Hal itu disampaikan Koordinator Forum Peduli Tanggul Kali Bodri atau “Petak Bodri”, Arif Fajar Hidayat, sebagai pernyataan sikap dalam Aksi Kliwonan, Doa Bersama 5.000 Korban Terdampak Banjir Kali Bodri, di lokasi tanggul Kali Bodri yang jebol, Jumat (1/8/2025) sekira pukul 13.00 WIB.
Diungkapkan, pada 21 Januari 2025 lalu, Sungai Bodri yang melintasi Kecamatan Patebon mengalami jebol tepatnya di Desa Kebonharjo. Jebolnya tanggul Sungai Bodri karena tidak kuat menahan ketika limpasan ketinggian dari Bendung Juwero.
Akibatnya, ketinggian air yang masuk ke permukiman warga sekitar Sungai Bodri hingga mencapai dua meter. Banjir tersebut menghempaskan apapun yang dilalui. Seperti fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan membuat ekonomi lumpuh total selama beberapa pekan.
Arif menjabarkan, kerusakan yang ditimbulkan akibat banjir bandang jebolnya tanggul berupa rumah roboh, sawah pertanian, kematian hewan ternak, alat elektronik, dokumen berharga dan harta benda lainnya mencapai miliaran rupiah.
“Belum lagi trauma psikologis masyarakat yang sampai sekarang belum sembuh. Selepas jebolnya tanggul Kali Bodri itu, kami nilai menyisakan masalah yang serius. Ada beberapa titik yang akhirnya menjadikan tanggul Kali Bodri kritis,” bebernya.
Arif juga menyebut, tanggul yang jebol sepanjang 15-20 meter dalam kondisi yang kritis dan longsor. Hal itu dikarenakan perbaikan pada waktu itu bersifat sementara, hanya kuat selama enam bulan.
Kemudian, di sebelah utara tanggul Desa Kebonharjo yaitu di wilayah Desa Cepiring juga mengalami sedimentasi yang cukup parah, dengan panjang sedimentasi sekitar 300 meter dan lebar sedimentasi 50 meter.
“Akibatnya aliran air Kali bodri apabila besar akan mental ke tanggul wilayah Desa Kebonharjo dan aliran air Kali Bodri menjadi terhambat. Di sebelah barat tanggul yang jebol pun mengalami kerusakan yang parah,” jelas Arif.
Belum lagi, lanjutnya, tanggul Sungai Bodri sepanjang 250 meter saat ini sudah tidak memiliki berm. Bahkan pasangan batu sebagai penahan tanggul peninggalan jaman dulu sudah terkikis dan ambrol.
Melihat kondisi tersebut, tambah Arif, tidak akan terbayangkan apabila tanggul Sungai Bodri jebol kembali. Karena dalam siklus tahunan atau setiap tahun ada momen limpasan air Kali Bodri berada di kisaran 350-400 meter. Wilayah yang tadinya dianggap wilayah putih bencana dan trek lurus ternyata menyimpan potensi bencana yang besar.
“Untuk itu melalui forum ini kami memohon kepada Allah Subhanahu Wataala, agar para pemimpin kami diberikan kesehatan dan dibukakan pintu hatinya untuk melakukan percepatan penanganan tanggul Kali Bodri, melalui normalisasi aliran air atau pengerukan sedimentasi dan penguatan tanggul yang kritis dengan tanggul permanen,” harapnya
Selain doa bersama, kegiatan “Aksi Kliwonan” Petak Bodri juga diisi dengan dialog dan makan siang bersama dengan hidangan sederhana berupa makanan dan jajanan yang dibawa oleh masing-masing pribadi peserta aksi.
Sementara itu, salah seorang warga Desa Kebonharjo, Kecamatan Patebon, Iwan Setiawan mengatakan, kondisi tanggul Sungai Bodri saat ini semakin sempit. Menurutnya dengan tanggul yang kritis, jika tidak segera ditangani akan berpotensi jebol lagi.
“Melalui “Aksi Kliwonan”, diharapkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Daerah Kabupaten Kendal melalui dinas terkait bisa mendengar dan merealisasikan apa yang menjadi permohonan dari warga sekitar Kali Bodri,” ungkapnya . (HS-06)