Waspadai Peningkatan Kasus Demam Berdarah di Kendal

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal, Ferinando Rad Bonay.

 

HALO KENDAL – Dinas Kesehatan Kendal mewaspadai adanya lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayahnya.

Lonjakan kasus DBD saat ini sudah mencapai 146 kasus hingga Juli 2020. Jumlah itu mendekati jumlah pasien positif Covid-19 saat ini di Kabupaten Kendal, yang mencapai 171 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal, Ferinando Rad Bonay mengatakan, adanya lonjakan kasus DBD terjadi karena beberapa faktor.  Selain siklus musim hujan yang belum selesai, juga dipengaruhi turunnya tingkat kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan.

“Kita tahu, saat ini semua berkonsentrasi pada penanganan Covid-19. Namun kita tidak boleh melupakan kasus DBD, hingga kini sudah cukup banyak warga Kendal yang terkena demam berdarah dan harus mendapatkan perawatan,” terangnya, Jumat (24/7/2020).

Diperinci oleh Ferinando, sejak Januari hingga Juli, kasus DBD di Kendal mencapai 146, terbagi menjadi 62 laki-laki dan 84 perempuan.

Jumlah ini mengalami lonjakan tajam pada 4 bulan terakhir, saat pandemi Covid-19 datang.

Pada April lalu, terjadi penambahan 35 kasus dengan didominasi pasien perempuan. Sementara Mei dan Juni masing-masing terjadi penambahan 22 dan 14 kasus baru. Sementara kasus DBD baru sepanjang Juli bertambah 5 kasus dari 21 kasus demam dengue (DD).

“Kalau kita lihat siklusnya, ada peningkatan sedikit dari tahun lalu. Hanya saja di 2020 ini, jumlah kasus DD tembus 509 orang, sedangkan yang terkonfirmasi DBD 146 orang,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Kendal, Muntoha mengatakan, kasus terbanyak terjadi di 5 kecamatan. Meliputi Kecamatan Kota Kendal, Kaliwungu, Boja, Pegandon, dan Kecamatan Rowosari.

“Kami terus mengupayakan penanganan kasus DBD semaksimal mungkin, sehingga tidak menyebabkan kematian. Tahun ini alhamdulillah tidak ada yang meninggal. Tahun kemarin jumlah total 185 kasus terdapat satu pasien DBD yang meninggal,” terangnya.

Dijelaskan oleh Muntoha, rata-rata yang terserang DBD usia anak-anak hingga remaja, mulai dari 5 sampai 15 tahun. Hal tersebut bisa saja dipengaruhi karena mobilitas jelajah anak yang tinggi serta kurangnya kesadaran menjaga kebersihan lingkungan.

Dirinya berharap, masyarakat tetap waspada serta berusaha mencegah sedini mungkin dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Seperti rajin menguras bak mandi, hingga membuah sisa-sisa air pada tempat-tempat yang menjadi penampungan air.

“Kami berharap tidak ada lagi peningkatan kasus yang signifikan. PSN paling efektif cegah DBD, karena fogging hanya bisa membunuh nyamuk dewasa dan dilakukan saat ditemukan kasus pasien DBD. Selain itu bisa juga pakai obat pembasmi larva atau Abate dan tersedia gratis di puskesmas,” pungkas Muntoha.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.