in

Gara-gara Wangwung, Janur Kelapa Selonsong Ketupat yang Dijual di Blora Didatangkan dari Bojonegoro hingga Kebumen

Warga masyarakat membeli selongsong ketupat, untuk merayakan Lebaran Ketupat di Blora. (Foto : blorakab.go.id)

 

HALO BLORA – Pasar Sido Makmur yang merupakan salah satu pasar tradisional besar di Blora, menjelang lebaran ketupat 1446 Hijriah, dibanjiri penjual janur kelapa, Minggu (6/4/2025).

Janur kelapa itu diburu warga untuk selongsong ketupat dan lepet, dua makanan yang biasa disajikan dalam tradisi kupatan pada H+7 Idulfitri.

Bambang Sulistya, mantan Sekda Blora, yang kini menjabat Ketua Pengurus Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora, saat memantau aktivitas di pasar Sido Makmur Blora, mengatakan janur kelapa itu dipasok dari luar kabupaten Blora, seperti Kabupaten Pati, Kabupaten Bojonegoro, Kabupaten Tuban, bahkan ada yang dari Kabupaten Semarang dan Kabupaten Kebumen.

Pembelinya pun antre, demi untuk mendapatkan selongsong ketupat dan lepet tersebut.

“Baru kali ini orang beli janur untuk bahan selongsong pembuatan ketupat sampai antre,” kata Bambang Sulistya, seperti dirilis blorakab.go.id.

Mereka yang membeli janur dari para bakul musiman tersebut, ada yang langsung dijual lagi, tetapi ada yang dimanfaatkan untuk membuat selongsong ketupat.

Hama Kelapa

Tak hanya antrean yang panjang, minimnya janur asal Blora yang dijual di pasar itu juga mendapat perhatian Bambang.

Menurut dia, banyak janur yang dijual di Pasar Sido Makmur berasal dari daerah lain, lantaran perkebunan kelapa di wilayah itu sedang diserang hama.

Bambang Sulistya menyebutkan, berdasarkan informasi dari Kepala Dinas Pertanian Pangan Peternakan dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora, Ngaliman, bahwa populasi tanaman kalapa di Kabupaten Blora banyak mengalami penurunan, karena mati akibat serangan hama kelapa yang dikenal wangwung atau kumbang kelapa / kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros).

Kumbang ini sangat ganas merusak tanaman kelapa yang menyebabkan tanaman mati.

Keberadaan wangwung tersebut juga berkaitan dengan peternakan sapi. Hal itu lantaran kumbang tanduk tersebut menyukai tempat-tempat kotor, termasuk kotoran ternak sapi.

Di Blora merupakan gudangnya sapi Jawa Tengah, sehingga memberi pengaruh nyata berkembangnya kumbang badak di Kabupaten Blora.

Oleh karena itu penerapan pertanian organik yang dijadikan program andalan kabupaten Blora oleh Bupati Arief Rohman, juga dapat dijadikan untuk upaya mengendalikan wangwung di Kabupaten Blora.

Sementara upaya untuk pengembangan populasi kelapa pada 2025 di Kabupaten Blora akan diperjuangkan untuk mendapatkan bantuan bibit kelapa genjah hibrida dari Dinas teknis Provinsi Jawa Tengah dan akan diikhtiarkan oleh Bupati Blora untuk meminta bantuan CSR dari Pertamina.

Jual Janur

Bakul musiman yang menjual janur kelapa, Sri Mulyani, asal dari Kabupaten Kebumen, menceritakan pekerjaan sebagai penjual janur sudah dijalani lebih dari tiga tahun.

“Lumayan bisa meraup untung bersih dari penjualan janur hampir 40% dari modal yang dibelanjakan,” ucapnya.

Hal senada juga dirasakan oleh Sutiyem. Dia membeli janur yang didatangkan dari luar Kabupaten Blora, untuk kemudian dianyam menjadi selongsong ketupat.

Agak berbeda dengan penjual lainnya, Sutiyem menjual selongsong ketupat yang dibuat dari daun kelapa berwarna hijau.

Dia mengaku dari hasil penjualan selongsong ketupat dan lepet, dia mendapat keuntungan bersih sekitar 30 % dari modal yang dibelanjakan.

Tuntunan Agama

Sementara itu Soedadyo, mantan kepala Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Tramigrasi yang saat ini sebagai Sekretaris Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Blora, mengatakan bahwa Lebaran Ketupat tidak lepas dari tuntunan agama Islam, di mana Nabi Muhammad SAW menganjurkan bagi umat Islam supaya menyempurnakan puasa Ramadan dengan puasa sunah 6 hari dimulai setelah 2 Syawal, karena pahalanya bisa menghapus seseorang untuk untuk satu tahun ke depan.

Lebaran ketupat juga merupakan karya spiritual Sunan Kalijaga dalam pengembangan agama Islam di Jawa.

Lebaran ketupat biasanya dilaksanakan 7 hari setelah lebaran Idulfitri. Masyarakat Jawa yang melaksanakan lebaran ketupat biasanya membuat ketupat, yakni sejenis makan yang dibuat dari beras dimasukkan dalam selongsong anyaman daun kelapa muda (janur) berbentuk kantong persegi empat kemudian dimasak.

Setelah ketupat masak disajikan dengan memberi lauk pauk berupa ikan, telur dan daging serta diberi kuah bersantan.

Masyarakat kemudian membagi bagikan kepada tetangga, kerabat, keluarga terdekat dan orang lebih tua serta tamu yang sedang bersilaturahmi.

Sajian ketupat beserta kelengkapannya tersebut merupakan perlambang kasih sayang dan bentuk empati sesama umat untuk mempererat tali silaturahmi.

Dalam tradisi Jawa semua nama pasti mengandung arti yang dalam.

Mengapa menggunakan daun kelapa muda atau janur karena janur diambil dari bahasa Arab “Ja’anur “ artinya telah datang cahaya, kemudian bentuk fisik ketupat yang segi empat ibarat hati manusia.

Saat orang sudah mengakui kesalahan maka hati, seperti hati yang terbelah pasti isinya putih bersih.

Oleh karena itu hati yang putih bersih tidak dinodai oleh perasaan iri dan dengki karena sudah dibungkus oleh cahaya Ilahi (Ja’anur).

Sementara nama ketupat itu merupakan akronim atau singkatan Ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan).

Prosesi ngaku lepat diimplementasikan dengan tradisi sungkeman, yaitu seorang anak atau orang yang lebih muda bersimpuh memohon maaf kepada orang tua atau orang yang lebih senior.

Dari tradisi itu kita diajarkan supaya menghormati orang tua atau orang yang lebih tua untuk memohon maaf dan meminta bimbingan serta ridhonya karena tua dianggap lebih berpengalaman dalam menjalani kehidupan.

Simbol tradisi sungkeman diwujudkan berupa ketupat. Sebab saat berkunjung ke rumah kerabat atau orang tua akan diberi suguhan ketupat dan diminta untuk dicicipi atau dimakan.

Apabila ketupat itu dimakan maka secara otomatis pintu maaf telah dibuka dan segala kesalahan dan kekhilafan yang pernah terjadi antar keduanya akan terhapus.

Selanjunya untuk laku papat, Sunan Kalijaga menggunakan empat kata atau istilah : Lebaran, Luberan, Leburan dan Laburan.

Lebaran berarti akhir bulan puasa Ramadan dan bersiap menyongsong hari kemenangan Idulfitri (Kembali suci).

Luberan bermakna melebur atau melimpah seperti air yang tumpah karena sudah terisi penuh.

Pesan moral Luberan adalah membudayakan kepyur/berbagi/sedekah kepada orang yang kurang beruntung dan membayar zakat karena itu hak orang miskin serta harus diberikan agar harta kita bersih.

Leburan bermakna habis atau menyatu.Artinya momen lebaran itu untuk melebur dosa terhadap satu dengan yang lain dengan cara meminta maaf dan memberi maaf.

Sehingga dosa kita dengan sesama bisa nol kembali atau bahasa gaulnya Salam Kosong Kosong (SKK).

Laburan dari kata labur atau kapur. Bahan kapur merupakan zat pewarna berwarna putih yang bisa digunakan untuk menjernihkan benda cair.

Dari makna laburan bisa dipahami bahwa hati seorang muslim setelah puasa di bulan Ramadan harus kembali bening, jernih nan putih layaknya kapur dan menjadi motivasi diri supaya dengan semangat gaspol mampu menjaga kesucian lahir dan batinnya.

 

Jalan-jalan ke Kota Blora.

Berkeliling kota naik delman.

Seminggu sudah hari Raya.

Selamat Lebaran ketupat.

Semoga berkah dan bahagia. (HS-08)

Hadiri Hiburan Rakyat di Alun-alun, Wabup Rembang Ajak Perkuat Kebersamaan dan Sinergi

Bahlil dan Wihaji Berjanji Bantu Bangun Sragen