in

Atdikbud KBRI Tokyo Tekankan Urgensi Pendidikan Agama dan Penguasaan Bahasa Indonesia bagi Diaspora Indonesia di Jepang

Pertemuan di KBRI Tokyo. (Foto : kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo, Amzul Rifin menekankan urgensi reorientasi program pengabdian masyarakat, bagi perguruan tinggi Indonesia, termasuk Perguruan Tinggi Keagamaan, yang ingin menyasar komunitas Muslim di Jepang.

Hal ini disampaikan Amzul Rifin, saat menerima kunjungan Ketua Dompet Dhuafa Japan Firman Wahyudi, Mohammad Ikhwanuddin (Ketua Prodi Hukum Keluarga, Fakultas Studi Islam dan Peradaban Universitas Muhammadiyah Surakarta, Shohibul Mujtaba (Direktur Pusat Studi Al-Qur’an dan Sirah Nabawiyah, Unida Gontor) dan Abd Rahim Dani (Dosen Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir PTIQ, Jakarta), di Kantor KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia), Tokyo-Jepang, baru-baru ini.

Dalam pertemuan itu, Amzul menyoroti bahwa kebutuhan mendesak diaspora saat ini adalah penguatan identitas melalui pendidikan agama dan penguasaan Bahasa Indonesia.

Menjaga Identitas

Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi diaspora Indonesia di Jepang, khususnya generasi kedua dan ketiga, adalah terkikisnya kemampuan berbahasa ibu.

Amzul mengungkapkan bahwa banyak anak diaspora yang lebih fasih berkomunikasi dalam bahasa Jepang, bahkan saat berada di lingkungan sesama warga Indonesia.

“Di Jepang ini, pembelajaran penting yang perlu dijadikan proyek pengabdian masyarakat adalah tentang Bahasa Indonesia dan Pancasila,” kata Amzul.

Hal ini diperkuat oleh temuan Mohammad Ikhwanuddin, saat mengunjungi komunitas Muslim di Chiba dan Tokyo.

Ia mendapati fenomena di mana anak-anak Indonesia yang bersekolah di sekolah lokal Jepang, secara otomatis menjadikan bahasa Jepang sebagai bahasa pergaulan utama, sehingga pendampingan intensif Bahasa Indonesia menjadi krusial agar mereka tidak kehilangan akar nasionalismenya.

Selain aspek bahasa, aspek pendidikan agama menjadi pilar kedua yang sangat dinantikan.

Dengan jumlah diaspora Indonesia yang mencapai 230.000 jiwa, di mana lebih dari 80 persennya adalah Muslim permintaan terhadap akses pendidikan Islam yang berkualitas sangatlah tinggi.

Amzul menekankan bahwa pengabdian masyarakat ke depan harus mulai fokus pada dua hal.

Pertama, Pendidikan Islam Dasar yang emberikan pemahaman tauhid dan akhlak yang kokoh bagi anak-anak di perantauan.

Kedua, Tahsin Al-Qur’an yang membantu komunitas dalam memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an secara tartil dan benar.

“Kebutuhan akan pelajaran agama Islam dasar, juga tahsin al-Qur’an, menjadi hal yang sangat dinantikan oleh diaspora Muslim Indonesia di Jepang,” tambahnya.

Peluang Kerja Sama

Meskipun KBRI Tokyo menerima banyak tawaran kerja sama (MoU) dari berbagai PTN, PTKIN, dan PTKIS, Amzul mengingatkan agar program-program tersebut tidak sekadar formalitas.

Ia mendorong akademisi dan lembaga sosial untuk merancang program yang memiliki kebermanfaatan berkelanjutan (sustainable benefit).

Ke depan, KBRI Tokyo membuka peluang luas bagi kemitraan yang spesifik menangani tiga poin utama: Penguatan Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila, serta Pemahaman Dasar Islam.

Langkah ini diharapkan dapat mempererat pembinaan komunitas sekaligus memastikan generasi muda Indonesia di Jepang tetap memiliki karakter religius dan nasionalis yang kuat. (HS-08)

 

 

Kapolres Karanganyar Turun Langsung Lakukan Patroli dan Bantu Masyarakat Nikmati Libur Lebaran

Libur Lebaran Selesai, Gubernur Jateng Minta ASN Tak Kendur Layani Masyarakat