in

Warga Korban Banjir Mulai Terserang Penyakit Gatal-gatal

 

Salah satu anak warga Trimulyo bermain sepeda di genangan air.

SEMARANG – Warga di beberapa kelurahan di Kecamatan Genuk, Kota Semarang, masih hidup dalam kepungan banjir hingga Jumat (7/12/2018). Setelah beberapa hari terdampak banjir, warga mulai terserang sejumlah penyakit seperti gatal-gatal dan diare.

Sulasih, warga RW 1 Kelurahan Trimulyo, Kecamatan Genuk salah satunya. Dia mengeluhkan penyakit gatal-gatal dan kutu air setelah terendam banjir sejak Minggu (2/12/2018) lalu.

Dia mengungkapkan, banjir seperti saat ini sudah terjadi setiap tahunnya. Hanya saja, biasanya tidak bertahan lama. Dalam hitungan hari pun banjir sudah hilang. Hanya saja banjir kali ini seolah tidak bisa hilang.
“Ini sudah lima hari ketinggian air masih di atas lutut. Terparah pada Selasa (4/12/2018) kemarin setelah hujan deras pada Senin (3/12/2018) sore,” ujarnya.

Selain penyakit kulit, warga terdampak banjir di Genuk juga mulai terserang diare. Di antaranya Jumiyem yang mengeluhkan diare sejak Kamis (6/12/2018). “Setiap hari harus hidup di genangan banjir apalagi airnya kotor. Ya beginilah jadinya,” katanya.

Lurah Trimulyo, Diah Winarni mengakui banyak warga yang mulai terserang penyakit akibat banjir. Dari pengobatan gratis yang dilakukan, rata-rata warga mengeluhkan penyakit kulit yaitu gatal-gatal, kutu air, dan diare.
Atas kondisi tersebut, dia pun bergerak cepat dengan meminta bantuan Pemerintah Kecamatan Genuk untuk melakukan pengobatan gratis kepada warga terdampak. “Ini pengobatan pertama sejak banjir merendam pada Minggu (2/12/2018). Rata-rata sakit yang dikeluhkan gatal-gatal dan diare,” katanya.

Diah mengungkapkan, seluruh wilayah Trimulyo terendam banjir. Dengan begitu 702 warga dari 375 keluarga yang tersebar di 4 RW di Trimulyo, seluruhnya terendam banjir. Kondisi paling parah terjadi di RW 1 yang berada paling timur dengan ketinggian banjir antara 40-60 cm.
Sementara di RW lain, relatif lebih rendah. Di RW 2 Trimulyo, ketinggian banjir sekitar 50 cm, di RW 3 dan RW 4 sekitar 30-40 cm.

“RW 3 dan 4 itu yang pertama kali terendam banjir. Hanya saja daerahnya lebih tinggi dibanding RW 1 dan 2 sehingga ketinggian banjir lebih rendah. Yang paling tinggi itu di RW 1 karena masih di atas lutut banjirnya,” ungkapnya.
Selain kebutuhan obat-obatan bagi warga yang mengeluhkan sakit akibat banjir, lanjutnya, kebutuhan logistik sembako saat ini juga belum mencukupi. Pihaknya terpaksa membuka dapur umum di sekitar Kantor Kelurahan yang juga terendam banjir, untuk memenuhi kebutuhan warga.

“Stok pangan warga sudah menipis. Jika tidak kami bagikan makanan dari dapur umum, bisa jadi akan kesulitan makannya,” paparnya.

Hanya saja, dia mengeluhkan minimnya bantuan yang diterima. Sampai saat ini bantuan yang diberikan masih berasal dari Kantor Kecamatan Genuk yang diperoleh dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Ketahanan Pangan.

“Kami berharap ada bantuan lagi yang bisa kami bagikan ke warga. Saat ini bantuan masih minim sehingga cukup untuk dimasak di dapur umum saja,” terangnya.(HS)

Ini Tiga “Tempat Pijat” Ternyaman di Semarang Versi Anak Muda

Video : Puluhan PKL Kokrosono direlokasi ke Pasar Tanah Mas