in

Dinsos PPPA Blora hingga Polisi Bantu Perempuan Disabilitas yang Dua Kali Jadi Korban Pelecehan Seksual

 

HALO BLORA – Dinas Sosial PPPA Blora dan sejumlah pihak, memberi perhatian khusus kepada FS (21), seorang wanita disabilitas ganda (wicara, rungu dan intelektual), asal Kecamatan Jepon, yang menjadi korban pelecehan seksual hingga hamil dua kali.

Polisi pun berusaha mengungkap pelaku pelecehan tersebut, agar mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinsos PPPA Blora, Indah Purwaningsih, seperti dirilis blorakab.go.id, terkait upaya berbagai pihak untuk membantu FS.

Dia menjelaskan, kehamilan pertama dialami perempuan itu pada 2021, tanpa diketahui ayah biologis si bayi.

Pada tanggal 4 februari 2021 FS melahirkan anak perempuan di RSUD dr R Soetijono Blora, di bawah penanganan dokter Nugroho Adi Warso SpOG.

Waktu itu, dokter spesialis Obstetri Ginekologi tersebut, mendeteksi adanya kelainan pada jantung si bayi, hingga kemudian merujuknya ke RSUP dr Kariadi Semarang, untuk mendapatkan penanganan yang lebih optimal.

Namun disayangkan, 3 bulan kemudian, anak tersebut meninggal setelah mendapatkan perawatan.

Malangnya, FS saat ini kembali kembali hamil, tanpa diketahui siapa ayah dari bayi yang dikandungnya.

FS saat ini juga tengah menghitung hari, untuk menanti kelahiran anak keduanya.

Menurut Indah Purwaningsih, polisi pun saat ini masih terus bekerja keras, untuk menyelidiki dan mengungkap pihak yang bertanggung jawab atas kehamilan FS.

Namun polisi juga menemui kesulitan, karena keterbatasan FS membuat perempuan itu susah untuk diajak berkomunikasi.

Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Intelektual Kartini, Temanggung juga pernah melakukan terapi khusus, untuk mengorek keterangan siapa pelaku yang menghamili FS.

Namun demikian kepastian mengenai sosok pelaku itu pun belum diketahui.

Tahun ini Dinas Sosial PPPA Blora, juga telah menganggarkan dana untuk membiayai test DNA, dalam rangka membantu Polri mengungkap pelaku dibalik kehamilan FS.

Dari sisi kesehatan, menurut dia, Dinas Kesehatan Blora melalui Puskesmas Jepon dan bidan Desa, Wahyu Vera Apriliani, secara rutin memantau kesehatan FS dan janin yang dikandungnya.

Bidan Vera juga memfasilitasi pemeriksaan kandungan ke dr Nugroho Adi Warso Sp OG.

Sementara itu, lanjut Indah, pihaknya juga melakukan kunjungan rutin, serta memasukkan FS dan keluarganya ke daftar DTKS.

Dengan demikian mereka secara kontinyu mendapatkan bantuan, antara lain sembako, nutrisi, susu dan sejumlah pangan lainnya.

Kementerian Sosial RI melalui Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Mental (BRSPDM) “Margo Laras” Pati, juga memberikan bantuan kambing dan pemeriksaan kehamilan mulai usia kehamilan FS menginjak 7 bulan.

LSM Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel Indonesia, juga berinteraksi dengan FS untuk menyemangati perempuan itu.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Blora, Ainia Shalichah beserta Pokja 1 juga beberapa kali terlihat mengunjungi kediaman FS.

Diharapkan, awal tahun 2023 menjadi harapan yang cerah untuk mengungkap siapa pelaku yang menghamili FS.

Sangat diharapkan, berbagai pihak dituntut tetap konsisten dalam pengungkapan kasusnya.

Tidak hanya sekedar menyalahkan dan mencari kambing hitam atas tidak kunjung terungkapnya kasus ini. (HS-08).

Pemkab Rembang Perjuangkan Jaringan Listrik Murah Bagi Ratusan Keluarga Miskin

Sepanjang 50 Meter Jalan di Sendangguwo Semarang Ambles Satu Meter