HALO PEKALONGAN – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, menyebabkan bahan baku kerajinan batik di Kota Pekalongan, di antaranya kain, ikut naik. Para perajin pun terpaksa melakukan berbagai cara agar kualitas dan perputaran roda usaha tetap terjaga.
Owner Batik Blonteng, Miladia Huda, mengungkapkan bahwa kenaikan harga kain menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh, terhadap biaya produksi batik.
Sejumlah bahan baku yang masih bergantung pada pasar internasional membuat pelaku usaha harus beradaptasi dengan kondisi ekonomi global yang dinamis.
“Yang paling terasa adalah kenaikan harga kain. Banyak komponen produksi masih dipengaruhi pasar internasional sehingga ketika dolar naik, biaya produksi ikut meningkat,” kata Huda, Rabu (10/6/2026), seperti dirilis pekalongankota.go.id.
Ia menyebut, untuk harga obat tidak begitu berpengaruh, namun untuk kenaikan harga kain yang terus naik dari Rp 30 ribu hingga Rp40 ribu/ pcs, sangat berdampak pada biaya produksi.
Meski keuntungan merosot hingga 40 persen akibat meningkatnya biaya produksi, para pelaku usaha batik tetap berupaya mempertahankan kualitas karya mereka.
“Inovasi desain, efisiensi produksi, hingga pengelolaan stok menjadi langkah yang ditempuh, agar usaha tetap berkelanjutan tanpa mengurangi mutu produk yang dihasilkan,” kata dia.
Hal serupa disampaikan pembatik warna alam Batik Banjir, Krisnowati. Menurutnya, pelaku usaha saat ini lebih selektif dalam memproduksi batik dengan menyesuaikan kebutuhan pasar dan pesanan konsumen.
“Untuk sementara kami lebih fokus melayani pesanan yang masuk sehingga produksi tetap berjalan dengan baik dan kualitas tetap terjaga,” tuturnya.
Krisnowati optimistis industri batik Kota Pekalongan akan terus bertahan dan berkembang berkat dukungan masyarakat yang semakin mencintai produk lokal.
Ia juga berharap ketersediaan bahan baku dalam negeri semakin kuat sehingga industri batik nasional dapat tumbuh lebih mandiri dan mampu menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.
“Sebagai salah satu ikon ekonomi kreatif dan warisan budaya bangsa, batik Pekalongan diyakini tetap memiliki daya saing tinggi melalui kualitas, kreativitas, serta ketekunan para perajinnya dalam menjaga eksistensi batik di pasar nasional maupun internasional,” kata dia. (HS-08)


