HALO BLORA – Pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora, menggelar Forum Temu Kemitraan (FTK) dengan Pabrik Gula Rendeng Kudus, di Todanan Blora, baru-baru ini.
Acara itu dihadiri General Manager (GM) Pabrik Gula (PG) Rendeng Kudus, Erwin, serta sebagian pengurus APTRI Kabupaten Blora, dan perwakilan petani tebu yang 80 persen kemarin ikut nglurug ke Jakarta.
Ketua APTRI Kabupaten Blora, Sunoto, menjelaskan, diselenggarakan FTK ini sebagai upaya antisipasi dan mencari solusi, seandainya masa giling 2026 Pabrik Gula PT GMM Bulog yang sudah direncanakan tidak sesuai dengan kenyataan.
“Walaupun kemarin pada Rabu 28 Januari 2026 Direktur operasional Krisna Murtiyanto telah mengatakan di depan para pengurus APTRI dan perwakilan petani tebu, menjamin bahwa 99 persen pabrik gula PT GMM Bulog akan giling tebu 2026 pada awal bulan Juni 2026 dan tidak akan terlambat. Namun janji itu belum dapat meyakinkan kepada para pengurus APTRI dan para petani tebu,” kata dia.
Karena faktanya sampai saat ini di Pabrik Gula PT. GMM Bulog masih sepi belum ada tanda-tanda persiapan untuk melakukan renovasi berat mengganti dua boiler yang rusak berat dengan boiler baru yang membutuhkan waktu minimal empat bulan.
“Apalagi saat ini para petani tebu masih trauma karena bencana berhentinya giling tebu 2025 secara sepihak oleh pihak managemen PT GMM Bulog yang menyebakan ribuan hektare tanaman tebu petani belum tertebang. Bahkan sampai saat ini masih banyak tanaman tebu petani yang tidak tertebang dan harus menanggung hutang semakin bertambah besar,” kata dia, seperti dirilis blorkab.go.id.
Sunoto menegaskan pada masa giling tebu 2026 tidak boleh terulang lagi, nasib petani tebu makin terpuruk dan mengalami kerugian lagi.
“Kalau pabrik gula rugi para pegawainya masih mendapatkan bayaran tetapi kalau para petani tebu mengalami kerugian siapa yang akan membayar kerugian tersebut ?” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris APTRI Blora, Anton Sudibdyo menambahkan bahwa selama ini para petani tebu selalu dijadikan korban oleh kebijakan yang di terapkan pihak managemen PT.GMM Bulog.
Sehingga diperlukan adanya reformasi total di internal PTGMM Bulog.Supaya masa kejayaan masa lalu pabrik gula GMM yang dulu menjadi panutan pengelolaan pergulaan di tingkat nasional hadir kembali.
Selain tata kelola, kata Anton, juga renovasi pabrik gula harus segera diwujudkan.
“Saat ini para petani tebu masih sabar dan loyal akan janji-janji para pengambil kebijakan. Namun kalau segala janji hanya tinggal janji maka diawal bulan Februari 2026 kami akan wadul ke Jakarta lagi untuk mencari solusi,” tegas Anton.
Dalam kesempatan itu, GM pabrik gula Rendeng Kudus, Irwin menyampaikan informasinya yang bisa memberi harapan dan spirit kepada para petani tebu.
Pihak managemen pabrik gula Rendeng Kudus menjamin bahwa pelaksanaan awal giling 2026 akan dilaksanakan bulan Mei 2026.
Pabrik gula juga akan memberi subsidi angkutan Rp5.000/ton dan sistem penangan produk tebu saat panen yang dilaksanakan dengan sistem bagi hasil 70:30 persen dan sistem pembelian tebu putus.
Di samping itu pihak managemen pabrik gula Rendeng Kudus akan memberikan dana pinjaman lunak dengan bunga khusus.
Bagi petani tebu yang pinjam Rp100 juta tidak pakai agunan. Pinjaman lunak masing-masing petani tebu maksimal Rp500 juta dengan memakai agunan.
Para petani tebu diberi peluang untuk mendapat bantuan program pengembangan tebu dari pemerintah.
Selanjutnya, bagi para petani tebu yang sampai saat ini belum tertebang akan diberi peluang untuk mendapat jatah giling tebu awal.
Pertemuan FTK berlangsung penuh semangat K3 (kekeluargaan, kekompakan dan kegembiraan). Pertemuan diakhiri makan bersama menu istimewa. (HS-08)


