HALO BLORA – Plt Direktur Utama PT GMM Bulog, Sri Emilia Mudiyanti mengatakan pihaknya berencana melaksanakan giling tebu 2026, pada awal Juni mendatang.
Hal itu disampaikan Sri Emilia Mudiyanti, ketika menerima kedatangan pengurus Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Kabupaten Blora dan para petani tebu, yang meminta kepastian rencana giling tahun ini.
Sri Emilia, seperti disampaikan melalui blorakab.go.id, menjelaskan saat ini pihak GMM Bulog sudah melakukan pendekatan ke berbagai vendor, yang bisa menyediakan peralatan boiler, sambil menunggu proses administrasi untuk pencairan dana renovasi dari Bulog pusat.
Dia memperkirakan, jika dana perbaikan cair pada Januari 2026, maka rencana giling tebu 2026 diperkirakan bisa dilaksanakan pada awal Juni 2026.
Penjelasan senada disampaikan Direktur Operasional PT GMM Bulog, Krisna Murtiyanto.
Krisna Murtiyanto mengatakan pelaksanaan giling 2026 oleh PT GMM Bulog, 99 persen akan dilaksanakan dan tidak akan terlambat.
Rapat
Sebelumnya, pengurus APTRI Kabupaten Blora menggelar rapat di Bumi Indah Flora Tinapan Kecamatan Todanan, (samping Pabrik Gula PT GMM Bulog), Rabu 28 Januari 2026.
Rapat dipimpin Ketua APTRI Sunoto dihadiri pengurus APTRI, perwakilan petani tebu, dan Rahmatouloh, Kabag Tanaman utusan dari pihak managemen PT GMM Bulog.
Ketua APTRI Blora Sunoto menyampaikan, perjuangan Bupati Blora Arief Rohman, Wakil Bupati Blora Sri Setyorini, Ketua DPRD Blora H Mustopa, dan pengurus APTRI serta dukungan para petani tebu telah membuahkan hasil, dengan keluarnya persetujuan Dirut Perum Bulog, bahwa pabrik gula PT GMM Bulog tetap akan melaksanakan giling 2026.
Selain mengganti baru dua boiler yang rusak berat, juga akan dilaksanakan reformasi di internal jajaran managemen PT GMM Bulog.
Bahkan juga akan dilaksanakan revitalisasi hubungan tripartit antara Pihak Pabrik gula, Petani tebu/APTRI dan Pemerintah Daerah.
Renovasi pabrik gula PT GMM Bulog tersebut akan segera diwujudkan, jika usulan dana margin fee Bulog ke Setneg sebesar 7 persen disetujui oleh Menteri Sekretaris Negara.
“Ternyata pada hari Jumat 23 Januari 2026 usulan dana tersebut menurut keterangan dari Direktur Keuangan Bulog, telah di ACC oleh Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi,” kata Sunoto.
Namun dia mengakui belum ada kejelasan kapan dana akan direalisasikan untuk memperbaiki boiler di Pabrik gula PT GMM Bulog.
“Sementara saat ini sudah memasuki akhir bulan Januari 2026. Sedangkan proses lelang dan melaksanakan kegiatan renovasi boiler pabrik gula membutuhkan waktu kurang lebih empat bulan,” lanjutnya.
“Sehingga diperkirakan kalau dana cair bulan Januari 2026, maka giling tebu 2026 pabrik gula PT GMM Bulog akan diawali bulan Juni 2026. Sayang realita yang ada sampai saat ini masih harus menunggu keluarnya inpres yang melibatkan tiga kementerian. Pertanyakan logis yang muncul dari para petani tebu, masih membutuhkan waktu berapa hari lagi kita menunggu keluarnya inpres,” sambung Sunoto.
Berkenaan hal tersebut, kata Sunoto, para petani tebu mengalami kerisauan, cemas dan mengharapkan segara ada kepastian kapan dana untuk perbaikan boiler pabrik gula akan cair.
Mengingat kalau tidak ada kepastian berarti ada kemoloran atau kemunduran awal giling tebu 2026 dan harga tebu dikawatirkan akan turun.
Oleh sebab itu beberapa petani tebu menyampaikan uneg-uneg sebagai upaya solusi agar para petani nasibnya tidak di ujung tanduk.
Sunoto juga mengusulkan adanya gerakan sapu jagat ke kantor Dirut Perum Bulog, Menteri terkait, Istana Presiden, dan terakhir ke KPK, agar ada kejelasan dan kepastian informasi.
Darmadi, peserta rapat merespon dengan antusias, dia setuju kembali nglurug ke Jakarta, namun harus ada persiapan yang matang dan mohon izin dan petunjuk dari Bupati dan ketua DPRD Blora.
Karena kalau pabrik gula tidak segera giling, berdampak kepada harga tebu turun dan adanya ketersedian angkutan tebu yang layak.
Kemudian Agus Joko Susilo, meminta kepada petani harus kompak, bersatu dan tidak boleh putus asa.
Karena gerakan petani akan menentukan nilai tawar dan nasib kedepan.
Selanjutnya, Srikandi tebu Sri Wahyuningsih, dirinya juga sepakat mendukung gerakan petani ke Jakarta dengan peserta yang lebih banyak dibanding kemarin tapi dengan konsep yang jelas, bawa surat dari APTRI untuk memohon bantuan kepada Presiden Prabowo Subianto, agar persoalan Pabrik Gula PT GMM Bulog segera tuntas.
Sedangkan Choirul mengusulkan sebelum berjuang ke Jakarta lebih dahulu kita melaksanakan aksi damai dengan memakai seragam samin petani tebu mendatangi pabrik gula, Kantor Bupati dan DPRD Blora, dengan membawa spanduk isinya tuntutan petani tebu dan salah satunya tulisan adalah Bedah GMM.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris APTRI Anton Sudibdyo mengungkapkan pabrik gula PT GMM Bulog merupakan pabrik baru, tapi sering rusak dan setiap musim giling selalu merugi.
Petani tebu harus berani bersuara keras untuk memperjuangkan nasib mereka.
Ia siap demo ke Jakarta dengan tuntutan minta kejelasan kapan pabrik gula GMM Bulog segera direnovasi.
“Jangan sampai para petani tebu diombang-ambingkan oleh janji yang tak pernah terealisasi. Mari dengan spirit Bung Karno rawe-rawe rantas malang-malang putung kita tuntaskan perjuangan kita sampai terwujudnya terminal kemakmuran dan kesejahteraan petani tebu,” tegasnya.
Sementara tanggapan dari utusan Pabrik Gula PT GMM Bulog Rahmatouloh, meminta agar persoalan belum jelasnya informasi kapan renovasi PT GMM Bulog akan dimulai agar bisa ditempuh dengan cara dialog musyawarah untuk mufakat.
Ia sangat meyakini janji Dirut Perum Bulog pasti akan dipenuhi karena saat ini tinggal menunggu proses normatif yang melandasi cairnya dana perbaikan pabrik gula.
Sehingga dari pihak managemen PT GMM Bulog sudah mempersiapkan berbagai langkah untuk melaksanakan renovasi pabrik gula. Bahkan sudah menentukan kapan awal giling 2026 dimulai.
“Kalau bulan Januari dana cair, maka giling tebu 2026 direncanakan awal Juni 2026. Karena kegiatan proses lelang dan perbaikan boiler diperkirakan membutuhkan waktu empat bulan,” kata dia.
Sementara itu, Bambang Sulistya selaku penasihat APTRI, ketika diminta untuk memberikan masukan menyarankan kepada pengurus APTRI, untuk melakukan “langkah akrobatik” karena faktor pembatas adalah waktu dan sifatnya urgen.
Tiga langkah akrobatik yang dia maksud, pertama segera melakukan komunikasi dengan Bupati dan Wakil Bupati Blora, untuk memperoleh informasi terbaru berkaitan dengan proses pencairan dana untuk renovasi pabrik gula.
“Dan bila diperkenankan mohon langsung dihubungkan ke nara sumber di Jakarta yang bisa memberi pencerahan tentang hal tersebut,” tuturnya.
Kedua, melakukan pendekatan ke ketua DPRD Blora, supaya bisa dibangun komunikasi khusus dengan pihak di Sekretaris Negara, supaya proses administrasi yang menjadi dasar persyaratan untuk pencairan dana segera bisa dipenuhi.
Ketiga, menemui Plt Direktur Utama PT GMM Bulog, Sri Emilia Mudiyanti yang saat itu berada di Blora.
“Selesai rapat kita menghadap untuk mendapatkan informasi terbaru dan langkah yang dipersiapkan oleh pihak managemen PT GMM Bulog dalam upaya merenovasi pabrik gula,” kata Bambang Sulistya. (HS-08)


