AIR laut mulai menggenangi jalan yang dulu menjadi permukiman warga. Tidak ada suara kendaraan, tidak ada aktivitas anak-anak bermain di halaman rumah. Yang tersisa hanya hamparan genangan air dan bangunan-bangunan kosong yang perlahan ditinggalkan penghuninya.
Di tengah lanskap yang nyaris berubah menjadi lautan kecil itu, berdiri sebuah rumah sederhana yang masih berpenghuni.
Rumah tersebut milik Siti Rokhanah, warga RT 05 RW 01 Kelurahan Balok, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal. Di tengah kepungan banjir rob yang terus datang dari tahun ke tahun, ia memilih bertahan bersama putranya, Sesdri Atmoko.
Kondisi itulah yang mengundang perhatian Kapolres Kendal, AKBP Hendry Susanto Sianipar. Senin (15/6/2026), ia bersama rombongan mendatangi langsung rumah Siti dalam rangka kegiatan Bakti Sosial Kapolres Kendal Peduli untuk memperingati Hari Bhayangkara ke-80.
Namun perjalanan menuju rumah tersebut tidak mudah.
Kapolres bersama Kapolsek Kendal IPTU Sanhaji, anggota Polres dan Polsek Kendal, Taruna Akpol tingkat I, serta perangkat Kelurahan Balok harus berjalan kaki menembus genangan rob sejauh kurang lebih dua kilometer. Langkah demi langkah mereka menyusuri kawasan yang kini sebagian besar telah ditinggalkan penghuninya karena tak lagi layak dihuni.
Semakin mendekati lokasi, pemandangan yang terlihat semakin menyentuh. Rumah-rumah kosong berdiri sunyi di tengah genangan. Sebagian rusak dimakan air asin, sebagian lain hanya menyisakan dinding dan rangka bangunan.
Di antara semua itu, rumah Siti menjadi satu-satunya yang masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Sesampainya di lokasi, AKBP Hendry menyerahkan bantuan berupa 50 kilogram beras dan lima kardus mi instan untuk membantu kebutuhan sehari-hari keluarga tersebut.
Namun lebih dari sekadar bantuan logistik, kedatangan Kapolres menjadi bentuk perhatian kepada warga yang selama ini hidup dalam keterbatasan akibat bencana rob yang tak kunjung usai.
“Kita dalam rangka HUT Bhayangkara ingin berbagi dan membantu warga yang membutuhkan, salah satunya Ibu Siti Rokhanah yang tinggal di rumah yang terendam rob dan terjebak,” ujar Hendry.
Di teras rumah yang dikelilingi genangan air, Kapolres kemudian berbincang langsung dengan Siti Rokhanah. Ia ingin mendengar sendiri bagaimana kehidupan sehari-hari perempuan yang selama bertahun-tahun bertahan di kawasan yang kini nyaris tak lagi berpenghuni itu.
“Polri tidak hanya hadir untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, tetapi juga berupaya membantu warga yang mengalami kesulitan akibat bencana maupun kondisi sosial lainnya,” katanya.
Bagi Siti, rumah itu menyimpan begitu banyak kenangan. Ia menempatinya sejak 2006 bersama putranya.
Saat pertama kali datang, kawasan tersebut masih berupa daratan yang subur. Pepohonan tumbuh di sekitar rumah, tetangga hidup berdampingan, dan tidak ada yang membayangkan suatu hari air laut akan mengambil alih hampir seluruh wilayah itu.
“Saya tinggal di sini sejak tahun 2006. Dulunya tidak banjir, tanaman juga banyak tumbuh subur di sekitar rumah. Tapi beberapa tahun terakhir, banjir rob terus naik dan sudah menggenangi seluruh wilayah sekitar rumah,” tutur Siti.
Perlahan, air mulai datang lebih sering. Genangan yang awalnya hanya sesekali muncul berubah menjadi ancaman permanen. Rumah-rumah warga satu per satu ditinggalkan. Sebagian pemilik memilih pindah, sebagian lagi tak mampu lagi mempertahankan bangunannya yang rusak diterjang air asin.
Kini, Siti menjadi saksi hidup perubahan drastis yang terjadi di kawasan pesisir tersebut.
Meski hidup di tengah genangan yang tak pernah benar-benar surut, ia tetap bertahan. Bukan karena nyaman, melainkan karena belum memiliki tempat lain untuk dituju.
Kondisi itu membuat berbagai pihak berupaya mencari solusi.
Kapolres Kendal mengungkapkan bahwa Pemerintah Kabupaten Kendal sedang mengusahakan relokasi bagi Siti Rokhanah ke lokasi yang lebih aman. Namun karena proses tersebut membutuhkan waktu, ia berharap langkah sementara bisa segera diwujudkan.
“Kalau menunggu relokasi dilakukan butuh waktu. Kita ingin dalam dua pekan ini sudah bisa pindah. Minimal kita akan carikan rumah kontrakan terlebih dahulu agar lebih layak untuk aktivitas sehari-hari,” ungkap Hendry.
Sementara itu, Pemerintah Kelurahan Balok terus mencari lahan yang memungkinkan untuk dijadikan lokasi relokasi. Dukungan juga datang dari Baznas yang telah menyiapkan bantuan untuk pembangunan rumah baru bagi Siti.
Harapan itu kini menjadi cahaya baru bagi perempuan yang selama bertahun-tahun hidup berdampingan dengan air laut.
Di tengah genangan rob yang mengelilingi rumahnya, Siti masih menunggu. Menunggu hari ketika ia dan putranya bisa kembali tinggal di tempat yang aman, tanpa harus khawatir air laut masuk ke halaman setiap saat.
Dan sore itu, ketika rombongan Kapolres berjalan kembali meninggalkan lokasi, rumah kecil yang berdiri sendirian di tengah kepungan rob itu seakan mengingatkan bahwa di balik data bencana dan laporan kerusakan, selalu ada kisah manusia yang sedang berjuang untuk bertahan hidup.(HS)

