Jutaan Orang Sudah Meninggal, Masih Tidak Percaya Covid-19 Bisa Membunuh ?

Capture Laman WHO

 

HALO SEMARANG – Isi pesan dalam sebuah grup WA Goup yang sebagian anggotanya adalah para dokter dan tenaga kesehatan, beberapa waktu lalu, cukup mengejutkan.

Seorang dokter spesialis anak di Kota Semarang, meninggal dan dimakamkan dengan protokol kesehatan.

Dokter SW, warga Kecamatan Tembalang tersebut, dikenal sebagai dokter yang baik. Setiap kali memeriksa pasien, dia selalu ramah dan teliti.

Untuk pelayanannya pun, dia tidak pernah mematok tarif tinggi. Bisa dibilang, tarif yang dikenakannya lebih murah dibanding dokter spesialis anak lainnya.

Bahkan ketika dia hanya bisa memberi resep karena di tempat praktiknya tak tersedia obat yang dibutuhkan, dokter tersebut tidak mau dibayar.

Di luar tempat praktik, dia juga dikenal ramah. Ketika berjumpa di warung, resto, kafe, atau masjid,  dia tak segan menyapa terlebih dulu, terutama pada mantan pasien yang sudah dikenalnya.

“Karena itu ketika mendengar beliau meninggal, kami merasa sangat kehilangan. Kami ikut sedih, ketika mengetahui bahwa beliau meninggal dan dimakamkan dengan protokol kesehatan,” kata Astuti, warga Klipang.

Peristiwa serupa juga menimpa tenaga kesehatan yang bertugas di Puskesmas Mungkid, Kabupaten Magelang.

Pahlawan kesehatan yang gugur tersebut adalah dokter Hermanu Kusomo Widodo (60), gugur akibat Covid-19, beberapa hari lalu.

Dokter fungsional ini menghembuskan nafas terakhir di RSUD Tidar Kota Magelang, Kamis (10/12) pukul 20.00 WIB dan jenazahnya dimakamkan sesuai protokol Covid-19, di pemakaman Karanggayam Mungkid, Jumat (11/12) pukul 09.00 WIB.

“Kami menyatakan ikut berduka cita dan berbela sungkawa atas meninggalnya pejuang Covid-19, pejuang kesehatan. Semoga segala amal ibadah almarhum di terima di sisi Allah SWT,” ucap Juru bicara Satgas Covid-19, Nanda Cahyadi Pribadi.

Dia mengatakan, Pemerintah Daerah dan warga Kabupaten Magelang sangat kehilangan sosok yang baik. Almarhum pernah menjadi Kepala Puskesmas Mungkid, bahkan pernah menjadi dokter teladan tingkat nasional juara I tahun 1997.

Menurut Nanda, dokter Hermanu menjadi nakes pertama di Kabupaten Magelang yang meninggal dunia karena Covid-19. Sebelumnya, ada beberapa tenaga kesehatan yang juga terkonfirmasi Covid-19, namun mereka semua sembuh.

“Sedangkan almarhum memang sudah sakit lebih dahulu,” ungkapnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang, Retno Indriastuti membenarkan, almarhum meninggal dunia karena Covid-19. Almarhum sebelumnya sudah memiliki penyerta atau komorbid. Namun demikian, Retno tidak menjelaskan sakit apa yang diderita oleh almarhum.

Dwi Susetyo, Kasi Surveilen dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang menambahkan, almarhum sebelumnya dirawat di RS Merah Putih sekitar tiga minggu yang lalu. Selama dua hari di rawat di RSMP, almarhum kemudian di pindah ke RSUD Tidar Kota Magelang.

Meninggalnya kedua dokter tersebut, menambah panjang daftar tenaga kesehatan di Indonesia, yang gugur akibat Covid-19.

Berdasarkan catatan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI),  sejak Maret hingga Oktober 2020, terdapat total 253 petugas medis dan kesehatan yang gugur akibat terinfeksi Covid-19. Mereka terdiri atas 141 dokter, 9 dokter gigi, dan 103 perawat.

Sementara itu menurut data dari laman Covid19.go.id per 11 Desember 2020, jumlah kumulatif pasien positif Covid-19 di Indonesia sudah mencapai 605.243 orang. Dari jumlah itu, 496.886 di antaranya sembuh dan 18.511 orang meninggal.

Adapun menurut data WHO, per 11 Desember 2020, sebanyak 69.143.017 orang terkonformasi positif Covid-19. Dari Jumlah itu, 1.576.516 di antaranya meninggal dunia.

Perwakilan Divisi Advokasi dan Hubungan Eksternal Tim Mitigasi PB IDI, Dr Eka Mulyana, menyayangkan sikap sebagian masyarakat yang tidak serius dalam ikut mencegah penyebaran Covid-19.

Bahkan masih ada yang berusaha untuk membuat orang tidak percaya. Mereka bahkan menyebarkan hoaks, dengan mengatakan bahwa Covid-19 adalah tidak nyata atau hasil konspirasi.

Dia menekankan, bahwa virus ini benar-benar ada dan telah menewaskan lebih dari satu juta jiwa di seluruh dunia.

“Kami berharap jangan mengorbankan keselamatan orang lain dengan ketidakpercayaan tersebut,” kata dia.

Pesan senada pernah disampaikan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus. Dia mengatakan tidak ada orang yang kebal pada Covid-19, termasuk anak-anak muda.

“Anda bukan tak terkalahkan (kebal). Virus ini bisa membuat Anda masuk rumah sakit selama berminggu-minggu atau bahkan membunuh Anda. Bahkan jika Anda tidak sakit, pilihan yang Anda ambil tentang ke mana Anda pergi, bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati untuk orang lain,” lanjut dia, seperti dikutip AP.

Dengan fakta semacam ini, sudah seharusnya semua orang, menjadi lebih disiplin untuk mencegah penularan Covid-19. Kalau seandainya orang yang terinfeksi tidak menampakkan gejala, dia masih bisa menularkan kepada orang lain.

Karena itulah bersama-sama untuk mencegah Covid-19 menjadi hal penting. Tetapi jika masih ada yang terus melanggar, apalagi kemudian sampai membuat kerumunan, Polri akan melakukan tindakan tegas dengan mempidanakan para pelaku.

Pernyataan tegas semacam itu telah disampaikan Wakapolri Komjen Gatot Eddy Pramono beberapa waktu lalu. Dia mengatakan Polri akan memproses hukum pelanggar protokol kesehatan, sebagai upaya memutus rantai penyebaran Covid-19.

“Apabila sudah kami ingatkan beberapa kali tidak mau dan tetap melanggar, penerapan UU mau tidak mau, suka tidak suka, akan kami lakukan. Walaupun kita paham bahwa penegakan ini adalah ultimum remedium,” tandasnya. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.