HALO SEMARANG – Para pemimpin negara ASEAN dan Republik of Korea (RoK) atau Korsel, dalam KTT ASEAN-RoK, membahas situasi keamanan kawasan, termasuk yang terkait program nuklir yang bertentangan dengan hukum internasional.
Hal itu disampaikan Menlu RI, Retno Marsudi, terkait pertemuan yang dipimpin Presiden Jokowi tersebut, di Ruang Cendrawasih 3, Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Rabu (6/9/2023).
“Para pemimpin juga mengangkat isu yang terkait Semenanjung Korea, terutama peluncuran rudal dan program nuklir yang bertentangan hukum internasional dan mengancam keamanan kawasan,” kata Menlu, seperti dirilis presidenri.go.id.
Seperti diketahui, program nuklir dan rudal balistik Korea Utara semakin menjadi ancaman bagi perdamaian dunia.
Karena itulah Presiden Korea Selatan, Yoon Suk Yeol, mendesak agar ASEAN memberikan tanggapan lebih keras terhadap program rudal dan nuklir Korea Utara, pada pertemuan puncak ASEAN.
“Provokasi rudal dan ancaman nuklir Korea Utara yang terus membesar juga menjadi ancaman langsung dan nyata terhadap negara-negara anggota ASEAN,” katanya.
Selain ancaman nuklir Korea Utara, dalam pertemuan ASEAN dengan RoK tersebut dibahas pula sejumlah kerja sama, utamanya di sektor ekonomi baru atau emerging economy seperti teknologi finansial, ekonomi digital, dan ekosistem perusahaan rintisan.
“RoK mengumumkan kontribusi 30 juta Dolar Amerika Serikat, untuk peningkatan kapasitas di bidang artifisial intelligence dan juta dolar Amerika Serikat untuk implementasi AOIP (ASEAN Outlook on the Indo-Pacific-Red). Dalam pertemuan diangkat juga pentingnya melakukan upgrade ASEAN-ROK FTA (Free Trade Agreement),” tuturnya.
Lebih lanjut, Menlu Retno mengatakan bahwa pertemuan tersebut juga menghasilkan sejumlah kesepakatan kerja sama di berbagai sektor yang tertuang dalam satu dokumen yang diadopsi dan satu dokumen yang dicatat.
Adapun satu dokumen yang diadopsi adalah Joint Statement of the 24th ASEAN-Republic of Korea Summiton Cooperation on the ASEAN Outlook onthe Indo-Pacific (AOIP).
Menlu menyebut, dokumen tersebut merupakan dukungan terhadap implementasi kerja sama AOIP.
“Ini mengimplementasikan konsep AOIP di dalam kerja sama yang konkret, dan kali ini didukung oleh ROK termasuk tentunya di sektor maritim, infrastruktur, digitalisasi, rantai pasok, dan ekonomi hijau, dan UMKM,” ujarnya.
Sementara itu, satu dokumen yang dicatat dalam pertemuan tersebut, adalah Progress Report on The Implementation of The ASEAN-Republic of Korea (RoK) Plan of Action to Implement the Joint Vision Statement for Peace, Prosperity, and Partnership (2021-2025).
“Berisi kemajuan pelaksanaan rencana aksi Joint Vision Statement RI-RoK 2021-2025,” kata dia. (HS-08)