Wasito Berdayakan Masyarakat Pesisir Melalui Koservasi Mangrove, Hingga Meraih Kalpataru

Wasito, saat mengajari mahasiswa cara menanam mangrove di perairan Kendal.

 

HALO KENDAL – Apa yang dilakukan oleh Wasito (47) warga Desa Kartikajaya, Kecamatan Patebon, Kendal, perlu mendapatkan apresiasi. Hal ini terkait jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup, khususnya merawat wilayah pesisir Kendal.

Saat ditemui di kediamannya, Wasito mengaku konservasi yang ia lakukan dimulai sejak tahun 2006.

“Negara kita ini kaya akan potensi sumber daya alam, khususnya di kawasan pesisir. Oleh karenanya, menjadi tanggung jawab kita untuk memanfaatkannya secara bertanggung jawab, yakni dengan tetap memberikan perlindungan lingkungan dan ekosistem yang ada,” katanya.

Akhirnya pada tahun 2013 didukung oleh mahasiswa yang tergabung dalam Imaken (Ikatan Mahasiswa Kendal) dan salah satu LSM dari Bogor, Wasito semakin memperluas jaringan kepada pegiat dan dinas terkait, untuk melaksanakan konservasinya.

“Konservasi yang saya lakukan sejak tahun 2013, dari Kaliwungu hingga Pantai Rowosari atau sekitar 42 kilometer,” jelas Wasito.

Adapun yang ditanami, jenis bakau, api-api, kemudian jenis tancang dan cemara laut, atau dalam kesatuan tanan ekosistem mangrove.

“Kira-kira sudah ada 30 hektare tanaman mangrove yang kami tanam. Meliputi daerah Kartika Jaya, Wonosari dan Panggangayom,” ungkapnya.

Dia pun menceritakan perjalanan kenapa tertarik konservasi mangrove. Menurutnya, pada tahun 2002 dirinya menikah dengan orang Desa Kartika Jaya.

“Usai menikah, saya melihat kok pantai di sini sering abrasi. Akhirnya saya mulai menanam. Saya ajak keluarga sambil makan dan menanam di sana,” terang Wasito yang bekerja di salah satu instansi di Demak.

Pada tahun 2015 dia mendapat penghargaan Kendal Awards yang diusulkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kendal sebagai pegiat pelestarian kawasan pesisir.

“Awalnya memang banyak yang mencibir, ngapain susah-susah menanam tanaman yang tidak menghasilkan. Apalagi beberapa tanaman mangrove saat itu belum begitu populer,” ujarnya.

Wasito pun mengaku, menerima penghargaan tidak serta merta menghentikan langkahnya untuk terus berkonservasi. Apalagi abrasi semakin menghawatirkan.

“Saya banyak berkolaborasi dengan pegiat dan pecinta alam, juga beberapa dinas seperti Dinas Kelautan dan Perikanan juga Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Kendal,” kata Wasito.

Dia pun berharap kegiatan ini akan berlanjut dan diikuti oleh kegiatan serupa di berbagai daerah di Indonesia, sehingga bisa mengurangi risiko bencana seperti abrasi pantai tidak semakin meluas dan bisa melindungi dari terik matahari.

“Karena itu kami berikan edukasi dan pelibatan masyarakat lokal dalam rehabilitasi mangrove. Hal itu penting sebagai bentuk kepedulian masyarakat akan pelestarian dan kelangsungan hutan mangrove,” harapnya.

Rupanya perjuangannya dalam menjaga dan melestarikan lingkungan pesisir membuahkan hasil, pada tahun ini Wasito akan menerima penghargaan Kalpataru sebagai jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup.

“Alhamdulillah perjuangan kami mendapat perhatian dari pemerintah pusat, khususnya dari Kementerian Lingkungan Hidup berupa penghargaan Kalpataru, yang Insya-Allah akan diberikan pada tanggal 10 November 2020 ini,” ungkapnya.

Ternyata, di samping pelestarian lingkungan pesisir, dari ratusan jenis tanaman mangrove ada beberapa yang dimanfaatkan oleh warga Desa Kartika Jaya menjadi komoditi bahan makanan dan pewarna kain.

Seperti yang dilakukan, Rukimah (52), dia bersama suami memanfaatkan buah tancang untuk diolah menjadi tepung dan pewarna kain batik.

“Awalnya tahun 2013 kami mencoba mengolah mangrove jenis tancang untuk kami jadikan tepung. Saat itu saya memanfaatkan dari buah tancang yang banyak jatuh di bibir tambak,” ungkapnya.

Dari sanalah Rukimah dan suami memulai mengolah biji tancang.

“Untuk membuat tepung biji tancang tidak susah, hanya butuh kesabaran. Karena biji tancang tidak mudah dihaluskan. Saya beberapa kali mencoba pakai blender malah rusak,” jelasnya.

Setelah beberapa kali diproses untuk menghilangkan zat dan dijemur. Kemudian biji tancang dihaluskan dengan alat khusus hasil bantuan dari kementerian Koperasi RI.

“Hasil tepung saya pernah dipamerkan di Bangka Belitung, Kalimantan dan Bali sebagai percontohan. Bahkan ibu Susi Menteri Kelautan pada waktu itu memamerkan tepung saya di Batam,” imbuhnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.