HALO SEMARANG – Kerja sama erat Indonesia dengan Jepang, turut menciptakan tren positif pemulihan di berbagai sektor yang terdampak selama pandemi.
Total nilai perdagangan Indonesia dengan Jepang pada tahun 2021 tercatat sebesar 32.5 miliar dolar AS dan nilai investasi Jepang pada tahun 2021 mencapai 23 miliar dolar AS.
Sejumlah kerja sama Indonesia dan Jepang di bidang ekonomi tersebut, turut menjadi pembahasan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, saat bertemu Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri atau Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) Jepang, Nishimura Yasutoshi, Sabtu (3/9/2022).
Di bawah koordinasi Nishimura Yasutoshi, yang baru diangkat sebagai Menteri 10 Agustus lalu, terdapat sejumlah capaian kerja sama dan pembaruan perjanjian, dalam Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJ-EPA).
Beberapa di antaranya yaitu meningkatkan ekspor ikan tuna kaleng Indonesia dengan tarif lebih bersaing, dibandingkan negara ASEAN lain, meningkatkan kuota bebas bea masuk menjadi 4.000 ton per tahun untuk ekspor pisang, dan mengubah syarat pembebasan bea masuk dan menambah kuota untuk ekspor buah nanas.
Sebelumnya, pertemuan Presiden RI dengan PM Jepang, Juli lalu telah sepakat pembaruan IJ-EPA dapat selesai dan diumumkan saat KTT G20 November di Bali.
“Diharapkan Jepang dapat mempertimbangkan tarif bea masuk untuk beberapa komoditas seperti ikan tuna serta buah pisang dan nanas,” kata Airlangga, seperti dirilis ekon.go.id.
Lebih lanjut, Menko Airlangga mengapresiasi peningkatan komitmen investasi swasta Jepang, dari hasil pertemuan Presiden RI dengan sejumlah CEO Jepang, sebesar 5,2 miliar dolar AS.
Hal itu antara lain berupa pembangunan IKN, industri otomotif, industri baterai listrik, industri baja, pembangunan pembangkit listrik, dan infrastruktur transportasi.
Beberapa perusahaan otomotif Jepang juga telah meningkatkan investasi seperti Mitsubishi Motors yang berkomitmen untuk menjadikan Indonesia sebagai hub ekspor kendaraan, terutama untuk memproduksi kendaraan yang berbasis Electric Vehicle dengan rencana tambahan investasi Rp 10 triliun dari 2022 sampai 2025.
Selain itu, Toyota Group juga telah merencanakan tambahan investasi Rp 27,1 triliun dalam rentang waktu 2022 sampai. 2026.
Menko Airlangga juga menanyakan pendapat Jepang terkait Indo-Pasifik Economic Framework (IPEF).
IPEF merupakan inisiatif Amerika Serikat, yang diluncurkan oleh Presiden Biden pada 23 Mei 2022 bersama 14 negara.
“IPEF tentu sangat bermanfaat bagi Indonesia sebagai ekonomi terbesar di ASEAN, penting untuk menjaga keseimbangan antara keuntungan dan regulasi,” tutur Menteri Nishimura.
Dalam kesempatan tersebut, tak lupa Menko Airlangga menyampaikan perkembangan kerja sama Indonesia-Jepang, pada pembangunan infrastruktur, seperti pelabuhan Patimban yang dilakukan dalam 3 tahap dengan nilai pembiayaan sekitar Rp 35 triliun hingga 2027, jalan tol akses pelabuhan Patimban senilai 312 juta dolar AS, dan MRT Jakarta North-South (HI-Ancol).
Sektor kelapa sawit turut menjadi pembahasan dalam pertemuan tersebut, di mana Pemerintah Indonesia berharap Pemerintah Jepang dapat menerima sertifikasi Rantai Pasok Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) Indonesia.
Hal ini diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor produk kelapa sawit ke Jepang.
Saat ini Jepang tengah menunggu peraturan turunan New ISPO yang mengatur hilirisasi industri sawit Indonesia.
“Indonesia menjamin bahwa aspek berkelanjutan dari tanaman sawit ini sesuai dengan yang disyaratkan Jepang, di bawah skema feed in tariff (FIT),” ujar Menko Airlangga.
Menutup pertemuan, Menko Airlangga membahas Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) dan Menteri Nishimura memberi selamat atas persetujuan ratifikasi tersebut.
RCEP merupakan blok perdagangan terbesar yang digagas oleh Indonesia saat menjadi Ketua ASEAN 2011.
“RCEP akan memberikan keuntungan besar dan memperkuat kerja sama ekonomi di kawasan Indo-Pasifik” kata Menteri Nishimura.
“Saya menyampaikan apresiasi atas inisiatif Jepang bekerja sama dalam Forum Kerja Sama Public and Private Track 1.5: Japan Indonesia Co-Creation Partnership for Innovative and Sustainable Economic Society,” sambung Menko Airlangga.
Menteri Nishimura berterima kasih kepada Pemerintah Indonesia karena produk dan teknologi dari Jepang diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia dan mengajak untuk bersama-sama saling mendukung dalam menyukseskan G20 tahun ini.
Menteri Nshimura juga menyampaikan perhatian Jepang untuk kebijakan pengaturan impor besi dan baja agar dapat diupayakan lebih baik lagi karena pentingnya produk tersebut.
Pemerintah Indonesia sedang menyiapkan neraca komoditas dalam rangka penerbitan izin impor produk baja yang akan dilaksanakan pada 2023.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Menteri Perindustrian, Duta Besar Jepang untuk Indonesia, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Deputi Bidang Kerja Sama Ekonomi Internasional Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, dan Dirjen KPAII Kementerian Perindustrian. (HS-08)