in

16 Hektare Sawah Kekeringan, Dispaperta Batang Salurkan 114 Pompa ke Kelompok Tani

Penyaluran bantuan mesin pompa untuk mengairi sawah di Kabupaten Batang. (Foto : batangkab.go.id)

 

HALO BATANG – Dinas Pangan, Pertanian, dan Peternakan (Dispaperta) Kabupaten Batang, menyalurkan secara bertahap 114 unit pompa air ke kelompok tani di seluruh penjuru daerah, untuk mengatasi masalah kekeringan yang mulai meluas.

Berdasarkan laporan Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), hingga Agustus 2026, sedikitnya sudah 16 hektare sawah di dua kecamatan mengalami kekeringan.

Masing-masing wilayah tersebut adalah di Gringsing seluas 15 hektare, dan di Banyuputih 1 hektare.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dispaperta Batang, Diana Anggraeni, seperti dirilis batangkab.go.id, mengatakan bahwa penanganan di tingkat tapak, sejauh ini masih tergolong terkendali, berkat inisiatif para petani.

Wilayah Banyuputih memang menjadi kawasan langganan kekeringan, karena keterbatasan pasokan air setiap kali kemarau tiba.

“Meski demikian, geliat petani dalam menyelamatkan tanaman mereka patut diancungi jempol. Selama air tanah atau celah sumber air permukaan masih terjangkau, para kelompok tani langsung menyedotnya menggunakan mesin pompa,” kata dia, di kantornya, belum lama ini.

Untuk mendukung upaya para petani, Dispaperta mulai menyalurkan bantuan 114 unit bantuan pompa air.

Pembagiannya sengaja diatur bergiliran demi menjaga kerapian administrasi dan proses serah terima.

“Ini 114, tapi bertahap. Mulai hari ini. Biar enggak numpuk, karena kami juga harus tanda tangan berita acara. Kalau orang banyak malah ruwet,” ungkapnya.

Diana juga menegaskan, ratusan amunisi pengairan tersebut tidak cuma menumpuk di Banyuputih atau Gringsing, melainkan disebar merata ke wilayah lain yang membutuhkan di skala kabupaten.

“Di satu kabupaten. Karena kalau jumlah segitu banyak ya enggak mungkin cuma di dua kecamatan. Bukan cuma menyalurkan pompa, pemerintah setempat juga menyokong infrastruktur pendukung melalui perbaikan dan pembangunan jaringan irigasi tersier,” jelasnya.

Dia juga menjelaskan, selain pompa, beberapa persawahan juga masih mendapat pasokan air dari sistem irigasi.
Di Kecamatan Gringsing, persawahan juga didukung jaringan irigasi teknis, yang setiap tahun dikeringkan untuk pemeliharaan oleh Dinas PU dan BBWS.

“Kalau di Gringsing itu dia juga irigasinya teknis. Irigasi teknis itu nanti setiap bulan Oktober juga ada pengeringan berkala dari pintunya, dari DPU dan BBWS. Itu sebenarnya tidak bisa dikatakan kekeringan juga, tapi rutin untuk pemeliharaan mereka,” ujar dia.

Selain menghadapi ancaman kekeringan di lahan seluas 16 hektare, menurut data Dispaperta Batang, setidaknya terdapat 511 hektare lahan pertanian juga pernah diterjang banjir.

Kondisi cuaca ekstrem ini mendorong sinergi yang makin erat antara pemerintah dan kelompok tani demi menjaga ketahanan pangan daerah. (HS-08)

 

 

Kendalikan Kerhutla di Kalteng, Tim Sebar Garam di Ketinggian 7.000 Kaki untuk Turunkan Hujan Buatan

Tunjukkan Kesetiaan, Tujuh Anggota Kwarran Batang Raih Lencana Pancawarsa