in

Warga Gelar Hajatan, 31 Orang Positif Covid-19

Petugas memberikan bantuan kepada warga yang menjalani isolasi mandiri di Dukuh Tari Wetan, Desa Sumber, Kecamatan Simo. (Foto : Boyolali.go.id)

 

HALO BOYOLALI – Sebanyak 30 warga di Dukuh Tari Wetan, Desa Sumber, Kecamatan Simo, terkonfirmasi positif Corona virus Disease (Covid-19). Mereka diduga terinfeksi virus tersebut, dalam hajatan yang digelar salah satu warga. Selain mereka satu warga Kabupaten Pati, juga diketahui terinfeksi Covid-19, setelah hadir dalam hajatan tersebut.

Camat Simo, Waluyo Jati menjelaskan klaster hajatan tersebut bermula ketika seorang warga menggelar hajatan, yang dihadiri kerabat dari Kabupaten Pati. Warga bersangkutan memang warga asli Desa Sumber, tetapi selama puluhan tahun bekerja di Kabupaten Pati. Ketika dia menggelar hajatan, kerabat di Kabupaten Pati pun datang ingin mangayubagya.

“Setelah pulang, ada keluarga di sana (Kabupaten Pati) yang merasa gejala sesak napas dan batuk. Setelah diperiksa, ternyata yang bersangkutan positif Covid-19,” kata Waluyo, seperti dirilis Boyolali.go.id.

Tak lama kemudian, istri yang warga Desa Sumber tersebut juga mengalami gejala yang mengarah ke Covid-19. Setelah diperiksa, ternyata yang bersangkutan juga dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

Puskesmas dan tim kecamatan pun, kemudian bergerak cepat untuk melacak dengan melakukan tes swab. Sebanyak 80 orang, yang terdiri atas 27 keluarga di 26 rumah pun serentak dites swab. Hasilnya terdapat 30 warga yang positif, serta satu orang di antaranya warga Kabupaten Pati. Mereka harus menjalani isolasi mandiri. Bahkan di antara yang terjangkit, adalah ibu hamil yang sudah mendekati hari perkiraan lahir.

“Karena kebetulan di antara yang positif kemarin ada yang hamil. HPL tinggal 10 hari, sehingga perlu perhatian khusus untuk penanganan lebih lanjut,” katanya.

Bagi yang dinyatakan negatif tetap disarankan tidak keluar rumah karena dalam jangka waktu lima hingga enam hari akan dilakukan tes swab ulang guna pemantauan penyebaran Covid-19.

Menghadapi situasi demikian, tim jogo tonggo setempat kini, sudah melakukan pengawasan secara lebih serius pada warga. Hal ini menindaklanjuti rekomendasi dari Tim Satgas Covid-19 Simo, bahwa warga yang dinyatakan negatif, untuk tidak keluar rumah dalam waktu lima hingga enam hari. Tim juga akan melakukan tes swab ulang, untuk mengevaluasi penyebaran Covid-19 di daerah itu.

Kepala Dinkes Kabupaten Boyolali, Ratri S Survivalina, menjelaskan dengan kemunculan klaster hajatan di Desa Sumber ini, hingga Jumat (18/6) sudah terdapat 35 klaster. Hingga Kamis (17/6) malam, bertambah sebanyak 81 kasus, sehingga secara akumulasi menjadi 8.913 kasus.

Sementara itu menurut data yang dirilis dinkes.boyolali.go.id, hingga Jumat (18/6), total sudah terdapat 9.097 kasus aktif. Adapun untuk tambahan kasus hingga kemarin, terdapat 912 kasus aktif. Dari jumlah itu, sebanyak 184 orang dirawat dan 728 menjalani isolasi mandiri.

Untuk pasien yang sudah selesai menjalani isolasi dan dinyatakan sembuh, total sebanyak 7.807. Dengan demikian tingkat kesembuhan di wilayah ini mencapai 85,8 persen. Adapun untuk jumlah total korban meninggal, sebanyak 378 orang, sehingga tingkat kematian sebesar 4,2 persen. Boyolali saat ini masuk dalam zona risiko sedang, dengan skor IKM  1,84.

Munculnya klaster hajatan ini, memberikan gambaran bahwa kegiatan yang melibatkan banyak orang, berisiko menimbulkan menyebaran Covid-19. Tercatat selain klaster hajatan ini, di Kota Susu tersebut sebelumnya telah muncul puluhan klastes Covid-19, akibat warga menggelar kegiatan yang melibatkan banyak orang.

Klaster-klaster tersebut, antara lain halalbihalal di Boyolali; Jamaah Masjid di Nogosari; sejumlah klaster keluarga, termasuk yang berkaitan dengan warga asal Kudus; kerja bakti di Kudus; klaster layatan; Ponpes di Cepogo, rewangan di Ampel; dan takziah ke Kudus.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten Boyolali bersama pihak terkait, sudah melaksanakan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19. Secara terus menerus warga diingatkan untuk melaksanakan 5M, yakni memakai masker setiap bepergian, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas.

Pemkab Boyolali juga memperketat aturan dalam perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Mikro, yang berlaku mulai Selasa (15/6) hingga Senin (28/6).

Bupati Boyolali M Said Hidayat mengatakan dalam PPKM skala mikro tersebut, warung, rumah makan, angkringan, dan sebagainyan yang semula bisa buka hingga pukul 22.00, dibatasi hingga pukul 21.00.

Warga juga tidak boleh menggelar atau datang ke hajatan di luar Boyolali, namun diizinkan di lingkup wilayah Boyolali. Itu pun dengan sistem “air mengalir”, banyu mili, atau drive thru. Dinas Kesehatan setempat juga telah diperintahkan untuk mercepat vaksinasi.

Bupati Said juga mengoptimalkan keberadaan Rumah Sakit Darurat Corona (RSDC) Kemiri dan mendata lokasi-lokasi di setiap kecamatan, yang memungkinkan untuk isolasi terpusat.

“Setidaknya di titik-titik kecamatan dimana ada ruang-ruang yang sekiranya cukup untuk memfokuskan isolasi pada warga lingkungan terdekat, setelah terinventarisasi, baru bisa dilakukan penghitungan dan perencanaan yang matang,” kata dia. (HS-08)

Share This

Pendaftar Calon Jamaah Haji Batang Mengalami Penurunan

Prakiraan Cuaca Semarang Dan Sekitar, Sabtu (19/6/2021)