in

Menag Sebut Strategi Collaborative Governance sebagai Upaya Penguatan SDM Nasional H

Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Menteri Agama, Nasaruddin Umar menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, dalam membangun sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang unggul.

Dalam sesi wawancara bersama peserta Lemhannas RI, Ade Ary Syam Indradi, Menag menggarisbawahi bahwa tantangan pembangunan nasional saat ini tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu instansi, melainkan membutuhkan pendekatan Collaborative Governance yang inklusif.

Menag menekankan bahwa stabilitas dan kemajuan nasional Indonesia di masa depan sangat bergantung pada sinergi tiga pilar strategis yang saling bertautan. Ia menegaskan bahwa fondasi utama dimulai dari pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.

“Fondasi utamanya harus dimulai dari pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, karena manusia kita ini jumlahnya sangat banyak dan merupakan modalitas bangsa. Oleh karena itu, fokus kita tidak boleh hanya menyasar pada kapasitas intelektual semata, tetapi juga pada penguatan karakter sebagai akar utama dari kemajuan manusia itu sendiri,” tegas Menag di Jakarta, Senin (30/03/2026), seperti dirilis kemenag.go.id.

Menag mendorong pembentukan forum resmi, yang melibatkan aktor negara, yakni pemerintah, Polri, dan TNI beserta aktor non-negara, seperti pihak swasta, LSM, dan NGO.

“Esensinya adalah membangun konsensus. Dengan melibatkan aktor non-negara dalam merumuskan kebijakan hingga tahap implementasi, kita memastikan bahwa aturan yang lahir jauh lebih akurat dan relevan dengan kebutuhan lapangan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Menag menggarisbawahi pentingnya pengaturan ruang digital yang terukur.

Di tengah arus informasi yang kencang, ruang digital harus dikelola sedemikian rupa agar menjadi sarana edukasi yang mencerdaskan, bukan justru menjadi celah bagi pengaruh negatif yang dapat mendegradasi kualitas berpikir masyarakat.

“Ekosistem digital kita wajib dikelola agar berfungsi sebagai instrumen edukasi yang mencerdaskan bangsa. Jangan sampai ruang ini dibiarkan tanpa kendali sehingga menjadi celah bagi pengaruh negatif yang justru mendegradasi kualitas berpikir masyarakat kita,” jelas Menag.

Menjawab pertanyaan terkait kontribusi nyata Kemenag, Menag memaparkan kekuatan jaringan pendidikan agama yang sangat masif sebagai fondasi stabilitas masyarakat.

“Kekuatan kita sudah formal dan kuat. Dengan jumlah jangkauan mencapai lebih dari 11 juta orang di sektor pendidikan keagamaan, Kemenag memiliki kapasitas besar untuk menjaga stabilitas sekaligus mencetak anak bangsa yang kompeten,” tegasnya.

Meski menunjukkan tren positif pada indeks kepuasan dan pencapaian (yang mencatat angka hingga 77,69% di tahun 2025), Menag tetap menyoroti tantangan besar dalam hal anggaran pendidikan.

Ia mencatat bahwa saat ini Pemerintah sedang berupaya terhadap porsi anggaran negara agar dapat meningkat dan lebih menyentuh sektor pendidikan, termasuk sektor swasta, terlebih hampir 85% lembaga madrasah di bawah naungan Kemenag merupakan madrasah dari sektor swasta.

“Untuk semua anak bangsa, seharusnya tidak ada perbedaan perlakuan antara pendidikan negeri dan swasta. Negara harus hadir untuk menyelamatkan masa depan seluruh anak didik tanpa kecuali,” kata dia. (HS-08)

 

Jelang Pemberangkatan Haji, Sekda Jateng Minta Petugas Utamakan Pelayanan

Menag Jelaskan Silaturahmi Tidak Hanya Antarmanusia, Tapi juga Alam Semesta