in

DBD di Kendal : 114 Warga Terjangkit, Lima Meninggal Dunia

Ilustrasi

HALO KENDAL – Sebanyak 114 kasus demam berdarah dengue (DBD) dan lima di antaranya dinyatakan meninggal dunia ditemukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kendal sejak awal 2025.

Hal tersebut disampaikan Kepala Dinkes Kendal, dr Abidin usai menggelar rapat monitoring dan evaluasi (Monev) kasus DBD di Gedung Abdi Praja Setda Kendal, Senin (24/2/2025).

“Per tanggal 22 Februari 2025, ditemukan ada 114 warga yang terjangkit DBD, dan lima meninggal dunia,” ujarnya.

Menurut Abidin, jumlah warga yang terjangkit DBD dan yang meninggal dunia dengan perhitungan di bulan yang sama, menurun dibandingkan dengan tahun 2024.

“Di tahun 2024 di bulan yang sama jumlahnya lebih banyak dan yang meninggal dunia mencapai 13 orang,” jelasnya.

Untuk menekan tingginya kasus DBD, pihaknya akan menggalakkan progam Pemberantasan Sarang Ntyamuk (PSN) dan perlahan akan mengurangi kegiatan fogging.

Abidin menilai, PSN lebih efektif menekan tingginya kasus DBD dibandingkan dengan melakukan fogging.

“PSN itu memberantas jentik, kalau fogging hanya membunuh nyamuk yang terbang. Padahal, nyamuk itu hewan yang sangat sensitif pendengarannya. Begitu ada suara fogging bisa langsung terbang menjauh,” paparnya.

Abidin menambahkan, progam PSN yang digalakan ini dalam setiap minggunya akan dilakukan di seluruh Puskesmas yang ada di Kabupaten Kendal.

“Rencananya, pelaksanaan progam pemberantasan sarang nyamuk ini akan digelar setiap hari Jumat,” imbuhnya.

Sementara itu, Mulyono Sastrowardoyo dari Dinkes Jawa Tengah menjelaskan, persepsi yang biasa muncul di masyarakat setiap ditemukan kasus DBD harus dilakukan fogging. Padahal, ke depan pihaknya akan berupaya untuk meniadakan fogging lagi.

“Kita akan rubah persepsi yang keliru di masyarakat terkait harus dilakukan fogging jika ditemukan kasus DBD. Senjata yang akan kita gunakan adalah mendirikan Jumantik atau Juru Pemantau Jentik di setiap rumah warga,” jelasnya.

Di progam Jumantik, Mulyono berharap supaya ada satu orang di setiap rumah warga yang ditugasi untuk mencari jentik nyamuk. Tugas mencari jentik harus dilakukan minimal seminggu sekali.

Dia pun menegaskan, untuk menghapus fogging akan dilakukan pihaknya secara perlahan.

Hal itu, mengingat persepsi masyarakat sangat kuat jika ada salah satu warganya yang terjangkit DBD harus difogging. Apalagi ketika yang terjangkit DBD meninggal dunia.

“Penghapusan fogging tidak kita lakukan secara frontal. Kita lakukan perlahan, pelan-pelan diiringi dengan memberikan edukasi terhadap masyarakat,” tandas Mulyono.

Diterangkan, progam PSN sangat mudah, murah dan aman bagi masyarakat. Berbanding terbalik dengan fogging, yang berbahan insektisida, memiliki resiko besar baik untuk manusia maupun untuk nyamuk.

“Fogging bisa menyebabkan nyamuk resisten atau kebal terhadap fogging sehingga obat fogging perlu ditambah. Sedangkan bahaya bagi manusianya, yakni dapat meracuni makanan yang ada di rumah, karena berbahan kimia,” beber Mulyono.

Selain itu, berbahaya bagi keberlangsungan mahluk hidup seperti hewan peliharaan, baik ayam, burung ataupun kucing, serta tanaman yang akan dikonsumsi manusia, seperti sayuran. (HS-06)

 

17,9 Juta Pemudik Diprediksi Masuk Jateng pada Lebaran 2025, Pemprov Optimalkan Perbaikan Jalan

Jelang Ramadan, Sekjen Kemendagri : Pemda Harus Kendalikan Harga