in

Wayang Ironi Semarang

Marjono.

 

NEGERI ini sarat dengan budaya yang adiluhung, yaitu wayang kulit salah satunya. Sejak 2003 UNESCO sudah mengakui wayang sebagai mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur. Kota Semarang sebagai Ibu Kota Jawa Tengah tergolong kota yang cukup padat menghelat seni pertunjukan selain Kota Solo.

Pandemi membuat keduanya berasa anyep untuk gelaran pertunjukan, termasuk wayang. Hal ini menyangkut PPKM dan pencegahan pandemi Covid-19.

Pergelaran wayang kulit, khususnya di tengah masyarakat semakin senyap, hal ini terindikasi dari sepinya penonton dalam setiap pementasannya.

Gedung Ki Nartosabdo di TBRS, Cagar Budaya Sobokarti maupun Teater Lingkar mungkin menjadi saksi atas keringnya minat atau animo masyarakat terhadap pakeliran wayang kulit di poros pulau Jawa ini, jika disandingkan panggung seni pertujukan lain yang cukup banyak menyedot perhatian penonton, yakni pertujukkan live musik (dangdut, pop, rock, jazz, k-pop), film, sinetron maupun seni tetaer.

Ada asumsi, menghidupkan seni wayang bakal menghabiskan anggaran, karena meskipun budaya wayang lahir sejak nenek moyang tetapi sampai kini nasibnya tidak beranjak membaik, hanya sosok “wayang,” yang bergegas dan gemetar di pakeliran.

Dunia pewayangan kerap dipandang hanya sebatas seni pinggiran dan berimpresi murahan. Hal ini mungkin masyarakat lebih melihat wayang banyak ditampilkan di wilayah pinggir, yaitu pedesaan dan bahkan tidak pernah ada tarifnya jika (hanya) menonton.

Pikiran seperti itu tidak bisa disalahkan, karena kita kembali kepada para role model yang di depan. Konsep keteladan bapak kepada anak sangat kental dalam masyarakat Jawa, apalagi di Semarang.

Kondisi itu cukup cerdas ditangkap oleh pemimpin daerah yang kerap menggelar pentas wayang kulit di kantor dan di desa-desa pada sela-sela kunjungannya ke daerah yang orientasinya melestarikan dan mengembangkan heritage budaya yang adiluhung ini, sehingga mampu memberikan entry point valensi konstruktif dalam menyelesaikan setiap permasalahan pembangunan.

Banyak pelajaran berharga terbit dari oleh seni wayang kulit, seperti falasafah hidup, ajaran atau tuntunan kesalehan serta kearifan lokal, di samping itu media wayang kulit cukup strategis sebagai corong pembangunan.

Melalui wayang kita bisa mengintrodusir dan menyosialisasikan berbagai program pemerintah, misalnya peanggulangan Covid-19, kampanye 5M, Gerakan Jogo Tonggo, penanggulangan kemiskinan, menurunkan angka kematian ibu dan bayi, menghapuas kekerasan, memberdayakan masyarakat dalam bencana banjir atau rob maupun antisipasi krisis air bersih di pedesaan yang berbukit terjal.

Sepinya penonton atau rendahnya animo masyarakat menghadiri dan menikmati pertunjukan wayang kulit di Semarang atau kota-kota lainnya, karena, pertama, tergerusnya bahasa Jawa kita yang mungkin saja kalah pamor dengan bahasa Indonesia atau bahasa asing lainnya.

Rata-rata pertunjukan wayang kulit berbahasa Jawa dan anak-anak muda merasa sulit untuk mengikuti alur itu dan waktunya terlampau lama, bahkan hingga dini hari.

Padahal esok paginya mereka harus mengikuti pelajaran atau kuliah maupun bekerja. Padahal nikmatnya wayang ketika kita menyantapnya secara utuh bukan sporadis.

Kedua, wayang kulit belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dahulu pemerintah acap menggelar petunjukkan wayang sejak pusat hingga level desa, sekarang barangkali bisa dilihat berapa frekwensi wayang kulit menjelma dalam pakeliran apada acara peresmian gedung, pembukaan acara tertentu.

Nampaknya, kita juga banyak yang memuja kreatifitas kelompok band anak muda tertentu (barat dan domestik) atau hanya sekadar iringan solo keyboard yang lebih banyak menggema tatkala sesi pembuka dan penutup satu event dihelat.

Ketiga, belum optimalnya peran fungsi kelembagaan seni budaya di daerah. Katakanlah, PEPADI, Dewan Kesenian Kabupaten/Kota, Perguruan Tinggi, institusi pemerintah yang menangani maupun pengelola Museum Wayang dalam melakukan inovasi dunia pewayangan ini, sehingga masyarakat “gandrung” dan hormat kepada dunia wayang.

Lompatan sederhana bisa dilakukan agar warisan budaya wayang tidak terpinggirkan dan menjadi “cinta abadi” masyarakat, di antaranya memasukkan seni budaya wayang ke dalam pendidikan, meskipun pada konten dan konteks lokal. Kala tanpa pandemi, perhelatan wayang di mal, di pusat keramaian, seperti Ngarsopuro Solo, Malioboro Jogja atau Pahlawan Semarang, barangkali juga perlu dilakukan sebagai upaya introdusir seni itu kepada kaum muda dan masyarakat urban umumnya.

Jantung Warga

Selain itu, juga memasukkan wayang dalam perangkat gadget sehingga mudah dijangkau anak muda. Hal ini pernah dilakukan mahasiswa Unnes dengan E-Wayang dan pertunjukkan wayang tanpa dalang beberapa tahun lalu di Sobokarti Semarang. Kini kita dorong para dalang giat bermedsos dengan siaran langsung atau streaming maupun lewat kanal Youtube. Dalang Seno Nugroho Jogja viral menjadi dalang virtual.

Mungkin juga bisa dijajaki kemungkinan dunia pewayangan maupun catatan harian seorang Dalang yang diangkat ke dalam film layar lebar. Kita tidak perlu malu belajar dari Kisah Soekarno, Soegijo, Achmad Dahlan ataupun semisal film dokumenter ala Eagle Award.

Atau kita perlu menimba ilmu dari pakeliran ala wayang kampung sebelah di salah satu TV swasta di negeri ini yang justru banyak diminati kaum muda.

Sayang jika wayang kita ini mengungsi di negeri sendiri, karena Jawa Tengah punya ISI Solo, Taman Budaya di Solo dan Semarang, gedung yang memadai, seperti gedung Ki Nartosabdo, Sobokarti maupun Sriwedari.

Bahkan Memiliki Museum Wayang pula. Sederet Dalang kondang juga bermukim di sini, sebut saja Anom Suroto, Manteb Sudarsono, Sugito Purbocarito, Enthus Susmono, Warseno Slenk, Joko Edan, Purbo Asmoro – merupakan dalang senior. Sedangkan kepada dalang muda kita bangga, seperti Bayu Aji atau Sindhunata, bahkan dalang wanita kesohor, seperti Suparsih, Giyah Supanggah, Sofiah, Cempluk Suprihastutik, Sri Wulan Panjang Mas dan lainnya.

Tak ada salahnya kita dayagunakan heritage wayang dalam memberdayakan masyarakat Semarang dan Jawa Tengah melalui nilai-nilai integritas, gotong royong, dan etos kerja maupun nilai keutamaan (core value) lainnya.

Untuk itu, barangkali segitiga emas (pemerintah, masyarakat dan industri maupun kampus) perlu berembug, bermusyawarah medekatkan pakeliran wayang ke dalam jantung warga, sedekat jantung kita, sehingga warga merasa memiliki.(HS)

Penulis: Marjono, Kasubag Materi Naskah Pimpinan Pemprov Jateng.

Share This

Ditresnarkoba Polda Jateng Bersama Bea Cukai Tanjung Emas Ungkap Dua Kasus Peredaran Narkoba

Kembali Berulah, Bruno Silva Disanksi Manajemen PSIS