in

Waspada Pengedar Uang Palsu Muncul Lagi, Lakukan 3D

Kapolres Boyolali AKBP Morry Ermond saat menunjukkan barang bukti uang palsu siap edar di Mapolres, Jumat (24/9) (Foto : Boyolali.go.id)

 

HALO BOYOLALI – Masyarakat diimbau untuk mewaspadai peredaran uang palsu. Walaupun polisi berhasil menangkap beberapa sindikat, namun ada kemungkinan uang palsu buatan mereka sudah ada yang beredar di masyarakat. Setiap kali menerima uang kertas, masyarakat diimbau untuk mengecek dengan cara 3D.

Penangkapan pengedar uang palsu tersebut, antara lain dilakukan Polres Boyolali, beberapa waktu lalu. Kapolres Boyolali, AKBP Morry Ermond, seperti dirilis Boyolali.go.id, mengatakan pihaknya berhasil membongkar sindikat pembuat dan pengedar uang palsu (upal).

Selain menangkap sejumlah pelakunya, polisi juga berhasil menyita barang bukti uang palsu Rp 496 juta. Adapun sembilan orang yang ditangkap tersebut, yakni Darsono warga Boyolali, Mohamad Fauzi warga Kota Bandung, Christy warga Kabupaten Blora, Aris Budiyono warga Kabupaten Bantul, dan Elis Dwi Hartutik warga Kota Surabaya.

Untuk tiga tersangka lainnya, yakni Harun Sastrawijaya warga Kota Surabaya, Agus Bambang Wijanarko warga Kabupaten Nganjuk, Agus Suriyanto warga Kota Surabaya, dan Dafiki Dzulfikar warga Kabupaten Ponorogo.

“Dari Sembilan pelaku yang ditangkap merupakan warga Jawa Timur, Jawa Barat, DIY dan warga Boyolali,” kata Kapolres, seperti dirilis Boyolali.go.id.

Dari tangan pelaku, polisi berhasil menyita 8.516 lembar uang palsu pecahan Rp 100.000 emisi 2016 sebanyak 1.605 lembar, pecahan Rp 50.000 emisi 2016 sebanyak 6.577 lembar dan pecahan Rp 20.000 emisi 2016 sebanyak 334 lembar.

“Total keseluruhan upal yang disita sebagai barang bukti sebesar Rp 496.030.000,” kata Kapolres.

Polres Boyolali menangkap Darsono, di rumahnya di kampung Wates RT 004 RW 008 Kelurahan Mojosongo, Boyolali, Minggu (12/9). Selain uang palsu, barang bukti yang disita petugas, antara lain 4 papan sablon, 2 kaca hitam, 1 buah money detector, 1 unit printer, 1 unit CPU, 1 unit monitor computer, 4 bendel almunium foil, dan mesin pres laminator.

” Semuanya diproduksi di rumah milik tersangka Darsono. Di rumah tersebut diamankan 3 pelaku yang berperan sebagai pembuat dan pengedar uang palsu, yaitu Darsono, Mohamad Fauzi, dan Christy. Adapun pelaku lainnya berperan sebagai penyedia bahan baku kertas yaitu, Aris Budiyono, Elis Dwi Hartutik, Harun Sastrawijaya, dan Agus Bambang Wijanarko. Dan pelaku lainnya sebagai pengedar upal yaitu, Agus Suriyanto dan Dafiki Dzulfikar,”

Dari keterangan para pelaku, memproduksi upal dilakukan kurang lebih sudah dua bulan, Uang yang diproduksi, sudah diedarkan di wilayah Aceh, Bekasi, Tangerang, dan Kabupaten Malang.

“Pasal yang disangkakan terhadap pelaku dalam hal memproduksi uang palsu dikenakan pasal 35 ayat (1) Undang Undang RI No 7 Tahun 2011 tentang mata uang Junto Pasal 244 KUHP dengan ancaman pidana 15 tahun penjara. Sedangkan pasal dalam hal mengedarkan atau mendistribusikan uang palsu dikenakan pasal 36 ayat (3) Undang Undang RI No 7 Tahun 2011 tentang mata uang junto Pasal 245 KUHP dengan ancaman pidana 15 tahun penjara dan yang menyediakan bahan aku pembuat uang palsu dikenakan pasal 37 Ayat (2) Undang Undang RI No 7 Tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman pidana paling lama seumur hidup,” kata dia.

Empat Jaringan

Sebelumnya, Bareskrim Polri menangkap empat jaringan pengedar dan pembuat uang palsu, yang beraksi Agustus hingga September 2021. Wadir Tipideksus Kombes Whisnu Hermawan, menuturkan pihaknya mengamankan jaringan uang palsu Jakarta-Bogor, jaringan wilayah Tangerang, kemudian jaringan wilayah Sukoharjo Jawa Tengah, dan juga jaringan Demak, Jawa Tengah.

Tak hanya membuat uang palsu, jaringan ini juga membuat mata uang asing, khususnya Dollar Amerika.

Wishnu mengatakan sebanyak 20 tersangka dari empat jaringan tersebut, juga telah ditangkap oleh aparat kepolisian.

“Jadi kami berhasil, bukan saja menangkap jaringan pembuat atau pengganda uang, tapi juga mengungkap di mana uang palsu itu dibuat,” kata Wishnu, seperti dirilis Humas.polri.go.id beberapa waktu lalu.

Jaringan pertama, lanjut Wishnu, merupakan pembuat uang palsu US Dollar. Uang palsu tersebut dibuat untuk orang asing, dengan barang bukti kurang-lebih 48 lak.

“Dari hasil pengembangan, telah ditangkap di daerah Jakarta, Bogor, dan Tangerang. Namun kami masih mendalami terkait pembuatannya,” kata dia.

Polisi juga berhasil menangkap pembuat uang palsu di Sukoharjo dan Demak. “Kurang lebih, banyaknya uang palsu sekitar 110.138 lak. Ini gak ada harganya, kami tidak akan menyebutkan dengan nilai total berapa miliar tidak ada,” tegasnya.

Wishnu menyebut pihaknya  berhasil menangkap pelaku berinisial MA dan H alias B di saat mereka menawarkan uang palsu tersebut.

“Kami berhasil menyita beberapa barang bukti. Selain uang palsu tersebut, juga beberapa printer, komputer, kemudian beberapa hal dan barang bukti mobil,” ungkapnya.

Sementara itu masyarakat dapat mengidentifikasi uang palsu dengan cara sederhana dengan menerapkan 3D, yakni dilihat, diraba, dan diterawang. Pada uang kertas asli pecahan Rp 100 ribu, Rp 50 ribu, dan Rp 20 ribu, akan terlihat perubahan warga pada bagian gambar perisai.

Misalnya untuk pecahan uang kertas Rp 100 ribu asli, akan terlihat warna merah keemasan. Tetapi jika dilihat dari sudut berbeda, maka warnanya akan berubah menjadi agak kehijauan.

Cara kedua adalah dengan meraba permukaan uang. Pada bagian gambar utama (gambar pahlawan), gambar lambang negara, angka nominal, huruf terbilang, frasa Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan tulisan Bank Indonesia, ketika disentuh akan terasa kasar.

Kemudian bagi para penyandang tuna netra, mereka bisa meraba kode tuna netra (blind code), pada sisi kiri dan kanan mata uang. Dengan cara itu, penyandang tuna netra bisa mengenali nilai nominal dan keaslian uang.

Cara ketiga yang bisa dilakukan adalah dengan diterawang. Saat diterawang, akan nampak gambar pahlawan atau gambar ornamen pada pecahan-pecahan tertentu, lalu logo BI akan terlihat semakin utuh. (HS-08)

Share This

Kemampuan Belum Selevel Sang Ayah

Anak-Anak Jadi Nasabah Bank Sampah, Wabup Rembang Nilai “Darling” Layak Jadi Percontohan