in

Kepala BNPT Sebut Kelompok Ekstremis Kerap Salahgunakan Internet untuk Propaganda dan Pendanaan

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Komjen Pol Boy Rafli Amar, dalam Pertemuan Aqaba Process - Southeast Asia High Level Tech Meeting, Preventing Terrorist and Violent Extremist Exploitation of the Internet, di Bali belum lama ini. (Foto : bnpt.go.id)

 

HALO SEMARANG – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI, Komjen Pol Boy Rafli Amar, menjelaskan bahwa kelompok teroris dan ekstremis, selama ini menyalahgunakan internet untuk melakukan propaganda dan berusaha menyedot pendanaan terorisme yang menargetkan generasi muda.

“Selama ini kelompok teroris telah menyalahgunakan internet untuk melakukan propaganda, perekrutan, perencanaan, hingga pendanaan tindak pidana terorisme, yang menargetkan anak muda. Mereka juga mendorong pelibatan perempuan untuk melakukan aksi teror,” kata Boy Rafli, yang bertindak sebagai Co-Chair dalam Pertemuan Aqaba Process – Southeast Asia High Level Tech Meeting, Preventing Terrorist and Violent Extremist Exploitation of the Internet di, Bali belum lama ini.

Menurutnya perlu ada komitmen bersama antara pemerintah, organisasi, entitas internasional, dan perusahan teknologi dalam menghadapi tantangan tersebut.

“Sangat penting menggunakan pendekatan multidisiplin dengan menguatkan kemitraan tidak hanya antar negara namun juga dengan berbagai organisasi internasional dan perusahaan teknologi untuk mengatasi tantangan eksploitasi internet oleh kelompok teroris dan ekstremis kekerasan,” kata dia, seperti dirilis bnpt.go.id.

Kepala BNPT RI menyampaikan permasalahan tersebut dihadapan 16 negara yang hadir dalam forum tingkat tinggi Aqaba Process Regional Asia Tenggara, yang di antaranya; Malaysia, Brunei Darussalam,  Singapura,  Filipina,  Kamboja,  Jepang, India,  Australia, Selandia Baru, Perancis, AS, Inggris, Belanda.

Selain dihadiri negara – negara sahabat, pertemuan ini juga dihadiri perusahaan teknologi seperti Microsoft, Meta, Tik Tok, YouTube, dan Google.

Dalam kesempatan ini, seluruh negara yang terlibat, bersepakat dalam joint communique, mengenai pentingnya peran Global Internet Forum to Counter Terrorism (GIFCT) dan Christchurch Call to Action, yang di antaranya berisi pertukaran informasi, riset dan best practice pencegahan radikalisasi, melalui internet khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Aqaba Process merupakan sebuah inisiatif, yang dibuat oleh King Abdullah II dari Kerajaan Yordania pada tahun 2015.

Melalui forum ini, perwakilan pejabat pemerintah, praktisi teknologi dan masyarakat sipil, dipertemukan untuk meningkatkan koordinasi dalam penanggulangan terorisme, di tingkat global.

Selain itu juga bertukar informasi serta keahlian, dalam upaya penanggulangan terorisme dan ekstremisme online maupun offline, menggunakan pendekatan holistik. (HS-08)

Pakar PBB Sebut Perlakuan Taliban pada Perempuan di Afghanistan Bisa Jadi Kejahatan Kemanusiaan

Bagikan Cokelat, Kapolres Salatiga Sosialisasikan Layanan 110, Lapor Kapolres dan Hotline Polres Salatiga