HALO KENDAL – Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kendal, kasus penyakit demam berdarah di Kabupaten Kendal masih cukup tinggi. Kenaikan angka kasus terjadi dalam kurun waktu tiga bulan. Dimulai pada bulan Oktober 2022 tercatat 56 kasus, yang meninggal dunia enam orang. Kemudian bulan November terdapat 82 kasus, yang meninggal empat orang, dan pada Desember 2022 terdapat 55 kasus, yang meninggal dunia tiga orang.
Sedangkan di bulan Januari 2023, tercatat ada 16 kasus demam berdarah dengan jumlah yang meninggal sebanyak dua orang.
Secara umum kasus demam berdarah selama tahun 2022 terdapat 457 kasus, dengan jumlah meninggal dunia sebanyak 29 orang. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kasus pada tahun 2021, yang hanya terdapat 84 kasus, dengan meninggal dunia satu orang.
Kepala Bidang Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kendal, Siswanto mengatakan, tingginya kasus demam berdarah, karena selama musim hujan banyak genangan air yang merupakan tempat berkembang biak nyamuk Aedes Aegypti sebagai penyebab virus demam berdarah.
Oleh karena masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan, terutama tempat-tempat yang menjadi sarang nyamuk.
“Termasuk bekas tempat cuci tangan ketika terjadi wabah Covid-19 yang terbengkalai dan dibiarkan begitu saja. Ini merupakan tempat bersarangnya nyamuk,” ujar Siswanto, Sabtu (7/1/2023).
Dirinya membenarkan, kasus yang muncul di bulan Januari ini sebanyak 16 kasus, dengan dua kematian. Untuk itu Dinkes meminta masyarakat untuk waspada dan selalu menjaga kebersihan lingkungannya.
Dijelaskan, menjaga lingkungan dengan 3M Plus, yaitu menguras tempat-tempat penampungan air, menutup rapat semua tempat penampungan air, memanfaatkan kembali limbah barang bekas yang bernilai ekonomis (daur ulang). Selain itu juga bisa menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi sarang nyamuk.
“Sehingga diharapkan masyarakat semua tetap waspadai, dengan cara selalu melaksanakan 3M Plus. Khususnya di lingkungan atau rumah sendiri-sendiri,” katanya.
Sementara Plt Kepala Dinas Kesehatan, Parno menegaskan, upaya pencegahan demam berdarah yang paling utama adalah kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Untuk itu, dirinya mengimbau, gerakan pemberantasan nyamuk harus serentak dilakukan oleh masyarakat.
“Kami tegaskan, fogging atau penyemprotan asap itu tidak efektif memberantas nyamuk, karena hanya membunuh nyamuk dewasa, dan bersifat sesaat atau sementara,” tandas Parno.(HS)