in

Poster Lukisan Tangan Tetap Dijaga Bioskop Rajawali Purwokerto Sejak 1980

Seniman lukis Parsan sedang melukis poster untuk film di Bioskop Rajawali Purwokerto.

HALO BANYUMAS – Iklan film dengan poster lukisan buatan tangan seniman masih dijaga gedung bioskop Rajawali Purwokerto sejak 1980 hingga sekarang. Berbagai poster lukisan mencolok, imajinatif dan memukau ditampilkan untuk menarik penonton.

Bioskop Rajawali, yang terletak di jantung kota, yaitu di Jalan S Parman 69 Purwokerto bukanlah sekadar ruang gelap berisi kursi dan layar lebar, tetapi juga sebagai monumen hidup dari kejayaan masa lampau. Di mana seni dan sejarah berkelindan dalam wujud yang unik, yaitu poster film lukisan tangan.

Poster lukisan itu masih terpampang di dinding depan bioskop, menyambut setiap pengunjung dengan nuansa klasik yang tak tergantikan oleh cetak digital. Bahkan proyektor film tahun 80an terpajang dipintu masuk samping.

Menurut kordinator operasional Bioskop Rajawali Purwokerto, Rahmat Hidayat, lukisan yang terpajang dilukis oleh seniman asli Purwokerto bernama Parsan yang melukis sejak tahun 1986.

“Setiap poster untuk pemutaran film yang akan datang dan sedang tayang kami buat manual, dilukis langsung oleh seorang pelukis bernama Pak Parsan. Jadi poster dari lukisan bukan dari printer,” ujarnya kepada lah melewati berbagai fase masa kejayaan film Indonesia di era 80-an, surutnya perfilman nasional di awal 2000-an, hingga bangkitnya era streaming. Di saat banyak bioskop legendaris berguguran, Rajawali tetap buka meski dengan penyesuaian.
“Pernah hanya ada satu pertunjukan dalam sehari. Tapi kami tetap buka. Penonton mungkin tak sebanyak dulu, tapi yang datang itu setia. Ya dalam sehari, sekarang mencapai 500 – 600 penonton,” ungkapnya.
Rahmat menyebut, di hari-hari tertentu, pengunjung tidak hanya datang untuk menonton, tetapi juga untuk sekadar melihat poster film baru yang dipajang.
Tak sedikit wisatawan dari luar kota yang menjadikan Bioskop Rajawali sebagai salah satu titik kunjungan. Bagi mereka, ini bukan sekadar bioskop, tetapi lokasi ikonik yang merawat ingatan kolektif masyarakat akan masa keemasan perfilman analog.

“Ada yang mengabadikan, ada pula yang bertanya apakah lukisan tersebut dijual,” imbuh Rahmat.

Dirinya juga menjabarkan, setiap lukisan poster hanya memakan waktu dua jam ketika ada pergantian film baru.

“Prosesnya dimulai dari memilih adegan paling kuat dari film, lalu memindahkannya ke kanvas besar yang dipasang di tripleks. Tak jarang, Pak Parsan juga harus menonton film terlebih dahulu sebelum melukis. Sehingga, bukan hanya sekadar menyalin gambar namun nuansa cerita, emosi dari karakter dalam film yang dituangkan ke dalam lukisan,” beber Rahmat.

Kini, Bioskop Rajawali terus beradaptasi, meski tetap mempertahankan poster lukisan tangan, sistem penayangan telah berganti ke format digital. Penonton bisa membeli tiket langsung di loket dengan harga yang masih terjangkau, jauh di bawah bioskop modern berkelas mal.

“Kami tak hanya bertahan, namun sudah menjadi simbol bahwa di tengah gelombang perubahan, ada nilai yang tetap layak diperjuangkan ketekunan, keaslian, dan kecintaan terhadap karya seni,” tandas Rahmat.

Sementara penggemar film yang diputar di Bioskop Rajawali, Salwa, mahasiswi warga Purwokerto mengaku, hingga saat ini dirinya masih setia menikmati film film yang diputar di Rajawali terutama saat sedang libur atau sedang tidak ada kegiatan.

“Saat sedang libur kuliah atau saat tidak ada kegiatan, saya ya kadang nonton di Bioskop Rajawali ini bersama teman teman. Untuk harga tiketnya masih terjangkau lah buat kantong-kantong kita,” ujarnya sambil menunjukkan tiket Rp 30 ribu. (HS-06)

 

Retret Pemprov Jateng, Pemkot Semarang Siap Perkuat Kolaborasi

Biaya Mandiri, ISSI Kendal Siap Jadi Tuan Rumah Kejurda dan Popda Balap Sepeda Jawa Tengah