Warga Kaliwungu Kendal Menyambut Maulud Nabi Dengan Tradisi Weh-Wehan

Tradisi weh-wehan di salah satu rumah warga di Kampung Pesantren, Kecamatan Kaliwungu, Rabu (28/10/2020).

 

HALO KENDAL – Menyambut peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW, warga Kaliwungu dan sekitarnya menggelar tradisi Weh-Wehan. Tujuannya di samping bersilatirahmi sesama warga, tradisi ini juga dimaksudkan untuk menjaga kebersamaan.

Seperti yang dilakukan warga Kampung Pesantren, Kaliwungu, Rabu (28/10/2020). Beraneka macam jajanan dan minuman ditaruh berderet di depan rumah warga. Bukan untuk dijual, namun jajanan itu untuk disediakan kepada warga lain yang lewat.

Warga terutama anak-anak begitu antusias mengikuti tradisi Weh-Wehan tersebut. Mereka berdandan rapi dengan memakai baju baru layaknya saat Lebaran Idul Fitri.

Sambil membawa aneka jajanan dan minuman, anak-anak berkeliling kampung untuk membagi makanan kepada tetangga atau teman sebayanya. Anak-anak di kampung itu bersuka ria merayakan tradisi yang sudah ada sejak dulu ini.

Menurut salah satu warga Kampung Pesantren, Adin (48), tradisi Weh-Wehan memang jadi kebiasaan warga di kampungnya untuk menyambut Maulud Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini menurutnya sudah turun-temurun, dan hanya dilakukan oleh warga Kaliwungu.

“Tradisi weh-wehan ini adalah tradisi yang sudah turun-temurun oleh warga di sini,” kata Udin.

Diakui, meski di tengah pandemi, warga tetap menggelar kegiatan ini. Karena dengan melaksanakan acara weh-wehan, warga juga bisa saling bantu warga lain. Sehingga tradisi tersebut akan terus dilestarikan.

“Tradisi Weh-wehan adalah bentuk kebersamaan antarwarga. Kami saling memberi tanpa membeda-bedakan. Kami semua sudah terbiasa dengan kegiatan semacam ini. Karena dengan tradisi ini, warga semakin kompak,” ungkapnya.

Sementara salah satu anak, Maysha (10) mengaku senang dengan tradisi Weh-wehan ini di kampungnya. Karena dia mendapat banyak jajanan tanpa harus membeli. Hanya saling tukar dengan teman-temannya.

“Bapak dan ibu saya membawakan aneka makanan dan minuman untuk diberikan kepada tetangga dan teman-teman. Kemudian saya gantian dikasih oleh mereka,” ungkap Maysha sambil memperlihatkan jajanan yang diperolehnya.

Jajanan terdiri dari bermacam-macam, ada makanan dan minuman. Dari jajanan tradisional, hingga makanan modern.

Salah satu makanan yang menjadi ciri khas dalam tradisi ini adalah sumpil dan ketan aneka warna. Karena menurut salah satu warga, Rosidah (47), tradisi weh-wehan tanpa sumpil seperti kurang afdol.

“Sumpil itu makanan yang terbuat dari beras yang dibungkus dengan daun bambu, bentuknya segitiga. Cara menyantapnya dengan sambal parutan kelapa,” Rosidah.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.