HALO SEMARANG – Pemerintah Kota Semarang mengapresiasi dan mendukung adanya program Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) Clean Cities, Blue Ocean, bersama mitranya untuk membantu mengurangi polusi sampah plastik yang akan mencemari laut, terutama di wilayah ibukota Jawa Tengah, Kota Semarang.
Kerjasama kemitraan antara USAID dengan perusahaan manajemen investasi, perusahaan daur ulang plastik, serta pengembangan infrastuktur pemilahan sampah disaksikan pemerintah kota dengan menandatangani MoU bertajuk Signing Ceremony “Mobilizing Capital Blended Through Finance ” di Hotel Poo, Semarang, Rabu (27/7/2022).
Direktur USAID, Jeffery P Cohen mengatakan, pihaknya dalam program kemitraan ini bergabung di antaranya dengan perusahaan manajemen investasi yang mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan, Circulate Capital. Dan perusahaan daur ulang plastik yang mengembangkan infrastruktur pemilahan dan pengumpulan sampah untuk masyarakat di daerah yang kurang terlayani di Indonesia, Prevented Ocean Plastic Southeast Asia (POPSEA).
“Yang mana kemitraan ini akan memperluas infrastruktur pengumpulan dan daur ulang sampah di Indonesia yang akan menghasilkan plastik daur ulang berkualitas tinggi dan dapat ditelusuri. USAID gembira dapat mendukung kemitraan baru ini yang menggabungkan pembiayaan dari publik dan swasta yang akan membantu memenuhi permintaan plastik daur ulang dan pada saat yang sama juga memperkuat sistem pengelolaan sampah di masyarakat,” katanya disela-sela acara, Rabu (27/7/2022), sekaligus saat Indonesia bersiap menjadi tuan rumah KTT G20 tahun ini.
Dia menambahkan, program ini akan membantu mengumpulkan dan mencegah sampah plastik yang berbahaya agar tidak hanyut ke laut, tapi mengubahnya menjadi keuntungan finansial dan mata pencaharian bagi masyarakat Indonesia.
“Tahap awal kemitraan akan berfokus di Kota Semarang, salah satu kota terbesar di Pulau Jawa. Seperti banyak kota besar lainnya, Semarang menghadapi tekanan yang semakin besar untuk mengurangi volume dan mendaur ulang sampah yang terus meningkat, tetapi kota ini tidak memiliki sistem daur ulang yang layak secara ekonomi maupun logistik. Pada tahun 2025, 68 persen lebih dari 270 juta penduduk Indonesia diperkirakan akan tinggal di daerah perkotaan, di mana sampah yang bisa dikumpulkan hanya sekitar setengahnya saja,” paparnya.
Scenaider Siahaan, selaku Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menjelaskan, Pemerintah Indonesia melihat blended finance sebagai instrumen yang semakin penting untuk memobilisasi pendanaan dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Acara Blended finance dalam pengelolaan sampah membawa peluang bagi investasi swasta untuk mendukung ekonomi sirkular, menutup siklus daur ulang produk yang akan mengurangi kerugian material sehingga meminimalkan kerusakan lingkungan hidup dan mencegah menipisnya sumber daya alam,” katanya.
Kemitraan ini, kata dia akan memperluas infrastruktur pengumpulan dan daur ulang sampah, membangun kapasitas pemerintah daerah untuk perencanaan dan pengelolaan sampah, serta memobilisasi dan memberdayakan sektor sampah informal yang penting bagi pengelolaan sampah lokal tetapi seringkali kurang termanfaatkan karena sumber daya yang terbatas.
“Sebagai contoh, fasilitas baru bisa menampung, memilah, dan memproses sekitar 30 ton material plastik per hari dan akan membantu menyediakan pendapatan baru bagi sekitar 100 karyawan dan pengepul sampah lokal. Kemitraan ini menggabungkan kekuatan badan-badan pembangunan dan investasi swasta yang dapat menghadirkan keahlian teknis yang terkoordinasi dan pembiayaan campuran (blended finance) kepada perusahaan-perusahaan baru yang memiliki posisi terbaik untuk mengembangkan model baru dan inovatif untuk mengurangi polusi plastik di lautan dengan cara mengumpulkan, memilah, dan mendaur ulang sampah plastik,” terangnya.
“Kami bangga dapat bermitra dengan USAID untuk mendukung Prevented Ocean Plastic Southeast Asia yang akan memperluas infrastruktur pengumpulan dan daur ulang terbaik di kelasnya di berbagai lokasi di Indonesia, termasuk di lingkungan masyarakat yang saat ini masih memiliki kemampuan mengumpulkan sampah yang terbatas atau tidak ada sama sekali,” kata Regula Schegg, Managing Director Circulate Capital untuk Asia.
“Melalui kemitraan ini, bersama-sama kita bisa mewujudkan blended finance secara nyata dan menyusun cetak biru untuk mencegah polusi plastik di Indonesia dan juga di tingkat regional,” imbuhnya.
Melalui kemitraan ini, lanjut dia Prevented Ocean Plastic South East Asia berupaya meningkatkan rantai pasokan daur ulang di Indonesia dan menyediakan plastik daur ulang berkualitas tinggi dan dapat ditelusuri untuk pasar global. Hal ini akan menguntungkan semua pelaku di sepanjang rantai pengelolaan sampah—mulai dari pengumpulan botol bekas hingga bisa digunakan kembali.
Wali Kota Semarang yang diwakili Asisten Bidang Pemerintahan Muhammad Khadik mengatakan, terkait penanganan sampah plastik yang bermuara di laut Semarang, pihaknya mengapresiasi program yang dilaksanakan hari ini antara USAID dan sdmua mitra dan stake holder lainnya.
“Harapan kita bersama kegiatan ini di dalam rangka percepatan pembangunan di kota Semarang. Salah satu wujudnya, dengan bergerak bersama penanganan sampah plastik jadi keinginan bersama, laut yang biru dan bersih pasti kita bisa wujudnya,” katanya.
Di Kota Semarang sendiri untuk mengurangi sampah, sudah diatur di dalam Perwal, yakni berupa pembatasan pemakaian tas plastik sekali pakai pada Juni 2019 lalu, serta pengolahan sampah menjadi yang bermanfaat seperti handycraf untuk meningkatkan nilai jual dan akhirnya meningkatkan kesejahteran masyarakat.
“Harapannya dengan adanya program ini sampah plastik nanti diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat jadi listrik dan gas serta didaur ulang bernilai ekonomi,” pungkasnya. (HS-06)