HALO SEMARANG – Casey Stoner, eks dua kali juara dunia MotoGP, menyatakan tak tertarik dengan format sesi Sprint yang diterapkan Dorna Sports mulai musim 2023.
Sprint di satu sisi memang mendatangkan sejumlah keuntungan karena dapat menambah daya tarik penggemar.
Selain itu, persaingan jadi bertambah menarik.
Dari sisi pembalap, pundi-pundi poin yang didapat dari Sprint bisa membantu dalam upaya memperbaiki posisi dalam klasemen.
Namun, menurut Stoner, jika membandingkan keuntungan dan kerugiannya, justru lebih banyak bencana.
Penambahan sesi Sprint membuat risiko kecelakaan yang dialami pembalap meningkat.
Selalu saja ada pembalap yang absen karena cedera.
Belum lagi tingkat stres pembalap lantaran harus membagi waktu dengan kualifikasi.
Mekanik dan segenap kru setiap tim juga menjadi lebih sibuk menyusul beberapa seri balapan ada yang digelar dalam tiga minggu beruntun.
’’MotoGP memang berusaha untuk semakin meniru Formula 1,’’ tutur Stoner seperti dilansir dari GPOne.
Hanya, lanjut dia, Formula 1 (F1) menerapkan format Sprint beberapa seri saja, tidak seluruh seri seperti yang diterapkan MotoGP.
’’Sprint tak perlu dilakukan karena MotoGP motornya kencang,’’ tegasnya.
Stoner (38) berharap format balapan MotoGP akan dievaluasi lagi seperti semula.
’’Lebih baik, balapan di Race saja. Dengan begitu semua pembalap akan lengkap di sadel setiap balapan akhir pekan,’’ papar pria asal Australia ini.
MotoGP 2024 bakal menggelar 22 seri balapan di 22 sirkuit.
Dengan adanya Sprint, otomatis para pembalap juga akan menjalani 44 kali balapan jika mengkombinasikan Sprint pada Sabtu, dan Race (Minggu). (HS-06)