in

BPBD Kota Semarang: Tiap Lokasi Titik Rawan Luapan Banjir Perlu Dipasang EWS

Alat pemantau banjir melalui Closed Circuit Television (CCTV) dan sensor deteksi banjir Early Warning System (EWS) milik BPBD Kota Semarang terpasang di Sungai Plumbon, Mangkang Kulon.

HALO SEMARANG – Memasuki masa Pancaroba atau musim transisi dari musim kemarau ke musim hujan, BPBD Kota Semarang memerlukan sistem pendeteksi bencana banjir atau Early Warning System (EWS) terutama di lokasi titik rawan terjadinya luapan banjir di Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kota Semarang. Sebab, kegunaan EWS berfungsi untuk meminimalisir adanya korban jiwa maupun kerugian materi dampak dari bencana banjir.

Kepala BPBD Kota Semarang, Endro P Martanto menjelaskan, saat ini total EWS yang terpasang berjumlah 18 EWS, yang tersebar di antara hulu dan hilir sungai di Kota Semarang yang berfungsi untuk memantau jika terjadi kenaikan debit air yang signifikan. Terutama di lokasi atau titik yang memang perlu dipasang alat EWS, seperti sungai- sungai yang berbatasan dengan perumahan warga maupun sungai yang berpotensi meluap sangat tinggi. Seperti wilayah DAS di antaranya Kali Sringin, Pudakpayung, Bendung Kali Plumbon, Banjir Kanal Timur (BKT).

“Di tempat titik rawan sudah kita cukupi, walaupun berbicara kebutuhan ya, memang itu disemua sungai yang berpotensi ada luapan banjir itu perlu untuk dipasang EWS. Tapi untuk sementara ini dan mudah-mudahan cukup untuk sebagai peringatan dini kepada masyarakat dan mitigasi evakuasi warga yang bertempat tinggal di dekat lokasi saat banjir datang,” papar Endro, Jumat (4/10/2024).

Antisipasi lainnya yang tak kalah penting, kata Endro, yang tidak lama lagi masuk musim hujan, Pemkot Semarang telah gencar melakukan pengerukan saluran yang mampet, dan pengangkatan sedimen lumpur untuk menghadapi musim hujan yang berpotensi terjadi banjir.

“Selain, peralatan EWS sebagai upaya mitigasi bencana banjir maupun tanah longsor, penting juga agar masyarakat memiliki pengetahuan dan wawasan tanggap bencana di lingkungannya masing-masing,” imbuhnya.

Sedangkan, untuk penambahan EWS, lanjut Endro, akan ada tiga rencana pemasangan perangkat EWS baru sampai akhir tahun 2024, yaitu di Masjid Baitul Mutaqin Perumahan Wahyu Utomo, Kali Babon Hulu Meteseh, dan Bendung Pucang Gading (BKT) hulu.

Sebelumnya, dari BMKG telah mengeluarkan imbauan untuk waspada dan siap siaga terhadap cuaca ekstrem pada awal sampai pertengahan bulan Oktober di wilayah Jawa Tengah karena telah memasuki musim transisi dari musim kemarau ke musim hujan atau disebut masa Pancaroba. Dimana, pada bulan Oktober ini posisi semu matahari yang mulai bergeser dari Belahan Bumi Utara (BBU) ke Belahan Bumi Selatan (BBS) mengakibatkan wilayah di selatan khatulistiwa seperti di Jateng memasuki musim transisi dari musim kemarau ke musim hujan.

“Pada masa transisi ini, kondisi atmosfer cenderung labil sehingga berpotensi terjadi awan colomunimbus (Cb) yang dapat memicu terjadinya cuaca ekstrem, seperti kilat/petir, angin kencang, puting beliung, hujan lebat dan hujan es (hail),” kata Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo. (HS-06)

Pemeluk Hindu di Semarang Titipkan Pesan Perda Kerukunan Umat Beragama, Yoyok-Joss Siap Tindaklanjuti

Pj Gubernur Jateng Serahkan Tali Asih Peraih Medali PON XXI Senilai Rp 60,6 Miliar