in

Ogoh-ogoh 8 Meter Berbobot 500 Kilogram Warnai Tawur Agung 2026 di Candi Prambanan

Pelaksanaan Tawur Agung di Candi Prambanan sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi tahun baru Caka 1948. (Foto : klatenkab.go.id)

 

HALO KLATEN – Suasana sakral dan penuh khidmat menyelimuti pelaksanaan Tawur Agung di Candi Prambanan, dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi tahun baru Caka 1948, belum lama ini.

Salah satu yang mencuri perhatian, adalah kehadiran ogoh-ogoh raksasa setinggi sekitar 8 meter dengan bobot mencapai 500 kilogram.

Diketahui ogoh-ogoh ini tercatat sebagai yang terbesar sepanjang pelaksanaan Tawur Agung di Candi Prambanan.

Ogoh-ogoh terbesar di Tawur Agung 2026 ini disiapkan oleh umat Hindu Klaten di bawah naungan Pura Wisnu Sakti, Jogonalan, Klaten.

Menariknya, kepala ogoh-ogoh didatangkan langsung dari Bali dan Bupati Klaten, Hamenang Wajar Ismoyo turut serta memasang kepala ogoh-ogoh, saat proses pembuatannya beberapa waktu lalu.

Dalam tradisi Hindu, ogoh-ogoh melambangkan Bhuta Kala, representasi energi negatif yang perlu dinetralisir.

Melalui prosesi Tawur Agung, umat Hindu memohon keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta, sebagai bagian dari rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi tahun baru Caka 1948.

Di antara sekitar 25.000 umat Hindu yang hadir dari berbagai wilayah, Taryuti (39) warga Gunung Kidul, mengaku terpukau dengan melihat ogoh-ogoh sebesar 8 meter.

“Baru kali ini melihat ogoh-ogoh terbesar yang di tampilkan selama Tawur Agung di Prambanan. Luar biasa dan ini ogoh-ogoh terbesar yang saya lihat,” ungkapnya.

Taryuti berharap Hari Raya Nyepi tahun ini yang dan kemungkinan bersamaan dengan Hari Raya idulfitri dapat meningkatkan kerukunan antarumat beragama.

“Semoga Kerukunan antarumat beragama semakin meningkat dengan adanya Hari Raya Nyepi yang bersamaan,” kata dia.

Rangkaian Tawur Agung di Candi Prambanan ini berlangsung khidmat dan diwarnai berbagai prosesi, mulai dari medhak tirta, sembahyang bersama, hingga pawai budaya yang menambah semarak perayaan Tawur Agung 2026.

Memperkuat Kepedulian

Sementara itu Kementerian Agama mengajak Umat Hindu untuk menjadikan Tawur Agung Prambanan, sebagai titik balik memperkuat kepedulian terhadap alam dan mempererat persaudaraan.

Ajakan ini disampaikan Dirjen Bimas Hindu Kemenag, I Nengah Duija, dalam puncak pelaksanaan Tawur Agung rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 di pelataran Candi Prambanan Yogyakarta, Rabu (18/3/2026).

“Tawur Agung mengajarkan ekologi spiritual, solidaritas sosial, dan integritas pribadi. Ini menjadi strategi peradaban dalam menghadapi krisis lingkungan dan sosial di era modern,” tegas I Nengah Duija, di hadapan sekitar 20 ribu umat Hindu yang datang dari berbagai daerah.

Tawur Agung memiliki makna filosofis yang mendalam sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Ritual ini dapat dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab moral manusia kepada alam setelah memanfaatkan sumber daya yang terkandung di dalamnya sepanjang tahun.

“Tawur Agung adalah upacara yajña yang bukan sekadar ritual, tetapi bentuk nyata penyucian alam semesta serta upaya mengharmoniskan hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Hyang Widhi Wasa,” ungkap Duija.

“Keseimbangan bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Tawur Agung adalah bentuk tanggung jawab moral manusia kepada alam melalui persembahan suci,” lanjutnya.

Pelaksanaan Tawur Agung di Prambanan memiliki nilai strategis dan spiritual karena merupakan pusat peradaban Hindu Nusantara.

“Prambanan bukan sekadar situs sejarah, melainkan ruang sakral yang menghubungkan manusia dengan jagat raya, simbol penyatuan spiritual dan kebudayaan bangsa,” ujar Duija.

Pelaksanaan Tawur Agung ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Suci Nyepi yang berpuncak pada pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Melalui keheningan Nyepi, umat Hindu diajak melakukan refleksi diri guna mencapai kedamaian batin dan harmoni semesta.

Dengan kehadiran puluhan ribu umat serta dukungan berbagai pihak, Tawur Agung di Prambanan tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga simbol penguatan spiritualitas, persatuan, dan komitmen menjaga keseimbangan kehidupan di tengah dinamika zaman.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Umum PHDI Pusat, perwakilan Gubernur melalui Kepala Dinas Kebudayaan Jawa Tengah, Ketua Dharma Shanti Nasional, Bupati Klaten, jajaran Kanwil Kemenag Jawa Tengah dan DIY, pimpinan organisasi kemasyarakatan Hindu tingkat nasional maupun provinsi, serta tokoh masyarakat. (HS-08)

 

 

Arus Mudik 2026, Lalu Lintas Wilayah Selatan Pemalang Mulai Padat

Pos Pengamanan Siap, Sragen Sambut Mudik Lebaran