HALO SEMARANG – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Tengah melibatkan unsur masyarakat untuk upaya pencegahan pelanggaran kampanye Pemilu 2024. Seperti kampanye hitam, berita bohong atau hoax dan ujaran kebencian, terutama yang beredar lewat sosial media (Sosmed).
Pencegahan itu dinilai penting karena kampanye hitam, hoax dan lainnya itu akan berdampak pada penurunan kualitas Pemilu, mengancam demokrasi, sampai rawan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.
Anggota Komisioner Bawaslu Jawa Tengah, Sosiawan menjelaskan, bahwa kampanye hitam, penyebaran hoax, ujaran kebencian akan muncul saat gelaran kampanye pemilu, sehingga harus terus diwaspadai.
“Upaya pencegahan bisa bentuk sosialisasi, pendidikan politik, termasuk bentuk relawan patroli siber. Dan tentunya patroli relawan siber ini bersinergi dengan pihak kepolisian, diskominfo, maupun organisasi wartawan. Diharapkan adanya kolaborasi ini sebagai upaya preventif pengawasan yang dilakukan oleh masyarakat lewat pihak- pihak tersebut,” papar Sosiawan usai membuka acara Pembekalan Pengawas Patroli Siber, Pencegahan Pelanggaran Kampanye dan Konten Internet yang digelar Bawaslu Jateng di Metro Park View, 7-8 Desember 2023.
Sosiawan melanjutkan, Bawaslu telah memetakan kerawanan Pemilu 2024. Yakni berupa penyebaran hoax dan kampanye hitam, politik uang, sara, netralitas ASN, TNI-Polri, pejabat fungsional, struktural dan pengerahan aparat desa.
Harapan dia, adanya kegiatan ini, sekaligus nantinya di seluruh Bawaslu kab/kota se Jateng juga dapat membentuk patroli relawan siber.
“Tak hanya di Bawaslu, partisipasi publik patroli siber punya perhatian juga pada masalah sosial, kebangsaan, kita libatkan pasukan siber kita, ikut dalam pengawasan, sosialisasi dan kepada masyarakat bentuk-bentuk kampanye hitam dan hoax,” katanya.
Saat ini sudah ada beberapa Bawaslu kabupaten/kota yang memiliki pasukan atau relawan siber, dengan menggandeng PWI, AJI, polres setempat, maupun pelibatan masyarakat yang aktif di dunia pengawasan konten di internet, yaitu Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo).
Salah satu narasumber, Syifaul Arifin, dari Presidium Mafindo sekaligus Jurnalis, mengatakan, ada beberapa tantangan kampanye Pemilu tahun 2024 ini yakni misinformasi, disinformasi, penyebaran hoax, doxing data pribadi disebarkan kepada publik di medsos, sampai saling mendukung salah satu calon dengan teknologi Artifisial Intelligence (AI).
Menurutnya, penting untuk berkolaborasi melakukan cek fakta bersama Bawaslu, agar berita yang muncul benar-benar mendukung kampanye pemilu berintegritas dan damai. (HS-06)