HALO PEKALONGAN – Insiden kebakaran gedung Terra Drone di Jakarta, dijadikan contoh oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), tentang lemahnya kesiapan bangunan publik untuk mencegah kebakaran.
Menurut Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Kota Pekalongan, Dimas Arga Yudha, mewakili Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kota Pekalongan, Budi Suheryanto, peristiwa tersebut mengingatkan semua pihak bahwa aspek mitigasi bencana di fasilitas publik harus menjadi prioritas utama.
Menurut dia, faktor penentu penyelamatan bukan hanya pada ketinggian, melainkan pada kelengkapan fasilitas keselamatan serta kejelasan prosedur penanganan darurat.
Ia menjelaskan bahwa dalam penanggulangan bencana pada gedung, termasuk fasilitas layanan publik, terdapat tiga aspek wajib yang menentukan keselamatan pengguna gedung.
Masing-masing adalah rencana penanggulangan bencana. Setiap fasilitas publik diwajibkan memiliki rencana penanggulangan bencana, yang berisi program pengurangan risiko, simulasi rutin, serta prosedur evakuasi.
Selanjutnya yaitu fasilitas aman bencana (mitigasi struktural), seperti instalasi pemadam kebakaran, jalur evakuasi, pintu darurat, dan tangga darurat.
Fasilitas tersebut harus selalu dapat digunakan, bebas hambatan, dan dirawat secara berkala.
“Mitigasi struktural adalah kunci mengurangi risiko. Tanpa fasilitas aman, proses evakuasi bisa terhambat bahkan gagal,” jelasnya.
Aspek berikutnya yakni sosialisasi dan edukasi kebencanaan, ia menerangkan bahwa masyarakat perlu dibekali pemahaman tentang cara bertindak saat bencana, mulai dari teknik menghindari asap, memilih jalur aman, hingga langkah penyelamatan mandiri.
“Peningkatan kapasitas masyarakat sangat penting. Pengetahuan yang cukup akan menghindarkan kepanikan dan mengurangi potensi korban,” terangnya.
Lebih lanjut, Dimas memberikan gambaran tindakan yang tepat bagi warga ketika kebakaran terjadi di dalam gedung, jika berada di bawah titik api masyarakat dianjurkan segera mengevakuasi diri melalui tangga darurat. Prinsip paling penting adalah menjauhi sumber api secepat mungkin.
Sedangkan jika berada di atas titik api dan jalur evakuasi terkunci, terputus, atau tidak terhubung, maka masyarakat disarankan mencari ruang terbuka yang dapat dijangkau, seperti balkon atau area dengan akses udara.
Meskipun langkah ini cukup berisiko, namun tetap lebih aman daripada berada dekat sumber api sambil menunggu pertolongan dari pihak luar.
Ia menambahkan keberadaan tangga darurat eksternal sangat penting agar bisa digunakan setiap saat, baik dalam keadaan darurat maupun untuk pemeliharaan berkala bangunan. (HS-08)