HALO BLORA – Para petani tebu di Kabupaten Blora, mencurahkan isi hati (curhat) dan menumpahkan kegundahan, terkait kelangsungan usaha mereka, sebagai dampak dari penghentian operasi oleh pabrik gula PT GMM Bulog, yang sebelumnya menyerap hasil panen petani tebu.
Hal itu diungkap dalam Focus Group Discussion (FGD), yang diselenggarakan pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Blora, di Sebara Resto Blora Jl Seso Gersi Jepon Blora, baru-baru ini.
Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) kabupaten Blora, H Sunoto mengatakan keputusan PT GMM Bulog, untuk berhenti beroperasi, telah berdampak pada para petani tebu. Apalagi lebih dari 1.500 hektare tebu petani belum ditebang.
Pengurus APTRI pun kemudian melaporkan masalah itu kepada Bupati Blora dan mengadakan audensi dengan Ketua DPRD dan Komisi B.
Namun rupanya langkah tersebut tidak memberikan solusi permanen dan petani tetap rugi.
Hal itu lantaran harga tebu sebelumya berhenti giling bisa mencapai Rp78/kg, namun setelah berhenti giling dan tebu-tebu tersebut dibeli petani penyangga, harganya turun hingga menjadi Rp65/kg.
Karut marut penanganan pembelian tebu ternyata memicu semangat petani tebu untuk menuntut keadilan dan solusi yang menguntungkan bagi para petani.
Sunoto mengatakan lebih kurang 500 petani yang bergabung dengan APTRI, akan datang ke Kantor DPRD.
“Mereka akan membawa tronton bermuatan tebu, sebagai protes keras terhadap nasib petani tebu yang semakin tertidas oleh keputusan managemen PT GMM Bulog yang tidak jelas,” kata Sunoto.
Ia sangat berharap ke depan harus ada perubahan dalam pengelolaan pabrik gula. Manajemen juga dituntut mampu mengelola secara profesional dan memiliki kepekaan tinggi kepada nasib para petani tebu.
Industri Pergulaan
Sementara itu Ketua Kadin Blora, Siswanto, menjelaskan kegiatan FGD tersebut membahas tentang hilirisasi pertanian, utamanya industri pergulaan baik mengenai prospek dan solusi agribisnis tebu di Kabupaten Blora yang saat ini para petani tebu sedang mengalami musibah karena ditutupnya giling tebu 2025 oleh pihak managemen PT GMM Bulog.
FGD diikuti oleh berbagai pihak terkait di antaranya Dinas Pangan Pertanian Peternakan dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora, Utusan ADM Perhutani KPH Blora, Cepu, Randublatung dan Mantingan, Pengururus APTRI Kabupaten Blora, Ketua KPTRI Manteb dan Mustika Manis, Ketua dan pengurus BPC Hipmi Blora.
Siswanto mengatakan telah mendengar masalah yang dialami para petani tebu di Kabupaten Blora, saat dirinya menuntut ilmu di Tiongkok.
“Saya ini juga petani tebu yang memiliki tebu seluas 15 Ha dan bersyukur sudah tertebang,” kata Siswanto.
Siswanto yang juga ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Blora dan wakil Ketua DPRD Blora, sekaligus sebagai Ketua Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (Adkasi) merasa terpanggil untuk ikut cawe-cawe meringankan beban kesengsaraan para petani tebu.
“Oleh sebab itu saya menghadirkan Bapak Pahlevi Pangerang bersama staf ahlinya di Kabupaten Blora, sebagai upaya untuk memberi solusi. Karena beliau adalah seorang pengusaha kondang di bidang Agribisnis yang telah memiliki sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang pabrik gula. Selain itu ia juga sebagai wakil Dewan Pertimbangan Kadin Pusat yang memiliki kepedulian dan empati yang tinggi kepada wong cilik yang sedang dirundung petaka,” ungkapnya.
Siswanto juga memberi spirit kepada seluruh peserta yang hadir, bahwa mereka harus mendukung dan menyukseskan program unggulan Presiden Prabowo Subiyanto, yaitu Ketahanan pangan, Ketahanan Energi, Hilirisasi dan program MBG.
Karena gula merupakan bagian dari ketahan pangan maka nasib petani tebu harus diperjuangkan, bahkan kalau managemen PT GMM Bulog kurang profesional harus direformasi dan ditangani oleh pihak yang memiliki jaminan akan mensejahterakan para petani tebu.
“Hari ini telah saya hadirkan bapak Pahlevi yang siap mengelola pabrik gula secara profesional dan membuat wong cilik gumuyu,” tandasnya.
Lahan Potensial
Sekretaris APTRI Kabupaten Blora, Anton Sudibdyo, yang sekaligus sebagai petani jangkar yang militan, mengatakan pihaknya sedang mengembangkan inovasi bibit unggul tebu varietas “Mustika A” yang mampu memberikan produktivitas tebu 130 ton/ha lahan di Kabupaten Blora.
Respon positif terhadap pengembangan tebu di kabupaten Blora disampaikan oleh Arif Silvianto, wakil ADM KPH Blora.
Dijelaskannya di wilayah KPH Blora sudah ada lahan potensial 2.000 ha dan yang sudah ditanami tebu seluas 810 ha. Prinsip dari pihak perhutani KPH Blora siap melaksanakan tugas sesuai perintah dan arahan dari Kementerian Kehutanan.
Sedang masukan dari Kepala Dinas Pangan Pertanian Peternaan dan Perikanan(DP4) Ngaliman, menyatakan siap membantu mengupayakan agar masalah para petani yang tebunya belum tertebang dapat segera teratasi.
“Tolong laporkan luas lahan secara terperinci luasnya dan alamat lokasi. Karena akan difasilitasi oleh bapak Dirjen Perkebunan yang baru saja datang di Kabupaten Blora,” kata Ngaliman.
Kemudian setelah mendengar laporan dari berbagai pihak tentang prospek pengembangan agribisnis tebu di Kabupaten Blora secara terbuka dan merespon positif Pahlevi Pangerang siap berkiprah untuk bersinergi dengan berbagai stakeholder dalam mengatasi persoalan tebu di kabupaten Blora.
Menurut ketua koperasi tebu Manteb, Bambang Sulistya, saat ini Blora butuh juru selamat yang siap jadi bapak angkat untuk memberi solusi dalam menghadapi persoalan permodalan dan jaminan pemasaran hasil tebu dengan harga yang memberi keuntungan kepada para petani tebu.
“Ada sebuah pantun yang menjadi harapan kepada petani saat ini, bunga melati bunga jati, kehadiran bapak Pahlevi semoga jadi solusi,” kata Bambang Sulistya.
Kerusakan Teknis
Sebelumnya Direktur Operasional PT GMM, Krisna Murtiyanto, seperti dirilis laman pelayanan.kejaksaan.go.id, menjelaskan bahwa kerusakan teknis di pabrik terbu tersebut memang tidak mungkin ditangani cepat.
Karena itu, manajemen memutuskan menghentikan giling per 25 September 2025, jauh lebih cepat dari target semula 150 hari.
Sementara itu, Plt Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, menyebut keputusan ini sangat berat.
“Kami benar-benar minta maaf karena panen petani tidak bisa terserap maksimal. Ini di luar perkiraan kami,” ujarnya.
Sebagai langkah darurat, PT GMM menyiapkan crane, truk tronton, serta jembatan timbang untuk memfasilitasi petani yang ingin mengalihkan tebunya ke pabrik gula lain.
Namun, perusahaan menegaskan bahwa mereka tidak lagi bisa membeli tebu yang tersisa.
Mekanisme kontrak giling hanya berlaku untuk petani skala besar yang sanggup mengirim ke pabrik terdekat.
Hingga 24 September 2025, PG GMM baru menggiling 218.771,12 ton tebu atau 54,6 persen dari target 400 ribu ton. Produksi Gula Kristal Putih (GKP) pun baru mencapai 11.608,05 ton.
Manajemen berjanji akan segera melaporkan kondisi teknis ini kepada pemegang saham, yakni Perum Bulog dan PT Mandiri Pangan Sejahtera, serta berkoordinasi dengan petani, DPRD Blora, dan Forkopimda untuk mencari solusi terbaik. (HS-08)