HALO KENDAL – Untuk membekali karyawan dan karyawati yang kompeten, Manajemen RSUD Dr Soewondo memberikan pelatihan khusus yaitu In House Training Bantuan Hidup Dasar (IHT BHD), pada 23 Agustus – 27 September 2022.
Acara diikuti 865 karyawan dan karyawati RSUD Dr Soewondo, baik medis maupun non medis, yang dibagi dalam dua gelombang per hari. Setiap gelombang diikuti 30 peserta.
Sementara untuk hari ini, Selasa (23/8), peserta yang mengikuti dari bagian non medis, baik security maupun cleaning service.
Acara dibuka oleh Wakil Direktur RSUD Dr Soewondo Kendal, dr Mastutik. Dalam sambutannya ia mengatakan, In House Training ini bertujuan mempertahankan kehidupan saat penderita mengalami keadaan yang mengancam nyawa. Tindakan BHD diharapkan dapat membekali peserta jika mengalami situasi gawat darurat.
Sehingga semua tenaga kesehatan maupun non kesehatan yang bertugas di RSUD Dr Soewondo harus punya kemampuan dalam bantuan hidup dasar ini.
“Kami berharap semua peserta dapat memanfaatkan momentum ini sebaik-baiknya dan mengaplikasikan pada kondisi-kondisi tertentu yang memerlukan penanganan darurat,” ujarnya, Selasa (23/8/2022).
Wakil Direktur kemudian secara simbolis membuka acara In House Training Bantuan Hidup Dasar RSUD Dr Soewondo Kendal.
Sementara Ketua Panitia Pelaksana kegiatan, dr Ridzki H mengatakan, sebagai petugas yang bertugas di lingkungan kesehatan tentunya sering dihadapkan pada kondisi gawat darurat.
Salah satunya adalah kondisi dimana seseorang tidak sadarkan diri atau bisa juga sesak nafas.
“Sehingga orang tersebut perlu penanganan secara cepat dan tepat. Salah satu penanganan pertama dalam kondisi tersebut adalah dengan Bantuan Hidup Dasar atau melakukan Resusitasi Jantung Paru,” terang dokter Spesialis Anestesi di RSUD Dr Soewondo Kendal tersebut.
Dijelaskan, Bantuan Hidup Dasar atau basic life support merupakan upaya mengembalikan fungsi jantung dan paru yang berhenti bekerja saat penderita atau korban mengalami keadaan yang mengancam nyawa.
“Jadi Bantuan Hidup Dasar ini sebagai pertolongan pertama untuk memberikan oksigen kepada otak, jantung dan organ vital lainnya, sampai datang petugas medik yang dapat menangani masalah tersebut,” jelas Ridzki.
Sementara itu, Seksi Ilmiah Training BHD, Teguh Nugroho selaku perawat di RSUD Dr Soewondo dalam pemaparannya menyampaikan terkait bantuan pertama apabila menemui pasien atau masyarakat yang memerlukan penanganan darurat.
Dijelaskan, bantuan hidup dasar merupakan serangkaian usaha untuk mengembalikan fungsi atau sirkulasi pernapasan pada seseorang yang mengalami henti jantung, gangguan pernapasan, henti napas, atau sumbatan jalan napas.
“Bantuan hidup dasar perlu segera dilakukan pada orang yang tidak sadar dan tidak bernapas. Sebab, kerusakan otak permanen hingga kematian dapat terjadi dalam jangka waktu empat samlai sepuluh menit setelah pasokan oksigen terputus,” jelasnya.
Jika menemui orang yang tidak sadarkan diri dan tidak bernapas karena tersedak, tenggelam, kecelakaan, syok, keracunan, atau mengalami serangan jantung, bisa dilakukan bantuan hidup dasar berupa resusitasi jantung paru.
Teguh memaparkan, langkah-langkah melakukan bantuan hidup dasar berupa resusitasi jantung paru, yakni yang pertama, memastikan penolong dan korban berada dalam posisi yang aman.
“Jangan sampai membahayakan diri sendiri atau orang lain saat hendak menolong menggunakan bantuan hidup dasar,” tandasnya.
Kemudian memeriksa respons atau kesadaran korban dengan mencoba membangunkannya. Bisa dengan cara menepuk atau meremas pundak korban, juga menggoyangkan tubuhnya, atau memanggil korban dengan suara keras.
Selain itu, penolong bisa membaringkan korban dalam posisi telentang di atas permukaan yang datar atau rata. Jika korban kemungkinan mengalami cedera tulang belakang, baringkan korban dengan hati-hati tanpa menggerakkan kepala atau lehernya.
Kemudian periksa mulut dan tenggorokan korban. Singkirkan sumbatan yang terlihat jelas di mulut atau hidungnya, seperti muntah, darah, makanan, atau gigi.
Setelah itu, dongakkan atau tengadahkan kepala korban pelan-pelan dan angkat dagunya untuk membuka jalan napas dan memeriksa apakah dia bernapas.
Jika korban tidak bernapas setelah sepuluh detik, mulailah melakukan resusitasi jantung paru.
“Jika korban tidak sadar atau tidak memberikan respon dalam waktu lima detik, segera hubungi ambulans atau minta orang di sekitar untuk menelepon ambulans,” imbuh Teguh.
Bantuan hidup dasar sangat penting untuk segera diberikan pada orang yang tidak sadar dan tidak bernapas. Oleh karena itu, tidak ada salahnya membekali diri dengan belajar cara melakukan manuver Heimlich dan CPR.
“Keterampilan tersebut bisa saja berguna untuk menyelamatkan nyawa orang saat panjenengan semua dihadapkan pada situasi darurat sebelum mendapatkan pertolongan lebih lanjut dari dokter,” ujar Teguh. (HS-06)