ASAP tipis mengepul dari deretan panci besar di Gedung Aswaja, Kota Pekalongan. Sejak pagi buta, tangan-tangan relawan bergerak cepat: mengaduk nasi, memotong sayur, membungkus lauk, lalu menyusunnya rapi ke dalam boks makanan. Di luar, air banjir masih menggenang. Di dalam dapur umum, waktu berjalan tanpa jeda.
Di balik terpenuhinya kebutuhan makan ribuan warga terdampak banjir di Kota Pekalongan, ada kerja senyap para relawan yang nyaris tak pernah disorot kamera. Sejak air merendam permukiman, mereka turun tanpa banyak bicara, mengelola dapur umum, menghimpun bantuan, hingga memastikan makanan tiba di tangan para pengungsi.
Relawan dari Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU), Ulil Albab, menyebut dapur umum yang dikelola bersama mampu memproduksi ribuan porsi setiap hari.
“Sehari sekitar 2.000 porsi. Kami guyub, dari LPBINU, Lazisnu, dan lembaga lain saling bantu. Bahan datang dari masyarakat, tenaga dari relawan,” ujar Ulil di Posko NU Peduli Bencana Kota Pekalongan, Senin (19/1/2026).
Bagi para relawan, dapur umum bukan sekadar tempat memasak. Di sanalah logistik dihitung, rute distribusi diatur, dan informasi kondisi lapangan dibagi. Ulil mengatakan, dapur akan terus beroperasi sampai situasi benar-benar pulih.
“Selama masih ada warga yang butuh makan, dapur ini jalan terus. Banjir belum surut, kami belum berhenti,” katanya singkat.
Kerja kolektif para relawan ini mendapat perhatian langsung dari Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, yang meninjau posko dan dapur umum. Ia menilai koordinasi menjadi kunci agar bantuan tepat sasaran.
“Mereka sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial. Jadi distribusi logistik dan makanan tidak tumpang tindih. Ini penting agar bantuan benar-benar sampai ke yang membutuhkan,” ujar Taj Yasin.
Wagub juga menyoroti kemampuan relawan menjangkau wilayah yang sulit diakses kendaraan.
“Mereka punya jaringan relawan sampai ke titik-titik yang tidak bisa dijangkau. Kemarin ada 3.000 porsi, hari ini 2.000 porsi. Itu kerja yang tidak ringan,” tuturnya.
Di tengah keterbatasan akibat banjir, dapur umum yang terkelola rapi menjadi penopang utama kehidupan pengungsi. Makanan hangat yang datang tepat waktu bukan sekadar pengisi perut, tetapi penanda bahwa mereka tidak sendirian menghadapi bencana.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah turut menyalurkan bantuan senilai Rp169,7 juta. Bantuan tersebut meliputi logistik, paket kebutuhan dasar, makanan dan nonmakanan, satu ton beras, serta obat-obatan untuk warga terdampak.
Berdasarkan data BPBD Kota Pekalongan per Senin (19/1/2026) pukul 09.00 WIB, banjir berdampak pada 8.692 kepala keluarga yang tersebar di empat kecamatan. Sementara itu, 2.400 warga terpaksa mengungsi dan menempati 24 posko pengungsian.
Di tengah angka dan data itu, dapur umum terus mengepul. Panci kembali diisi, nasi kembali ditanak. Selama air belum benar-benar pergi, relawan-relawan ini memilih tetap tinggal—menjaga agar satu kebutuhan paling dasar, makan, tak pernah terputus.(HS)


