentu itu bagian dari kemanusiaan kita sebagai sesama manusia untuk saling support satu sama lain.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah, KH Abdul Ghaffar Rozin atau yang akrab disapa Gus Rozin, menyebut Batang adalah “titik temu” yang sempurna.

“Batang lokasi secara geografis di tengah-tengah. Gampang dicapai dari ujung Jawa Tengah mana pun, mulai dari Pantura sampai Pantai Selatan itu dekat. Yang kedua, Bupatinya juga sahabat kita,” ungkapnya.

Memasuki abad kedua, NU ingin memastikan kehadirannya tidak hanya terasa di mimbar-mimbar pengajian, tetapi juga dalam urusan sosial yang mendesak.

Hal ini dibuktikan melalui Apel Kemanusiaan yang melibatkan Banom NU seperti Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU, hingga Pagar Nusa.

Gus Rozin menegaskan, bahwa NU harus hadir dalam setiap isu krusial, termasuk penanganan bencana dan isu kemanusiaan lainnya.

“Kita pengin NU ini lebih hadir secara riil di dalam denyut nadi dan nafas serta isu-isu yang ada di masyarakat. Ini menunjukkan komitmen kita untuk peduli kepada persoalan kemanusiaan juga kebangsaan pada abad yang kedua ini,” tegasnya.

Jika siang hari diwarnai dengan aksi sosial yang bersifat “horizontal”, maka malam harinya para Nahdliyin diajak menempuh “jalur langit”, yakni dengan menggelar istighotsah kubra, untuk memohon keberkahan bagi organisasi dan umat.

“Acara yang ketiga, istigasah. Itu secara transendental kita berdoa agar NU ini senantiasa diberkahi dan selalu ada untuk Nahdliyin,” kata dia. (HS-08)

 

Dana Pensiun Rp1,2 Miliar untuk 6.600 Guru Madin Diluncurkan, Bupati Batang : Punya Benefit Besar

Kemenag Pamer Koleksi Perpustakaan Islam Digital di Mesir