in

Dua Bulan Terakhir Kasus Demam Berdarah di Kendal Meningkat, Masyarakat Diminta Waspada

Foto ilustrasi.

HALO KENDAL – Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kendal, kasus penyakit demam berdarah dongue (DBD) di Kabupaten Kendal pada bulan Agustus hingga Oktober ini cukup tinggi, dan memakan korban jiwa meninggal dunia.

Pada bulan Agustus saja, terdapat 36 kasus DBD dengan korban meninggal dunia dua orang. Kemudian di bulan September meningkat menjadi 45 kasus dengan korban meninggal dunia sebanyak tiga orang.

Kasus DBD masih berlanjut hingga bulan Oktober ini, dalam dua kasus yang ditemukan, satu di antaranya meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kendal, Siswanto mengaku prihatin dengan tingginya kasus DBD di Kabupaten Kendal. Oleh karena itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk waspada dan bersama-sama melakukan gerakan 3M plus.

“Yakni menguras, menutup, mendaur ulang, dan melakukan kegiatan pencegahan lainnya,” paparnya, Sabtu (8/10/2022).

Siswanto menegaskan, program fogging hanya akan membunuh nyamuk dewasa saja, sehingga tidak efektif.

“Dan itupun hanya dilakukan ketika kondisi darurat. Sebenarnya mudah mencegah DBD, cuma pola hidup bersih di lingkungan keluarga. Dan itu masih kurang,” tandasnya.

Selain itu, pihaknya bersama Puskesmas dan lintas sektoral sebenarnya sudah sering dan terus melakukan sosialisasi pencegahan DBD kepada masyarakat.

“Sosialisasi melalui selebaran, spanduk, media elektronik maupun media sosial untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang DBD,” kata Siswanto.

Tujuannya, supaya masyarakat mau bergerak bersama-sama memberantas nyamuk dengan 3M plus. “Aksi dari puskesmas dan lintas sektoral untuk mencegah DBD itu sudah sejak dulu dilakukan, tapi karena kondisi paska Covid ini banyak bekas tempat cuci tangan yang tidak diperhatikan, sehingga menjadi sarang nyamuk,” ungkap Siswanto.

Penanganan jika ditemukan kasus DBD pun dilakukan dengan cepat, yaitu dilakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengetahui sumber nyamuk penyebab DBD.

“Kemudian melakukan fogging di lingkungan yang ditemukan kasus dan meninggal dunia, sebagai langkah pencegahan darurat,” imbuh Siswanto.

Salah satu yang banyak terkena DBD berada di Kelurahan Kalibuntu Wetan Kecamatan Kendal. Hal tersebut disampaikan Bidan Kelurahan Kalibuntu Wetan, Awalina Mastuti.

Menurutnya, kasus DBD di wilayahnya mulai diketahui pada Agustus lalu hingga saat ini. Warga yang terkena DBD di wilayahnya mencapai enam orang, dan satu orang meninggal dunia. Awalina menjelaskan, sebagian sudah dinyatakan sembuh, namun masih ada yang sedang dirawat di rumah sakit.

“Pada pekan ini juga banyak anak sekolah yang tidak masuk sekolah karena sakit dengan gejala seperti DBD. Kasus DBD ini mulai terlihat sejak Agustus lalu, dan sampai sekarang ini masih banyak yang mengalami sakit dengan gejala DBD,” ungkapnya.

Awalina menambahkan, kondisi memasuki musim hujan biasanya banyak ditemukan genangan air tempat berkembangbiak nyamuk Aedes Aegypti.

“Oleh karena itu, kepada masyarakat diimbau harus rutin melakukan gerakan 3M plus, minimal seminggu sekali. Selain itu, kerja bakti gerakan PSN harus dilakukan seminggu sekali,” pungkasnya.(HS)

Hadapi Porprov Jateng 2023, KONI Kendal Gelar Desiminasi Manajemen Olahraga

Berinteraksi dengan Masyarakat, Wakil Bupati Kendal Hadiri Maulid Nabi di Sukorejo