HALO BATANG – Luas panen dan produksi padi di Kabupaten Batang, pada 2024 mengalami penurunan dibandingkan 2023.
Menurut publikasi Berita Resmi Statistik (BRS) No 17/03/33/Th XIX, 3 Maret 2025 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah, bahwa luas panen padi di Kabupaten Batang tahun 2024 diperkirakan mencapai sekitar 25,54 ribu hektare.
Angka ini lebih kecil dibandingkan luas panen padi tahun 2023, yang mencapai 26,69 ribu hektare, atau turun 1,15 ribu hektare atau turun 4,32 persen.
Kepala BPS Batang Heni Djumadi, mengatakan penurunan juga terjadi pada produksi padi dari wilayah itu.
Menurut data BPS, pada 2024, produksi Gabah Kering Giling (GKG) mencapai 139,93 ribu ton.
Angka ini lebih kecil 6,43 ribu ton GKG atau turun 4,39 persen, dibandingkan produksi padi di tahun 2023 yang mencapai 146,35 ribu ton GKG.
Produksi beras tahun 2024 yaitu sebesar 80,47 ribu ton mengalami penurunan sebanyak 3,69 ribu ton atau turun 4,39 persen dari tahun 2023 yaitu sebesar 84,16 ribu ton.
“Penurunan produksi ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk fenomena El Niño yang berdampak pada mundurnya musim tanam karena kurang curah hujan,” kata dia di Kantor BPS Batang, Kabupaten Batang, belum lama ini.
Akibat El Nino, musim panen diperkirakan mundur ke Maret-April 2024. Bergesernya musim tanam, dapat digambarkan pada pengamatan Kerangka Sampel Area (KSA) di Kabupaten Batang yang dilaksanakan secara rutin di tujuh hari setiap akhir bulan.
Meskipun mengalami penurunan, produksi padi di Provinsi Jawa Tengah, termasuk Kabupaten Batang, tetap memberikan kontribusi signifikan terhadap kebutuhan pangan nasional.
Pada akhir tahun 2024, produksi padi di Jawa Tengah mencapai 8.891.297 ton, dengan luas panen 1.554.777 hektare, menyumbang sekitar 16-17 persen dari kebutuhan pangan nasional.
“Kerangka Sampel Area (KSA) merupakan pendekatan berbasis pengamatan dengan metode pengamatan produksi padi yang berbasis citra satelit dan survei lapangan. Metode ini untuk meningkatkan akurasi data produksi padi,” kata dia, seperti dirilis batangkab.go.id.
Beberapa tahapan dalam metode KSA meliputi, pemantauan pertumbuhan padi menggunakan citra satelit dan pengamatan langsung di lapangan; penentuan luas panen berdasarkan titik sampel yang telah ditetapkan; dan estimasi hasil produksi dengan mengkombinasikan data pengamatan dan analisis spasial.
Keunggulan Metode KSA salah satunya dapat memberikan data yang lebih akurat tentang luas panen dan produksi padi di suatu wilayah dibandingkan metode konvensional.
Heni Djumadi juga menyebutkan, sejak 2018 metode KSA digunakan untuk penghitungan luas panen padi. Luas panen padi dihitung berdasarkan pengamatan yang objektif (objective measurement) menggunakan metodologi KSA yang dikembangkan oleh BPPT dan BPS.
Sampai saat ini, metodologi KSA menggunakan 25.577 sampel segmen dengan lahan berbentuk bujur sangkar berukuran 300 m x 300 m (9 hektare) dan lokasi yang tetap. Saat ini, total titik amatan Survei KSA dalam satu bulan mencapai 230.193 titik amatan.
“Setiap bulan, masing-masing sampel segmen diamati secara visual di sembilan titik dengan menggunakan HP berbasis android sehingga dapat diamati kondisi pertanaman di sampel segmen tersebut diantaranya persiapan lahan, fase vegetatif awal, fase vegetatif akhir, fase generatif, fase panen, potensi gagal panen, lahan pertanian ditanami selain padi, dan bukan lahan pertanian. Hasil amatan kemudian difoto dan dikirimkan ke server pusat untuk diolah,” terangnya.
Pengamatan yang dilakukan setiap bulan memungkinkan perkiraan potensi produksi beras untuk 3 (tiga) bulan ke depan dapat disediakan, sehingga dapat digunakan sebagai basis perencanaan tata kelola beras yang lebih baik.
“Sedangkan estmasi angka produktvitas padi diperoleh dari Survei Ubinan. Sejak tahun 2018, BPS menggunakan hasil Survei KSA dalam penentuan sampel ubinan. Penggunaan basis KSA dalam menentukan sampel ubinan bertujuan mengurangi risiko lewat panen (non-response)
Berdasarkan hasil pengukuran menggunakan metode ubinan dan KSA, produksi padi di Kabupaten Batang mengalami fluktuasi yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kondisi cuaca, hama tanaman, ketersediaan air irigasi, dan penerapan teknologi pertanian.
Secara umum, wilayah dengan sistem irigasi yang baik cenderung memiliki hasil panen lebih tinggi dibandingkan daerah yang bergantung pada curah hujan.
“Selain itu, penggunaan benih unggul, pupuk yang sesuai, serta penerapan metode pertanian berkelanjutan juga berperan dalam meningkatkan produksi padi. Pemerintah daerah bersama Dinas Pertanian setempat terus melakukan pendampingan kepada petani agar produksi padi tetap optimal,” imbuhnya.
Untuk memperoleh produksi padi dengan metode ubinan yaitu estimasi produksi dengan sampel lapangan yang digunakan untuk memperkirakan hasil panen padi di suatu lahan dengan cara mengambil sampel petak ubinan yang berukuran 2,5 m × 2,5 m (6,25 m²).
Dengan dukungan teknologi dan inovasi, diharapkan produksi padi di Kabupaten Batang terus meningkat guna mendukung ketahanan pangan nasional. (HS-08)