HALO REMBANG – Satpolairud Polres Rembang menggelar patroli, sekaligus memeriksa kondisi alat pemadam api ringan (APAR) yang dibawa nelayan, di Pelabuhan Tasikagung Rembang, Jumat (18/8/2023)
Kegiatan itu dilakukan untuk mencegah kebakaran kapal, seperti yang terjadi di Tegal beberapa waktu lalu.
Kasat Polairud AKP Sukamto, mewakili Kapolres Rembang AKBP Suryadi, mengungkapkan meskipun nelayan telah melengkapi kapalnya dengan APAR, namun perlu dilakukan pengecekan secara langsung untuk memastikan kondisinya, apakah masih dalam keadaan baik atau tidak.
Selain itu, Satpolairud juga mengecek masa kedaluwarsa APAR yang dibawa nelayan.
Sehingga ketika para nelayan membutuhkan APAR, kondisinya masih baik dan dapat digunakan dengan maksimal,” ungkapnya.
Kasat Polairud mengatakan, personelnya juga mengimbau para nelayan, agar mewaspadai kebakaran kapal saat berada di area dermaga.
“Kami mengimbau para nelayan, agar saat berlabuh di dermaga, menghindari parkir berhimpit-himpitan dengan kapal lain,” kata dia, seperti dirilis humas.polri.go.id.
Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kebakaran kapal, para nelayan juga diminta segera melaporkan ke Satpolairud Polres Rembang dan petugas dari Dinas Pemadam Kebakaran setempat.
“Sehingga penanganan dapat dilakukan dengan cepat, dan api tidak menjalar ke kapal di sekitarnya. Kita harus belajar dari kejadian beberapa hari lalu di pelabuhan Jongor di Tegal,” kata Sukamto.
Kebakaran di Tegal
Sementara itu sesuai kabar yang dirilis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tegal, peristiwa kebakaran hebat yang menghanguskan puluhan kapal itu, bermula pada 14 Agustus 2023 pukul 18.30 WIB.
Saat itu ada warga yang melihat adanya kebakaran kapal Milik H Zahro, di depan stasiun pengisian bahan bakar solar di pelabuhan Jongor Kota Tegal.
Api dengan cepat langsung membesar dan menjalar ke kapal di sebelahnya. Kondisi tersebut karena kencangnya angin serta jarak yang dekat antarkapal, sehingga mengakibatkan 52 kapal terbakar.
Pada tanggal 16 Agustus 2023 pukul 11.56 WIB, api kembali muncul dan membakar 9 kapal tambahan.
Hingga 16 Agustus, sebanyak 61 kapal sudah terbakar dan masih dilakukan upaya pemadaman oleh tim pemadam kebakaran
Pada tanggal 18 Agustus pukul 08.00 WIB api sudah mulai padam, petugas gabungan masih terus melakukan pendinginan di area sekitar lokasi kejadian.
Pukul 09.49 WIB pendinginan di sekitar area dilakukan menggunakan helikopter water boombing.
Sementara itu hingga 18 Agustus 2023, perkiraan jumlah kerugian sementara 62 unit kapal terbakar, ditaksir bernilai Rp 122 M.
Sebelumnya, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, juga meninjau lokasi kebakaran puluhan kapal nelayan di Pelabuhan Jongor, Kota Tegal, Rabu (16/8/2023).
Ia datang untuk memantau, sekaligus memberikan arahan langsung terkait proses pemadaman api.
Hasil pantauan di lokasi, ternyata proses pemadaman api terkendala peralatan dan kondisi angin kencang.
Untuk itu, Ganjar langsung mengambil langkah cepat berkoordinasi dengan Kepala BNPB Suharyanto, melalui telepon.
“Memang butuh peralatan, tadi saya sudah koordinasi dengan BNPB agar wali kota membuat surat darurat, sehingga kalau satu area itu seperti jebakan, mereka masuk di situ dan tidak bisa keluar sedangkan ditembak dengan pemadam kebakaran yang manual tidak selesai, nampaknya butuh waterboom pakai heli. Dari sana sudah siap,” jelasnya.
Ganjar mengatakan, penanganan adalah bagaimana memadamkan api yang membakar puluhan kapal itu. Ganjar meminta para petugas memastikan benar-benar tidak ada lagi titik api.
“Basarnas ini juga kami minta untuk turun ya, agar bisa kita keroyok. Yang penting dipadamkan dulu,” ungkap Ganjar.
Setelah proses pemadaman dan evakuasi bangkai kapal selesai, lanjut Ganjar, akan diambil langkah berikutnya. Yaitu mendesain ulang pelabuhan dan menyiapkan regulasi yang tegas agar kejadian serupa tidak terulang.
“Pasca itu saya sudah minta tadi dari Pemkot, dari Pemprov, dari KKP juga untuk kita re-design. Bagaimana regulasinya, bagaimana secara fisiknya agar ini bisa diatur dan tidak terulang. Aturannya mesti keras,” katanya.
Aturan tersebut juga berkaitan dengan asuransi kapal milik nelayan. Sebab, dari 57 kapal yang terbakar, semuanya tidak diasuransikan oleh pemiliknya. Apalagi, ada yang memiliki lebih dari satu kapal.
“Memang setelah saya tanya, satu pun tidak ada yang diasuransikan. Ini rasa-rasanya kami perlu edukasi dari HNSI, penting kapal diasuransi. Tadi ada dua kalau nggak salah yang memiliki lima kapal. Pasti kerugiannya cukup besar,” tegasnya.
Di samping menuntaskan proses pemadaman api, Ganjar juga sudah menyiapkan bantuan bagi para nelayan, khususnya nelayan yang terdampak dan tidak bisa melaut.
“Kami minta para nelayan yang tidak bisa melaut hari ini, kami kasih bantuan makanan dulu karena selama beberapa hari ini, ia akan kesulitan,” kata Ganjar.(HS-08)