LANGIT mendung pada Selasa (17/6) pagi itu serasa lebih syahdu dari hari biasanya, maklum semalaman hujan mengguyur di wilayah Kabupaten Kendal, Semarang dan sekitarnya dengan intensitas sedang. Tapi bagi Agus Priyono (43) hal tersebut tak membuatnya mager di rumah dan segera bergegas menuju ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr H. Soewondo mengantarkan kakaknya yang telah terjadwal untuk kontrol. Meski baru menunjukan pukul 08.30 WIB, suasana pelayanan kesehatan di rumah sakit sudah ramai calon pasien lainnya yang juga menunggu giliran pemeriksaan di Poli Saraf dan Poli Gigi serta sebagian lagi duduk di barisan kursi besi yang memenuhi ruang tunggu Apotik Rawat Jalan atau Farmasi untuk mendapatkan obat.
Dari puluhan orang ikut mengantre di ruang tunggu Farmasi ini, salah satunya adalah Agus, namun dirinya tidak memiliki cukup waktu untuk menunggu sampai obat kakaknya itu ada ditangan. Setelah mengambil nomor antrean pengambilan obat di Apotik, dirinya langsung mendatangi stand pelayanan Sistem Hantar Obat Pasien ke Rumah yang disingkat Shobat Simah dari JNE, untuk menggunakan layanan pengiriman obat pasien, dan setelah proses transaksi selesai, yang hanya dalam hitungan menit saja, lalu Ia pun memutuskan untuk beranjak pulang. Sebab, di rumahya sudah ada beberapa barang elektronik dari pelanggannya yang menunggu untuk diperbaiki. Karena sehari-harinya Ia juga memiliki aktivitas lain yaitu membuka jasa servis elektronik di rumah.
“Jadi ya, kalau menunggu terus sampai obatnya keluar butuh waktu yang cukup lama, jadi saya pilih pulang ke rumah dan bisa melanjutkan pekerjaan saya lagi. Tapi sebelum pulang ke rumah, tadi saya menuju stand yang masih di area ruang tunggu Farmasi memberi tahu ke petugas untuk memakai layanan pengantaran obat pasien ke rumah dari JNE, jadi setelahnya bisa langsung sayabtinggal,” ujarnya, saat ditemui di stand JNE, Selasa (17/6).
Menurutnya, dengan adanya layanan Shobat Simah dari JNE ini sangat bermanfaat dan sekaligus dirinya merasa terbantu.
“Daripada waktu saya habis di rumah sakit, dengan layanan JNE kita hanya menunggu beberapa menit saja di sini, nanti sore hari obatnya sampai ke rumah. Tadi saya lihat jumlah antrean pengambilan obat juga ramai, kebetulan di standnya belum begitu ramai, jadi saya memutuskan untuk pakai JNE aja, tapi kalau antrenya juga sama banyaknya, saya lebih memilih untuk mengambil pada sore harinya dan akan datang lagi ke rumah sakit untuk mengambil obatnya,” katanya.
Selama ini, kata Agus, layanan yang diberikan dari JNE juga sudah cukup bagus dan cepat sampainya jadi saya memakai layanan ini lagi dan sekaligus menjadi yang kedua kalinya,” ungkapnya.
Agus berharap, kedepannya pelayanan oleh JNE bisa ditingkatkan lagi, terutama jika saat terjadi antrean cukup panjang di stand Shobat Simah yakni dengan penambahan tenaga.
“Namun itu sih bisa kondisional ya, karena kalau ternyata antrean sedikit tapi ditambah petugas lagi nanti malah muspro,” tandasnya.
“Dan mudahnya lagi, saat kita menggunakan pelayanan pengiriman obat di sini, ada petugas yang tetap akan memberikan tentang aturan pakai obatnya ke pasien. Jadi Ketika obatnya sore hari udah sampai di rumah bisa tinggal diminum,” lanjutnya.
Senada dengan pasien lainnya, Romdonah (55), menjelaskan, dirinya juga merasa sangat senang dan terbantu dengan adanya pelayanan hantar obat pasien ke rumah, sekarang tidak perlu repot lagi untuk berlama lama menunggu di rumah sakit.
“Kalau menunggu terlalu lama badan sudah tidak kuat, terasa capek juga, apalagi saya sudah menunggu antrean cukup lama saat kontrol. Enaknya bisa langsung ditinggal pulang untuk istirahat sehabis kontrol, cuma saya menyempatkan daftar dulu sebentar di stand JNE nanti obatnya sampai ke rumah,” terangnya.
Sedangkan layanan pengiriman obat pasien ini sudah dibuka saat dilaunching oleh rumah sakit umum daerah dr H. Soewondo Kendal pada 2023 lalu.
“Jadi layanan baru di rumah sakit ini kurang lebih berjalan selama dua tahun. Inovasi layanan Shobat Simah ini memang dibuat untuk mengantarkan obat pasien rawat jalan atau poliklinik di area pengantaran se Kabupaten Kendal dengan tarif layanan sebesar Rp 9.000,” imbuh Account Executive JNE Kendal, Lukman Nul Khakim, Selasa (17/6) .
Menurut Lukman, dengan adanya berbagai layanan inovasi ini, pihaknya kini mulai dipercaya oleh customer dan dapat bersaing dengan perusahaan jasa pengiriman lainnya, baik itu milik BUMN maupun swasta.
“Kali ini kami hadirkan di rumah sakit umum daerah dr. H. Soewondo yakni Shobat Simah dan kami juga melakukan kerjasama dengan sejumlah rumah sakit umum dan swasta lainnya di sekitar wilayah Semarang, seperti Pekalongan, Batang, Rembang dan Salatiga. Pelayanan ini dibuat untuk memudahkan pasien dan sekaligus memberikan pelayanan pengiriman yang prima dan profesional agar tidak terlalu lama menunggu di rumah sakit saat mengambil obatnya,” katanya.
“Kami juga ada akses untuk pengantaran obat sampai ke wilayah yang memiliki medan cukup berat dan jaraknya dari kota juga cukup jauh, yakni Sukorejo. Karena area atau topografinya di sana berupa perbukitan, dan umumnya penuh tantangan. Jadi salah satu daerah atau desa yang terpencil sekalipun di situ tetap kita akses. Pengiriman obat di Sukorejo ini akan sampai pada hari berikutnya. Selain itu, kami pun mengirimkan juga sampai di luar kabupaten Kendal, seperti Batang, Semarang dan Jakarta,” sambung Branch Head JNE Kendal, Mariana DF yang ikut menambahkan.
Mariana mengatakan, rata-rata pihaknya melakukan pengantaran obat setiap harinya untuk diantarkan ke pasein yakni sebanyak 60 obat.
“Sehingga per bulan kami dapat mengantarkan obat sebanyak 1.500 obat. Kecuali jenis obat yang memang tidak bisa dikirimkan lewat layanan JNE, karena ada obat-obat tertentu hanya bisa diberikan secara langsung oleh rumah sakit dan harus mendapatkan perlakuan khusus, agar obat tetap baik serta tidak rusak,” ungkapnya.
Sedangkan alur pelayanan Shobat Simah dari JNE, kata dia, prosesnya tidak rumit dan sangat singkat. Bahkan dia mengklaim tidak sampai dua menit.
“Pasien hanya menyerahkan nomor antrean pada saat mendaftarkan pengambilan obat di apotik saja, lalu kita sudah entrikan nama dan alamatnya. Kalau pasien sudah melakukan transaksi, lalu mereka mendapatkan resi dan tidak perlu mengantre obat di ruang tunggu lagi dan bisa langsung pulang,” katanya.
Menariknya lagi, di layanan Shobat Simah ini, apabila pasien yang sudah pernah menggunakan layanan yang sama sebelumnya, akan diberikan diskon dengan syarat bisa menunjukkan resi transaksinya.
“Kalau syarat ini dipenuhi pelanggan akan langsung kita berikan potongan harga yang awalnya RP 9.000 menjadi Rp 8.000,” jelasnya.
“Dan selama ini pasien tidak pernah mempermasalahkan besaran biaya pengiriman obatnya, asalkan obat mereka aman dan cepat sampai tujuan. Serta tidak harus menunggu lama dan bolak- balik ke rumah sakit. Dan tanggapan dari pasien merasa senang dan happy. Kalau pasien kebetulan tidak membawa uang tunai, kami pun melayani pembayaran dengan sistem Cash on Delivery (COD),” lanjutnya.
Umumnya, kata Mariana, lebih dari 60 obat tiap harinya yang dikirimkan ke pasien, sudah tersebar di 20 kecamatan di Kendal. Memang sementara ini data yang diperoleh sementara daerah yang terbanyak pengiriman obatnya ada di tiga wilayah, yakni dari Patebon, Kendal Kota dan Pegandon.
“Lalu, baru disusul daerah lainnya, baru wilayah Ambarawa dan Jakarta. Estimasi waktu tibanya untuk daerah luar kota Kendal dan Semarang untuk pengiriman obat tersebut tidak pada H+1 atau hari berikutnya namun harus menunggu 2 sampai 3 hari untuk sampai, karena disesuaikan dengan paket yang reguler. Biasanya, pengiriman obat yang dikirimkan ini belum terlalu mendesak bagi pasien,” paparnya.
Mariana menyampaikan, bahwa dari sisi keamanan obat yang dikirimkan, saat ini terbilang sangat aman, obat dikemas dengan menggunakan wadah kardus, ditambah bubble wrap supaya obat terutama di dalam botol tidak rusak.
“Ini adalah amanah yang harus kami jaga terus kepercayaan dari pelanggan. Nanti ada tiga kurir kita yang bertugas sesuai dengan wilayahnya masing – masing. Biasanya untuk penyelesaian pengemasan obat membutuhkan sekitar satu jam yang dihitung dari acara serah terima obat dari pihak rumah sakit ke JNE. Setelah itu obat dibawa ke kantor untuk disortir baru diserahkan ke masing-masing kurir. Kami usahakan obat yang sudah dibawa ke kantor langsung diterima ke kurir jadi obat segera terdistribusi,” tandasnya.
Di RSUD sendiri, disediakan tim pick up khusus yang melakukan proses pengemasan obat dan sekaligus membawanya ke kantor.
“Selanjutnya, kita bagikan ke kurir masing -masing wilayah, setelah melalui proses checking dari petugas di kantor dengan waktu hanya berkisar 5-10 menit agar sesuai dengan data obat pasien,” tambahnya.
Untuk sampai ke rumah pasien, para kurir tetap berupaya keras, meski kadang terhambat dengan cuaca ekstrem maupun faktor alam lainnya yang tidak bisa diprediksi. Seperti di beberapa wilayah di Kendal beberapa waktu lalu sempat terdampak banjir tinggi.
“Kurir kita tetap mengantarkan obat pasien sesuai dengan tagline kami yakni Connecting Happiness untuk terus menyampaikan kebahagiaan kepada customer kita. Jadi waktu itu di wilayah kecamatan Kendal kota itu ada banjir tinggi, artinya disini juga diperlukan tenaga yang lebih dari para kurir kami di lpangan untuk mengantarkan obat ke pasien sampai di hari yang sama ketika pasien itu kontrol ke rumah sakit,” kata Mariana.
–Perjuangan dan Suka Duka Kurir saat Pengiriman Obat
Seperti yang dialami Suradi (42) salah satu kurir JNE, mengungkapkan, bahwa kendala yang kerap ditemui di area wilayahnya yaitu Kendal Kota, a alah akses jalan yang kerap sulit dilalui kendaraan. Pasalnya, saat beberapa daerah tergenang banjir sampai ketika mengalami kesulitan untuk menemukan alamat tujuan pasien.
“Kalau terjadi banjir, seperti daerah Kendal Kota, Brangsong, Ngampel juga terdampak. Seperti pada awal Februari lalu, bahkan daerah Karangsari sampai Bandengan ikut terimbas banjir dan bahkan menjadi daerah yang paling parah,” katanya, saat diwawancarai di sela aktivitasnya menata obat ke dalam krombong motornya, Rabu (18/6).
Lalu, belum lagi, kata Suradi, jika ada kesalahan pasien pada saat mencantumkan alamat pengiriman obat seperti data RT/RWnya yang masih keliru, tentu bisa berdampak.
“Membuat kami kesulitan untuk menemukan rumahnya, karena terkadang ada nama pasien yang sama, namun RT/RWnya yang beda, jadi kami periksa lagi, memang kalau pengiriman pertama masih salah, tapi untuk pengiriman berikutnya sudah tidak salah lagi, jadi jangan sampai terulang lagi,” ujarnya.
Meski sering menemui banyak kendala di lapangan, Suradi mengaku bahwa, tidak sedikitpun membuat langkahnya terhenti, justru makin bersemangat dan terus tergerak agar obat tersebut sampai ke rumah pasien.
“Meski ada dukanya pas kena banjir contohnya, tetap kita hantar, kita tetap jalan mengantarkan obat sampai ke rumah pasien, apalagi barang ini penting untuk menyembuhkan orang yang sakit. Kadang kita harus jalan kaki turun dari motor cukup jauh karena terhadang oleh banjir yang cukup tinggi, kita jalan dulu beberapa ratus meter sampai dekat lokasi nanti baru memberi tahu dan janjian ketemuan dengan keluarga pasien agar obatnya diambil di tempat yang aman dari genangan banjir,” paparnya.
Setiap harinya, dirinya mengaku mengantarkan sekitar 30 obat ke rumah pasien. Karena dari rumah sakit obat dibagi ke tiga kurir untuk masing-masing wilayah tugasnya.
“Untuk di Kendal Kota, dan sekitarnya mencapai 30 obat, hari itu juga harus sampai ke rumah meski kadang juga sampai malam hari, niatan kami menolong agar obat segera sampai ke pasien,” kata bapak dua orang anak ini.
Suradi menjelaskan, jika kemasan obat yang dibawanya semuanya memiliki pembungkus plastiknya yang khas berwarna orange, dan di dalamnya terdapat kardus sebagai pengaman.
“Ketika membawanya pun kita harus selalu hati -hati, karena resikonya juga tinggi. Takutnya obat jadi rusak ataupun amit -amit apalagi sampai terjatuh, akibatnya nanti tidak bisa diminum pasien. Selama ini Alhamdulillah lancar tidak masalah apa -apa, JNE juga sudah mengemas obat dengan aman dan bagus,” ujarnya.
Sejak lima tahun menjalani sebagai kurir, Ia bersama rekannya, merasa tetap harus bersyukur karena masih diberikan kecukupan rejeki dan keadaan sehat.
“Ada juga pengalaman sukanya yang kami dapatkan, mulai dari diberikan uang tip sampai diberikan hasil bumi untuk dibawa pulang. Seringnya di kota diberi tips dari pelanggan untuk sekedar buat beli es teh, atau kopi. Tapi kalau teman saya, ada di wilayah lainnya sampai dikasih berupa hasil panenan, misalnya jagung atau ketela untuk dibawa pulang. Karena sudah lama kenal, dan dianggap seperti keluarga sendiri kadang dijamu dan diajak ngobrol, sebagai bentuk ucapan terimakasihnya telah mengantarkan obatnya sampai ke rumah,” katanya sambil tersenyum.
Suradi juga berharap, perhatian dari kantor tempatnya bekerja yang saat ini kepada para kurir sudah cukup baik ini bisa ditingkatkan.
“Selama ini kami menikmati dan juga kerasan, begitu juga kantor karena memberikan memperhatikannya kepada karyawan,” tuturnya.
Sementara, Pengamat Ekonomi Undip, Wahyu Widodo, mengungkapkan, bahwa pada dasarnya inovasi adalah cara atau pendekatan baru untuk meningkatkan produktivitas, apapun jenis kegiatannya dan bisa menggunakan teknologi yang biasa atau mutakhir. Dalam industri jasa, misalnya yang menjadi patokan utama adalah kepuasan dan kenyamanan dari customer.
“Jika ini bisa dipenuhi, dipastikan akan mendapatkan respon yang positif dan bahkan kepercayaan dari customer. Dalam struktur industri dengan tingkat persaingan yang ketat, inovasi kita harus bisa lebih baik dari pesaing,” ujarnya.
Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade melayani Indonesia, kata Wahyu, JNE tentunya memiliki strategi untuk terus melekatkan di hati masyarakat. Dengan layanan yang terus berkembang membuat salah satu perusahaan jasa pengiriman yang terpopuler di Indonesia bisa makin tumbuh seperti sekarang ini. Apalagi misalnya, dengan layanan cerdas, Shobat Simah ini nantinya akan memberikan efek yang luas bagi masyarakat untuk selalu loyal.
“Diferensiasi produk yang kita tawarkan kepada customer bisa menjadi pembeda dari yang lain. Kita memerlukan assessment untuk mengetahui bagaimana respon dari customer, maka market survei menjadi penting untuk dilakukan. Inovasi juga harus bersifat terus menerus dan berkesinambungan, karena pesaing juga akan melakukan hal yang sama,” ungkap Wahyu.
Sementara, Kepala Instalasi Farmasi RSUD dr H. Soewondo, apt. Tria Meilani,S.Farm, menjelaskan, bahwa layanan Shobat Simah salah satu inovasi penunjang pelayanan rumah sakit terutama di bagian Farmasi untuk memangkas waktu tunggu dan meningkatkan kepuasan pelanggan.
“Layanan Shobat Simah diluncurkan sebagai penyedia layanan pelanggan bersama JNE untuk meningkatkan pelayanan farmasi rawat jalan. Karena dulunya selalu dikeluhkan pasien yang waktu tunggunya lama. Serta dapat mengurangi jumlah pasien yang ada di ruang tunggu Farmasi saat jam pelayanan yang selalu penuh,” katanya.
“Kami pun sangat senang adanya pemantauan bersama obat sampai ke pasien dan selalu dapat laporan dari JNE, bahwa obat itu sudah terkirim atau belum karena terjadi error atau mengalami sesuatu hal saat proses pengiriman obat kita,” lanjutnya.
Selain bekerja profesional, pihaknya menerangkan, bahwa ketertarikan untuk menggandeng JNE, karena dapat memberikan tarif atau biaya pengiriman yang terjangkau kepada para pengguna jasa, lalu keunggulan lainnya dari sisi packaging atau pengemasan obatnya juga sangat memperhatikan aspek keamanannya.
“Sangat bagus sekali, dulunya menggunakan plastik berwarna orange terkemas rapi dan aman. Sekarang ditambah lagi pengamanan obat dengan sudah terbungkus kardus yang membuat obat jadi lebih aman,” ujar Tria.
Namun, kata Tria, memang tidak semua jenis obat-obatan yang bisa dikirimkan oleh JNE.
“Kita sudah koordinasikan terkait jenis obat apa saja yang bisa dihantar atau yang tidak boleh dikirim. Yaitu obat yang termasuk sifatnya termolabil atau mudah rusak karena oleh faktor suhu ekstrem itu tidak bisa dikirimkan lewat layanan Shobat Simah. Kemudian, jenis obat psikotropika dan narkotika. Ini adalah upaya kita untuk mengantisipasi penyalah gunaan obat psikotropika dan narkotika. Sedangkan obat termolabil sendiri, seperti insulin yang harus dijaga kestabilan suhunya,kemudian beberapa jenis obat supositoria juga rentan meleleh jika terkena suhu tinggi,” paparnya.
“Umumnya obat pasien yang tidak diperkenankan untuk dikirim, yakni obat pasien di poli satu atau poli jiwa. Jadi kalau obatnya ada yang jenis termolabil, misalnya insulin akan kita langsung cepat berikan terlebih dulu kepada pasien, sedangkan obat lainnya bisa dikirim menyusul,” kata Tria menambahkan.
Tria juga meminta kepada pasien seusai menjalani pemeriksaan, untuk tetap mengambil nomor antrean terlebih dulu ke petugas Farmasi.
“Lalu menginformasikan ke petugas jika akan menggunakan fasilitas layanan Shobat Simah atau tidak. Nantinya, untuk diberikan stempel khusus , tapi tetap diimbau untuk menunggu sebentar agar diberikan pelayanan informasi terkait tata cara penggunaan obat yang didapatkan pasien. Sehingga ketika obat sampai di rumah tidak bingung cara penggunaannya. Ini sudah menjadi SOP kami di dalam pelayanan penggunaan obat di rumah sakit. Baik itu untuk pasien rawat jalan ataupun pasien rawat inap,” terangnya.
Di bagian pelayanan Farmasi, saat ini rata -rata memiliki waktu tunggu telah mencapai target standar pelayanan rumah sakit, yakni resep pasien obat non racikan ditunggu selama kurang atau sama dengan 30 menit saja.
“Saat ini sudah tercapai targetnya, sedangkan obat racikan kurang atau sama dengan 60 menit. Jadi bisa membantu menurunkan waktu tunggu pasien dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Karena setiap hari kami melayani sekitar 300-400 pasien. Belum lagi saat momen setelah libur panjang, biasanya pelayanan akan bertambah crowded dan pelayanan akan melonjak hingga 500 pasien. Sehingga berpengaruh pada waktu tunggu yang jadi tambah selama 20 menit. Dampaknya, obat yang diterima sampai ditangan pasien butuh waktu selama 50 menit untuk obat non racikan. Sementara obat racikan akan butuh waktu tunggu lebih dari satu jam,’’ bebernya.
Sedangkan obat pasien yang dikirimkan dengan layanan JNE akan ditangani oleh petugas khusus.
“Ada petugas khusus untuk menangani pelayanannya agar tidak tercampur dengan pasien yang menunggu obat di sini. Karena di pukul 12 .30 WIB. Itu kita mulai lakukan serah terima dengan pihak JNE, untuk mencocokan data pasien, mulai nama dan alamat tempat tinggal dan nomor kontak yang bisa dihubungi. Untuk mengantisipasi kesalahan pemberian obat ke pasien. Karena bisa saja namanya dan alamatnya sama namun itu banyak sekali. Namun yang membedakan adalah pada nomor CM dan tanggal lahir pasien,” jelasnya.
Obat yang telah dikemas JNE, dan siap dikirimkan, kemudian akan dibawa ke kantor JNE untuk disortir.
“Dan dikirimkan ke pasien melalui kurir mulai sore hari. Nanti pukul 21.00 WIB (9 malam), kita diberikan laporan bahwa pengiriman obat ke semua pasien sukses terkirim. Namun bila terjadi masalah rumah pasien tidak ketemu atau nomor pasien gagal dihubungi nanti itu akan terlaporkan dan akan dicarikan solusinya bersama. Memang kadang nomor kontak yang diberikan ke pihak JNE dan rumah sakit bukan nomor sendiri pasien atau nomornya salah. Pada hari berikutnya juga tidak bisa terkirim ke pasien obat akan dikirim lagi ke rumah sakit, nanti pasien diharap untuk mengambil lagi ke rumah sakit. Dan biaya pengiriman akan dikembalikan ke pasien karena gagal terkirim,” pungkas Tria. (HS-06)
#JNE
#ConnectingHappiness
#JNE34SatSet
#JNE34Tahun
#ContentCompetition2025
#JNEInspirasiTanpaBatas