HALO DEMAK – Belasan tahun Ngadiyanto hidup di tengah kepungan air rob, membuat rumahnya bukan sekadar tempat berteduh.
Bagi warga Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, rumah adalah harapan yang nyaris tenggelam bersama tanah kelahirannya.
Kini, harapan itu kembali tumbuh. Di tengah momentum Hari Ulang Tahun Ke-81 Provinsi Jawa Tengah, Ngadiyanto akhirnya memiliki rumah yang lebih layak dan nyaman, setelah menerima bantuan rumah apung dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, bekerja sama dengan Bank Jateng.
Ngadiyanto menceritakan, sebelum rob datang, kehidupannya berjalan seperti warga desa pada umumnya.
Dia bekerja sebagai petani, dan menggantungkan hidup dari tanah yang saat itu masih bisa ditanami. Namun, sejak 2006, air laut perlahan mulai memasuki kehidupan mereka.
Rob datang semakin sering dan semakin tinggi. Ngadiyanto kemudian beralih pekerjaan menjadi petambak udang. Namun, perubahan itu tak banyak menyelamatkan kehidupannya.
Abrasi terus menggerus daratan, hingga pada 2011, kampung tempat dia tinggal benar-benar berubah. Daratan yang dulu menjadi halaman rumah dan tempat warga beraktivitas, perlahan berubah seperti menjadi lautan.
Yang paling membekas bagi Ngadiyanto, adalah ketika air laut mulai mengikis rumahnya. Tempat yang selama ini menjadi pelindung keluarganya perlahan kehilangan pijakan. Di saat yang sama, pekerjaannya pun ikut hilang.
“Kalau ada badai, anak-anak saya bawa mengungsi ke rumah tetangga yang lebih aman,” tutur Ngadiyanto, baru-baru ini.
Dia dan istri, Sri Ningsih, harus membesarkan empat anak di tengah kondisi yang serba tidak pasti. Setiap kali cuaca memburuk, rasa cemas kembali datang. Bukan hanya memikirkan rumah yang terancam air, tetapi juga keselamatan anak-anak mereka.
Belasan tahun hidup berdampingan dengan rob, membuat keluarga Ngadiyanto terbiasa dengan keadaan yang bagi banyak orang sulit dibayangkan. Air laut menjadi bagian dari keseharian.
Namun, di balik itu semua, ada keinginan sederhana, memiliki tempat tinggal yang aman untuk keluarganya.
Harapan tersebut akhirnya datang melalui program bantuan rumah apung Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, bekerja sama dengan Bank Jateng.
Kini, rumah yang berdiri di atas air itu menjadi ruang baru bagi keluarga Ngadiyanto untuk menata kehidupan. Tidak lagi sekadar bertahan dari datangnya rob, tetapi mulai merasakan tempat tinggal yang lebih layak dan nyaman.
Bagi Sri Ningsih, rumah tersebut bukan hanya bangunan. Ada rasa lega setelah bertahun-tahun keluarganya hidup dalam bayang-bayang air laut. Rumah apung itu seolah menjadi penanda, meski daratan terus terkikis, harapan tidak harus ikut tenggelam.
“Sekarang punya rumah apung, rasanya senang sekali. Anak-anak bisa nyaman bermain dan belajar. Dulu kan kalau mau tidur harus menunggu kering dulu, sekarang sudah tidak lagi,” ungkapnya.
Di tengah peringatan 81 tahun Jawa Tengah, kisah Ngadiyanto dan sri Ningsih menjadi potret kecil tentang arti sebuah bantuan bagi mereka yang hidup di wilayah pesisir.
Ketika tanah tak lagi mampu menjadi tempat berpijak, rumah apung menjadi cara untuk tetap bertahan.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan mengatakan, bantuan rumah apung merupakan bagian dari upaya pemerintah, menghadirkan hunian yang lebih layak bagi masyarakat yang terdampak rob dan abrasi.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, Pemprov Jateng telah menyalurkan sejumlah bantuan rumah apung di wilayah terdampak. Pada 2025, terdapat tiga unit rumah apung melalui CSR Bank Jateng dan Pemkab Demak, yang diperuntukkan bagi Mulyono, Romani, dan Muslim.
Program tersebut berlanjut pada 2026. Sebanyak tiga unit rumah apung kembali dibangun melalui CSR Bank Jateng untuk Ngadiyanto, Krisma, dan Rokani. Selain itu, sembilan unit lainnya sedang berjalan melalui APBD murni 2026, serta delapan unit direncanakan melalui APBD Perubahan 2026. (HS-08)


