HALO BATANG – Tradisi lomba dayung menggunakan perahu naga, yang digelar warga Desa Klidang Lor, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang setiap Syawal, rupanya ditangkap oleh Eko Sulistiyo, warga Kelurahan Karangasem Utara, sebagai peluang untuk memperoleh tambahan penghasilan.
Ketika event tahunan yang sudah ada sejak 1977 itu digelar, penonton yang berdatangan dari berbagai daerah, menjadi pasar bagi warga Dukuh Sulur itu, untuk memasarkan hasil karyanya berupa miniatur perahu naga.
“Berawal dari mencoba membuat sendiri meskipun belum bagus saat itu, tapi memberanikan diri membuat miniatur perahu naga,” kata dia, seperti dirilis batangkab.go.id, Sabtu (14/1/2023),
Untuk promosi, dia juga melakukan melalui media sosial. “Ternyata responnya bagus dan laku keras,” kata dia.
Pada tradisi lomba dayung tradisional tahun 2022, dia berhasil memasarkan produknya hingga 100 unit.
“Harga miniatur perahu naga tergolong murah. Dari mulai ukuran kecil dijual dengan harga Rp 70.000 hingga ukuran besar dijual dengan harga Rp 100.000. Jika perahu naga yang ada mesinnya, maka dijual dengan harga Rp 250.000,” kata dia.
Adapun peminat miniatur perahu naga ini, kebanyakan anak-anak yang menonton tradisi lomba dayung tradisional.
Selain mereka, ada juga para pecinta perahu naga yang membeli produknya sebagai buah tangan.
Namun begitu, pembuatan karya seni itu tidak dilakukannya setiap hari, melainkan hanya menjelang event lomba dayung tradisional.
“Karena saya sendiri mempunyai pekerjaan utama sebagai nelayan,” jelasnya.
Proses pembuatannya cukup mudah, hanya memakai bahan utama berupa kayu triplek dijadikan kapalnya dan spon untuk kepala naga serta ekornya.
Warna kapal menyesuaikan perahu naga yang dipakai lomba ditambah stiker nama tim yang bertandingnya.
“Kalau waktu yang dibutuhkan untuk membuat satu miniatur perahu naga, dari awal sampai jadi, maksimal saya bisa membuat 4 unit dalam sehari,” kata dia. (HS-08)