Waspada, Radikalisme Menyasar Generasi Muda

Foto : Tribratanews.polri.go.id

 

HALO SEMARANG – Upaya penyebaran radikalisme dan terorisme saat ini cenderung menyasar generasi muda. Karena itulah program kontra radikalisme juga perlu dilakukan kepada generasi muda atau generasi milineal.

Hal itu mengemuka dalam acara Focus Group Discussion (FGD) bertema Pencegahan dan Penanggulangan Terorisme dan Radikalisme, yang digelar Tim Divisi Humas Polri bersama Polda Jateng, di Mapolrestabes Semarang.

Acara bertemakan “Terorisme Musuh Kita Bersama” ini, dihadiri Kabag Penum Ro Penmas Divisi Humas Mabes Polri, Kombes Pol Dr Ahmad Ramadhan SH MSi; Kabidhumas Polda Jateng, Kombes Pol Iskandar Fitriana Sutisna; Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol Irwan Anwar; dan beberapa tokoh agama, tokoh masyarakat Kota Semarang, serta Akedimisi, dan juga Tim Divhumas Polri.

Menurut Kabag Penum, kotra radikalisasi berbeda dengan program deradikalisasi. “Kontra radikal adalah benteng atau pertahanan diri bagi masyarakat, agar tidak mudah dimasuki oleh paham paham radikal,” jelas Kabag Penum.

Kabag Penum juga menambahkan bahwa, sebenarnya sasarannya adalah anak-anak muda yang menjadi generasi penerus bangsa atau sering disebut generasi milineal.

“Dengan hadirnya FGD untuk akademisi ini, tetntunya akan meneruskan kepada anak didiknya atau generasi muda lainnya mengenai bahaya paham radikalisme ini,” kata dia, seperti dirilis Tribratanews.polri.go.id, Jumat (23/4).

.

Selain itu, Kabag penum juga menyampaikan, seperti kasus yang terjadi sekarang ini, bahwa hal itu menunjukkan akar radikalisme yang menuju ke terorisme. Hal ini sangat membahayakan generasi muda bangsa ini.

“Seperti kasus bom bunuh diri Makasar yang terjadi beberaoa waktu lalu, kedua pelaku bom bunuh diri ini juga masi muda dan melinial, bahkan baru menikah enam bulan, serta kejadian di mabes Polri yang dilakukan anak muda, hal ini menjadi keprihatinan Mabes Polri,” imbuhnya.

“Artinya bahwa paparan radikalisme yang mengarah ke terorisme itu, mulai merambah ke generasi muda, ini sangat membahayakan anak anak muda sekarang. Untuk itu, program kontra radikal ini, harus dilakukan oleh semua pihak,” jelas Kabag Penum.

Dijelaskannya, bahwa Divhumas Mabes Polri akan melaksanakan kegiatan ini di 24 Polda yang ada di seluruh Indonesia. Dalam kegiatan ini, melibatkan tiga fungsi yaitu Intelejen, Bimas dan Bidhumas.

“Sedangkan untuk Bidhumas sendiri, hanya melaksanakan peliputannya atau aplikasi pemberitaannya. Namun kita diminta Ka Densus Mabes Polri, untuk menyampaikan pesan tersebut, sehingga generasi muda tidak mudah terpengaruh paham radikalisme,” pungkasnya.

Sementara itu, Mantan pelajar dari Suriah, Muhammad Najih Arromadloni, menuturkan, bahwa kegiatan FGD ini dengan mensosialisaikan mengenai paham radikalisme yang terjadi sekarang ini hingga menjadi aksi teror di Indonesia. Merupakan tugasnya untuk menyampaikan hal ini sebagai Tokoh Masyarakat.

“Aksi teror ini memang memiliki jejaring dari Solo, Jawa Tengah ini. Karena Kota Semarang sangat dekat dengan wilayah Solo, sehingga paham radikalisme mudah masuk kepada generasi muda, hal ini yang kita lakukan antisipasi melalui forum ini,” tuturnya.

Dia juga menceritakan pengalamannya selama kuliah di Negara Suriah yang mana negara tersebut sering terjadi konflik. Namun bedanya di timur tengah ada ISIS, di Indonesia ada JAD.

“Oleh karna itu, nanti di dalam acara ini, akan sampaikan bahaya radikalisme dan pengalaman saya selama kuliah di Suriah,” ujarnya. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.