in

Warga Dilarang Keras Menangis di Sendang Gede, Gunungpati, Semarang, Ini Mitosnya:

Warga Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang, mengikuti kegiatan Nyadran Kali, Kamis (14/2/2019).

 

RATUSAN warga Kelurahan Kandri, Kecamatan Gunungpati, Semarang Kamis (14/2/2019), berbondong-bondong keluar rumah untuk mengikuti budaya tahunan arak-arakan Nyadran Kali. Para ibu-ibu membawa wakul yang berisi makanan, para pemuda memikul gunungan hasil bumi, dan para pemudi membawakan tarian tradisional kelurahan Kandri. Arak-arakan dimulai dari Sendang Lanang menuju Sendang Gede yang ada di wilayah tersebut.

Sendang Gede menjadi pusat pelaksanaan Nyadran Kali lantaran tempat itu menjadi tempat bersejarah bagi masyarakat Kandri.

Juru Kunci Sendang Gede, Ahmad Supriyadi menceritakan, mulanya Sendang Gede ini merupakan mata air yang besar. Pada zaman dulu, masyarakat sekitar takut jika desa Kandri ini menjadi rawa, karena sumber di sendang gede yang debitnya sangat besar. Lalu, oleh sesepuh Kandri kala itu, warga disarankan untuk memberi tumbal berupa kepala kerbau dan uborampe lainnya.

“Tempat ini kemudian dinamakan Sendang Gede. Dan tradisi memberikan sesaji kepala kerbau tetap dilaksanakan hingga sekarang. Namun kini kepala kerbaunya diganti dengan replika saja. Tujuannya hanya untuk meneruskan tradisi saja, agar kearifan lokal ini tak dilupakan oleh generasi sekarang,” katanya, di sela acara Nyadran Kali.

Lanjut Supriyadi, setelah menjadi sendang dengan debit air yang tak terlalu besar, banyak kejanggalan terjadi di lingkungan sekitar. “Mitosnya, kala itu ada seorang yang menangis di sendang ini. Setelah menangis dan pulang rumah, orang tersebut meninggal dunia. Oleh karena itu, masyarakat tidak diperbolehkan menangis di tempat ini. Selain tidak boleh menangis, masyarakat juga tidak boleh mencuci atau membersihkan alat dapur di sini karena dulu ada orang yang mencuci alat dapur kemudian dibawa kerumah, orangnya depresi,” jelasnya.

Diakuinya, banyak larangan dan mitos yang melatarbelakangi sendang Gede ini. Selain larangan di atas tadi, masih ada aturan tak tertulis yang sangat ditaati oleh warga sekitar.

“Contohnya masyarakat tidak boleh mencaci maki apa yang ada di sendang ini, terutama airnya. Hal ini karena air sendang bisa berubah, kadang keruh, kadang jernih, dan kadang berwarna darah. Kalau yang tidak kuat melihat seluruh air di sendang ini berubah jadi darah, maka bisa stress atau lupa diri,” ujarnya.

Dia menambahkan, setiap tahun Desa Kandri selalu mengadakan Nyadran Kali Gede sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas limpahan, karunia, dan kesejahteraan yang diterima oleh masyarakat Desa Kandri.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang, Indrasari mengapresiasi tradisi Nyadran Kali yang selalu diselenggarakan oleh masyarakat Kandri setiap tahun. Menurutnya, acara ini dapat mengangkat potensi wisata yang ada di Kota Semarang. Selain itu, tradisi ini juga dapat menambah keguyuban masyarakat Kandri sendiri.

“Ke depan Pemerintah Kota (Pemkot) akan support kegiatan seperti ini,” ucap Iin, sapaan Kepala Disbudpar.

Adapun bentuk dukungan dari pemerintah, imbuhnya, akan terus mempromosikan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh masyarakat Kandri. Pihaknya juga berencana mengangkat potensi yang ada di Desa Wisata Kandri.

“Ada banyak daya tarik yang ada di Kelurahan Kandri yang masih bersifat alam dan menarik sekali untuk dipertimbangkan,” katanya.

Iin juga sudah membawa rombongan Disbudpar untuk melakukan kajian bersama terkait potensi Desa Wisata Kandri. “Paling tidak nanti Kandri bisa masuk ke dalam kalender event di Kota Semarang,” tuturnya.(HS)

PSIS Mulai Siapkan Tim untuk Persiapan Piala Presiden

Jual Bawang dan Cabai ke Luar Jawa, Ganjar Siapkan Subsidi Transportasi