in

Gubernur Jateng: Mahasiswa Bebas Mengkritik Pemerintah, Asal Beretika dan Tawarkan Solusi

Gubernur Jateng: Mahasiswa Bebas Mengkritik Pemerintah, Asal Beretika dan Tawarkan Solusi Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi saat menjadi pembicara kunci dalam pembukaan Training Raya Akbar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang di Balai Diklat Kementerian Agama RI, Kota Semarang, Selasa (30/6/2026).

HALO SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menegaskan bahwa mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan kritik dan aspirasi kepada pemerintah. Namun, kebebasan tersebut harus dijalankan dengan tetap menjunjung tinggi etika, norma, dan ketentuan hukum yang berlaku.

Pernyataan itu disampaikan Luthfi saat menjadi pembicara kunci dalam pembukaan Training Raya Akbar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Semarang di Balai Diklat Kementerian Agama RI, Kota Semarang, Selasa (30/6/2026).

“Mahasiswa di kampus bebas untuk berekspresi. Mahasiswa juga berhak menyampaikan pendapat di muka umum, itu ada undang-undangnya. Saya menghargai itu sebagai bentuk kepedulian adik-adik mahasiswa kepada bangsa dan negara,” ujar Luthfi.

Meski demikian, ia mengingatkan agar penyampaian kritik dilakukan secara santun dan tidak melanggar aturan. Menurutnya, aspirasi yang disampaikan dengan cara yang baik akan lebih efektif dalam mendorong perubahan.

Selain mengapresiasi sikap kritis mahasiswa, Luthfi juga mengajak generasi muda untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan melalui gagasan dan inovasi.

“Mahasiswa adalah agen perubahan. Mempunyai energi lebih. Energi itu harus disalurkan dengan banyak menyampaikan ide-ide konstruktif,” katanya.

Luthfi menjelaskan, tantangan yang dihadapi bangsa saat ini semakin kompleks. Mulai dari dinamika geopolitik global, perlambatan ekonomi, tuntutan peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Ia mencontohkan berbagai konflik internasional, seperti perang Ukraina-Rusia dan ketegangan di Timur Tengah, yang berdampak terhadap kondisi ekonomi dunia. Di sisi lain, tekanan fiskal juga membuat pemerintah daerah dituntut lebih kreatif dalam membangun wilayahnya.

“Belum lagi dampak geopolitik dunia dari adanya perang Ukraina-Rusia, konflik Timur Tengah, hingga berbagai dinamika global lainnya. Sekarang juga ada tekanan fiskal yang membuat kepala daerah harus lebih kreatif dalam membangun daerah,” jelasnya.

Menurut Luthfi, tantangan tersebut tidak dapat dihadapi pemerintah sendirian. Karena itu, kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa, menjadi kunci untuk melahirkan solusi-solusi baru.

“Pemerintah tidak bisa hanya mengandalkan APBD dan pendapatan asli daerah. Kita membutuhkan ide, inovasi, dan kreativitas dari semua pihak, termasuk mahasiswa. Kita harus bersama-sama menciptakan Jawa Tengah yang adem ayem,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum HMI Cabang Semarang, M. Nabil Muallif, mengatakan Training Raya Akbar digelar untuk mencetak kader yang mampu meningkatkan daya saing bangsa di tengah perubahan global yang semakin cepat.

Menurutnya, tantangan seperti krisis geopolitik, disrupsi teknologi, hingga perkembangan AI harus dijawab dengan peningkatan kapasitas generasi muda. Karena itu, HMI siap berkolaborasi dengan pemerintah dalam menghadirkan gagasan dan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah maupun nasional.

“Kami ingin melahirkan kader-kader yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun daerah dan bangsa,” kata Nabil.(HS)

Sumarno Nahkodai ALTI Jateng, Siapkan Trail Run di Seluruh Kabupaten/Kota dan Bidik Kejurnas