HALO SEMARANG – Badan Geologi Kementerian ESDM, mencatat gempa Garut dengan kekuatan magnitudo 6,2, terjadi akibat aktivitas penunjaman subduksi, atau dapat disebut juga gempa bumi intra-slab, dengan mekanisme sesar naik.
Hal itu disampaikan Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid, Sabtu (28/4/2024) terkait gempa Cianjur.
Pendapat Muhammad Wafid tersebut, didasarkan pada posisi lokasi pusat gempa bumi, kedalaman, dan data mekanisme sumber dari BMKG, USGS Amerika Serikat, dan GFZ Jerman.
Gempa bumi intraslab juga sudah berkali-kali terjadi di Jawa Barat, yakni pada 1979, 2007, 2017, 2022, dan 2023.
Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, mengikuti arahan/ informasi dari petugas BPBD setempat, tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, meski kejadian gempa bumi ini diperkirakan tidak berpotensi mengakibatkan terjadinya bahaya ikutan (collateral hazard) berupa retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi.
“Oleh karena wilayah di daerah pesisir Jawa Barat Selatan tergolong rawan gempa bumi dan tsunami, maka harus ditingkatkan upaya mitigasi melalui mitigasi struktural dan non struktural. Bangunan di daerah Jawa Barat Selatan harus dibangun menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi guna menghindari dari risiko kerusakan dengan dilengkapi dengan jalur dan tempat evakuasi,” kata Wafid.
Sementara itu Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari dalam keterangannya, Minggu (28/4/2024, menyebutkan BPBD Kabupaten Sumedang bersama instansi terkait, telah mendirikan tenda pengungsian, di halaman parkir RS Sumedang.
Pendirian tenda pengungsian di halaman parkir RS Sumedang itu, dilakukan untuk mengantisipasi gempa susulan.
Deformasi Batuan
Pendapat senada disampaikan Kepala Pusat Gempa bumi dan Tsunami BMKG, Daryono.
Dalam keterangan tertulisnya, Daryono mengatakan dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi menengah.
Gempa ini akibat aktivitas deformasi batuan dalam lempeng Indo-Australia yang tersubduksi di bawah lempeng Eurasia di selatan Jawa Barat atau populer disebut sebagai gempa dalam lempeng (intra-slab earthquake).
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan naik (thrust Fault),” kata Daryono, Minggu (28/4/2024).
Gempa bumi ini berdampak dan dirasakan di daerah Sukabumi dan Tasikmalaya dengan skala intensitas IV MMI (Bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah).
Kemudian di daerah Bandung dan Garut dengan skala intensitas III-IV MMI (Bila pada siang hari dirasakan oleh orang banyak dalam rumah).
Dirasakan juga di daerah Tangerang, Tangsel, Bogor, DKI Jakarta, Kebumen, Banyumas, Cilacap dan Purwokerto dengan skala intensitas III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan akan truk berlalu).
Dirasakan juga di daerah Bantul, Sleman, Kulonprogo, Trenggalek, Malang dengan skala intensitas II MMI (Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang). (HS-08)