in

Grebeg Kupat dan Festival Balon Meriahkan Peringatan Perpindahan Ibukota Kabupaten Magelang

Prosesi gerebeg kupat yang berlangsung di Lapangan drh Soepardi, Sawitan, ribuan warga berebut 7.000 ketupat yang ada di tujuh gunungan.

HALO MAGELANG – Gerebeg kupat dan festival balon udara meramaikan pesta rakyat yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang mengelar pesta rakyat selama dua hari berturut-turut, Sabtu – Minggu (28-29/3/2026).

Pesta rakyat digelar untuk menyemarakkan peringatan ke-42 perpindahan Ibu Kota Kabupaten Magelang, dari Kota Magelang ke Kota Mungkid.

Pada prosesi gerebeg kupat yang berlangsung di Lapangan drh Soepardi, Sawitan, ribuan warga berebut 7.000 ketupat yang ada di tujuh gunungan. Antusias masyarakat pun cukup tinggi.

Mereka memperebutkan ketupat yang berisi pecahan uang Rp 5.000 hingga Rp 100.000. Bahkan, acara seremoni belum selesai, masyarakat langsung berebut ketupat tersebut.

Bupati Magelang, Grengseng Pamuji mengatakan, Gerebeg Kupat merupakan bentuk kedekatan antara pemerintah daerah dengan masyarakat.

“Sedangkan filosofi kupat mencerminkan hati yang bersih, serta melambangkan kemakmuran, persaudaraan, dan simbol persatuan dalam membangun daerah,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).

Bupati menjelaskan, kegiatan gerebeg kupat yang digelar Pemkab Magelang dengan ribuan ketupat, merupakan kegiatan kedua kalinya, dan pada tahun ini bertambah dibandingkan dengan tahun lalu.

“Di gerebeg kupat tahun 2025 lalu, jumlah gunungan ketupat hanya tiga, sedangkan di tahun ini meningkat menjadi tujuh gunungan,” jelasnya.

Dipaparkan, jumlah tujuh gunungan ketupat yang diperebutkan, melambangkan pertolongan bagi Pemkab Magelang dan masyarakatnya.

Bupati berharap, Pemkab Magelang dalam menjalankan roda pemerintahan selalu mendapat berkah serta pertolongan dan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Tujuh gunungan ini melambangkan pitulungan atau pertolongan, dan pitutur atau ajaran, nasihat, petuah dari Tuhan Yang Maha Kuasa.. Harapannya Pemkab Magelang dalam menjalankan roda pemerintahan selalu mendapat berkah serta pertolongan dan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Kuasa,” ungkapnya.

Sementara Widodo, warga Desa Sukorini, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang mengaku, dirinya hanya mendapatkan uang sebesar Rp 55.000 dari ketupat yang direbut di salah satu gunungan ketupat tersebut.

“Iya ini tadi berebut ketupat, isinya hanya mendapatkan Rp 55 ribu saja. Tapi, Alhamdulillah, karena di gerebeg ketupat tahun lalu saya tidak mendapatkan apa-apa,” ungkapnya.

Setelah, usai gerebeg ketupat, sejumlah kesenian tradisional juga dipentaskan, termasuk pentas wayang orang dari Padepokan Tjipto Boedojo, Desa Tutup Ngisor, Kecamatan Dukun,Kabupaten Magelang.

Sedangkan dalam festival balon udara, Minggu (29/3/2026), ada lima balon yang dibuat dan diterbangkan oleh para pemuda Kalibeber, Kabupaten Wonosobo. Penerbangan balon itu pun mendapat antusias dari warga Kabupaten Magelang dan sekitarnya.

“Kelima balon udara yang diterbangkan ini mengusung tema yang berbeda, mulai dari cerita lokal hingga edukasi. Contohnya, satu balon warna hitam dengan gambar sosok perempuan yang terinspirasi dari cerita rakyat setempat,kemudian balon bergambar Doraemon yang banyak disukai anak-anak,” kata perwakilan komunitas balon asal Kalibeber, Kabupaten Wonosobo Arul Robbiansyah.

Arul menjelaskan, balon-balon yang diterbangkan tersebut mempunyai ukuran bervariasi, mulai dari 12 meter hingga 20 meter. Untuk membuat satu buah balon- udara tersebut memakan waktu dua minggu hinggga satu bulan.

“Biaya yang dikeluarkan berkisar antara Rp 4 juta-Rp 15 juta, tergantung ukuran dan tingkat kerumitannya. Adapun kertas yang digunakan untuk membuat balon berupa kertas dari kulit kayu pohon daulang,” jelasnya.(HS)

Pemkot Semarang Dorong KH Sholeh Darat Jadi Pahlawan Nasional, Usulan Resmi Dikirim ke Provinsi

Penghulu KUA Kajen Nikahkan WNA Turki, Gunakan Bahasa Indonesia dan Gunakan Aplikasi