PADA suatu masa yang konon sudah lama berlalu namun entah mengapa terasa sangat dekat, hidup seorang penguasa bernama Kaligula. Ia bukan sekadar kaisar, melainkan pertunjukan berjalan. Kekuasaan baginya bukan alat mengelola negara, melainkan panggung raksasa tempat ego dipertontonkan.
Ia mencintai simbol, ritual, dan gestur kekuasaan sebagaimana orang lain mencintai kebenaran. Maka tak mengherankan bila kuda pun pernah hampir dijadikan pejabat, sebab di bawah tirani, akal sehat hanyalah penonton yang duduk di bangku paling belakang.
Kisah Kaligula sering diajarkan sebagai dongeng sejarah: ekstrem, gila, dan tak relevan. Namun dongeng memang suka menyamar sebagai masa lalu agar bisa bebas berkeliaran di masa kini.
Di banyak sudut pemerintahan daerah, kita mendapati Kaligula-Kaligula kecil yang tak mengenakan toga Romawi, melainkan seragam rapi dan senyum konferensi pers. Mereka mungkin tak mengangkat kuda sebagai pejabat, tetapi tak jarang memelihara loyalis yang fungsinya serupa: patuh, jinak, dan tak banyak bertanya.
Penguasa semacam ini memiliki keyakinan mendalam bahwa dirinya adalah perwujudan kepentingan publik. Apa pun yang ia sentuh otomatis berubah menjadi “demi rakyat”.
Apa pun yang ia perintahkan, meski berbelok tajam dari nalar, segera disulap menjadi kebijakan visioner. Kekuasaan tidak lagi membutuhkan argumen; cukup simbol. Spanduk, jargon, dan seremonial menjadi dupa yang dibakar setiap hari agar rakyat mabuk aroma kepedulian.
Dalam ritual harian kekuasaan itu, ada satu kebiasaan yang sangat dijaga: mencuci tangan.
Bukan sekadar cuci tangan biasa, melainkan cuci tangan simbolik. Di depan kamera, tangan-tangan itu digosok dengan sabun moral, dibilas air transparansi, lalu dikeringkan dengan handuk bernama “sesuai prosedur”.
Setiap kebijakan kontroversial selalu diakhiri dengan kalimat suci: semua sudah melalui mekanisme. Maka jika ada bau busuk, pasti itu berasal dari luar ruangan.
Namun seperti dalam kisah Kaligula, tangan yang tampak bersih sering kali bukan tangan yang bekerja. Ada tangan-tangan lain, tak pernah tampil di podium, yang sibuk mengeruk, mengatur, dan membagi.
Tangan ini lihai bergerak di balik meja, menandatangani tanpa nama, mengambil tanpa terlihat. Jika suatu hari bangunan runtuh, tangan-tangan itu akan menghilang lebih cepat daripada akal sehat dalam rapat darurat.
Agar pertunjukan ini tetap tampak demokratis, Kaligula modern menciptakan musuh. Bukan musuh sungguhan, itu berbahaya, melainkan musuh buatan. Media sosial menjadi arena gladiator paling efektif.
Akun-akun yang tampak garang, kritis, dan seolah oposisi dibiarkan menyalak. Mereka mengumpat kebijakan, memaki simbol, bahkan kadang menghina sang penguasa dengan gaya yang sudah diprediksi.
Publik pun lega: lihat, ada kritik. Padahal seperti pertunjukan di Koloseum, semua sudah diatur agar singa tidak benar-benar menggigit kaisar, atau serangan tak menusuk ke jantung. Serangan dicluster, di tempat yang memang untuk dipertontonkan.
Musuh semu ini justru memperkuat legitimasi. Setiap kritik yang terkendali menjadi bukti bahwa kekuasaan begitu besar hati. Setiap kegaduhan digital diubah menjadi latar dramatis bagi pidato penegasan: “Kami tetap melangkah demi kepentingan rakyat.”
Kaligula dahulu gemar menunjuk musuh imajiner untuk membenarkan kekejamannya; Kaligula hari ini cukup membuka ponsel dan membaca trending topic.
Di tengah semua itu, rakyat berperan sebagai penonton setia dongeng yang berulang. Mereka diajak menyaksikan ritual, percaya pada simbol, dan mengagumi tangan yang tampak bersih.
Jika ada yang mempertanyakan, akan dijawab dengan senyum administratif atau dilabeli pengganggu harmoni atau bahkan tudingan oposisi.
Sejarah, seperti biasa, ditulis ulang dalam versi si pemenang, dengan catatan kaki yang dihapus.
Kaligula jatuh bukan karena ia gila, melainkan karena semua orang di sekitarnya pura-pura waras. Kekuasaan runtuh bukan saat kebohongan diucapkan, tetapi saat kebohongan dirayakan sebagai kewajaran.
Dongeng ini, seperti semua dongeng kekuasaan, sebenarnya menyimpan peringatan seperti halnya cermin buram. Ia memantulkan wajah kekuasaan yang rajin mencuci tangan, namun lupa membersihkan niat.
Terlalu sering mencuci tangan dengan sabun simbolik bisa menimbulkan efek samping: mati rasa nurani, iritasi akal sehat, dan gangguan kronis pada rasa malu.
Pada tahap lanjut, penguasa bisa jatuh sakit, bukan karena virus, melainkan karena terlalu lama hidup dalam ilusi bahwa dirinya kebal terhadap akibat.(Tulisan ini disempurnakan oleh AI-HS)


