Warga Perum UNS V Galakkan Hidroponik dan Microgreen

Bupati Karanganyar, Juliyatmono sangat tertarik dengan sistem pertanian hidroponik yang dilakukan warga perumahaan UNS 5 di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten (foto : karanganyarkab.go.id)

 

HALO KARANGANYAR – Pandemi Covid-19 tak menghalangi  warga perumahaan UNS 5 di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten untuk tetap berkreasi.

Dengan lahan seadanya di lingkungan perumahan, mereka tetap produktif dengan menanam sayuran, menggunakan  sistem hidroponik atau bersusun menggunakan pipa.

“Kami juga tengah mengembangkan sistem pertanian microgreen. Bahasa mudahnya, tanaman sayur mayur yang masih bayi atau usia 1 minggu bisa dipanen untuk kebutuhan konsumsi,” kata Ketua RW 23 Perumahaan UNS 5 Desa Ngringo, Anis Ridho, saat memberikan sambutan dalam launching Gapuro di perumahaan setempat, Minggu (01/11).

Menurut Anis, sayur dalam sistem microgreen tidak mengandung pupuk dan pestisida, sehingga aman untuk kesehatan. Bahkan kandungan gizi, enzim, dan vitamin lebih baik.

Tak berhenti disitu. Hasil dari bertanam tersebut, oleh sebagian warga dijual secara online dan banyak di antaranya kemudian dibeli oleh tetangga.

“Artinya saya masak. Dengan menggunakan sistem online, saya tawarkan masakan itu kepada tetangga. Kemudian ada yang membeli sehingga kami saling mendukung di antara warga,” tambahnya.

Bupati Karanganyar, Juliyatmono berkali-kali memuji sistem pertanian yang dilakukan masyarakat perumahan UNS 5, Desa Ngringo. Dengan keterbatasan lahan, namun tetap masih bisa produktif. Hal ini juga membuktikan masyarakat lebih pandai dari pemimpinnya. Dengan menggunakan sejumlah inovasi dan kreatif maka akan menghasilkan yang lebih baik.

“Pak camat dan Pak lurah harus banyak belajar banyak di masyarakat perumahaan UNS 5. Saya membayangkan, jika setiap desa seperti UNS 5 maka Karanganyar akan maju dan jaya,” tambahnya.

Saking senangnya tersebut, Bupati akan memberikan bantuan jahe untuk ditanam pada masyarakat perumahaan UNS 5. Pihaknya akan mengirimkan jahe untuk ditanam 2 kwintal. Saat ini jahe emprit yang dulunya dihargai murah sekarang sudah tembus Rp 60 ribu per Kg.

“Saya mengajak semua belajar dari wabah pandemi. Dengan pandemi, kita lebih memperhatikan keluarga, antar tetangga juga guyub rukun dan berhasil membuat inovasi di bidang pertanian,” tambahnya. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.