in

Warga Tembalang Ditemukan Meninggal Dunia Dengan Cara Gantung Diri

Foto ilustrasi tali gantungan bunuh diri.

 

HALO SEMARANG – Seorang wanita bernama DHT (43) warga Griya Borobudur, Kramas, Tembalang, Kota Semarang, ditemukan meninggal dunia dengan gantung diri di belakang rumahnya.

Saat itu pakaian yang dikenakan korban yaitu tanktop warna putih dan celana pendek motif bunga.

Di sebelah tubuh korban, terdapat tangga lipat. Akibat kejadian itu sempat membuat warga setempat geger.

“Ya betul ada gantung diri. Korban adalah janda anak dua,” ujar Kapolsek Tembalang Kompol R Arsady.

Dia menuturkan, dugaan alasan korban melakukan gantung diri lantaran depresi setelah ditinggal suami yang sudah meninggal dunia.

Dari keterangan anak dan kerabat, korban tampak sering melamun sejak kematian suaminya.

“Suami korban meninggal dunia 6 bulan lalu atau tepatnya sekira bulan Januari 2021,” ujarnya.

Dia melanjutkan, kronologi kejadian korban meninggal dunia gantung diri diketahui pertama kali oleh anak pertamanya yang masih berusia 14 tahun.

Anaknya tersebut bangun tidur lantas mencari ibunya. Setelah dicari ke seluruh ruangan.

“Anaknya sempat memanggil ibunya namun tak ada respon. Dia lantas memberi tahukan warga dan ketua RT,” bebernya.

Dari hasil pemeriksaan tim medis dan tim Inafis Polrestabes Semarang juga tak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.

Keluarga korban juga menerima kejadian itu sebagai musibah yang ditunjukan melalui surat pernyataan.

“Kami juga lakukan rapid tes korban hasilnya negatif Covid-19,” ujarnya.

Sementara itu, ketua RT 3 RW 3 Munarko menjelaskan, kematian korban meninggalkan dua anak yang masih belia.

Masing-masing laki-laki yang hendak masuk ke SMA dan perempuan yang masih duduk di kelas 5 SD.

“Motif bunuh diri kurang tahu. Hanya saja korban memang ada perubahan perilaku selepas suaminya meninggal dunia karena sakit,” katanya.

Dia mengatakan, kedua anak korban  yang kini yatim piatu saat ini bersama tantenya. Sementara jasad korban akan dimakamkan hari ini.

“Keluarga korban juga masih syok atas kejadian ini. Namun anak pertama korban tampak begitu tegar atas kematian ibunya,” jelasnya.

Warga yang enggan disebutkan namanya menerangkan, korban sempat berkeluh kesah soal kematian suaminya.

Pasalnya selepas suaminya berpulang, otomatis kondisi ekonomi carut marut. Apalagi selama ini korban tak pernah bekerja sehingga bingung untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

“Orangnya juga pendiam. Jadi jarang bercerita,” paparnya.

Kendati demikian, lanjut dia, korban sempat berwirausaha dengan berjualan kerupuk yang dikirim ke warung-warung.

Usaha tersebut dilakukan sekitar bulan Februari 2021. Namun usaha yang ia jalani itu tak berjalan begitu lancar.(HS)

Share This

Prakiraan Cuaca Semarang dan sekitarnya pada Jumat, (2/7/2021)

Tugas Manajer Tim Memang Tidak Gampang