in

Warga Boja Ini Coba Budi Daya Gaharu, Hasilnya Pun Cukup Menjanjikan

Pengrajin gaharu, Hani Sudarmijah di stan Disperindagkop UKM Kendal, Minggu (24/7/2022).

BUDI daya pohon gaharu merupakan salah satu langkah nyata dalam menjalankan program pemanfaatan hasil alam secara berkelanjutan. Gaharu atau disebut juga Aquilaria Malaccensis adalah tanaman yang terkenal dengan resin aromatiknya.

Dari berbagai sumber, semakin banyak manfaat pohon gaharu yang bisa dirasakan bagi kesehatan hingga kehidupan manusia secara keseluruhan.

Manfaat pohon gaharu bisa didapatkan baik untuk kesehatan, karena dapat digunakan untuk mengatasi berbagai penyakit kronis. Selain itu dapat berpengaruh pada nilai ekonomi.

Hal ini dapat diungkapkan berdasarkan banyaknya sejarah yang menunjukkan daun gaharu baik untuk kesehatan. Daun dari pohon gaharu telah digunakan sebagai obat-obatan herbal juga untuk mengobati beberapa penyakit kronis, di antaranya adalah hipertensi dan kanker.

Melihat potensi yang bisa dikembangkan dari produk gaharu, menggugah Hani Sudarmijah, seorang ibu rumah tangga warga Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, sejak tahun 2011 berkutat dengan pohon gaharu.

Ditemui di stand Disperindagkop UKM Kabupaten Kendal, dalam acara Kendal Expo, Hani mengaku, di kediamannya di jalan Sunan Bromo Boja, selain membibitkan, juga menanam, mengola, dan menjual tanaman gaharu.

Menurutnya, banyak manfaat yang bisa diambil dengan budi daya gaharu. Dikarenakan manfaat akar, daun, batang, dan biji gaharu sangat banyak sebagai obat-obatan.

Hani menjelaskan, gaharu itu sendiri adalah bagian dari pohon yang mengandung kadar damar wangi dan minyak, sebagai akibat dari proses infeksi patogen (jamur), baik secara alami ataupun buatan.

Hal itu yang membuat minyak hasil sulingan kayu gaharu bisa dibuat bahan minyak pewangi, dan ampasnya juga bisa dimanfaatkan untuk pewangi terapi ruangan, pewangi mobil, dan juga dibuat dupa.

“Misalnya untuk tekanan darah, menambah stamina, dan melancarkan buang air besar. Bisa juga untuk menghilangkan bau badan. Sedang akar dan batangnya bisa untuk anti mikroba, anti oksidan dan anti bakteri analgesik. Sementara itu minyaknya untuk bahan pokok pengikat minyak wangi,” bebernya.

Hani juga mengungkapkan, saat ini untuk produk gaharunya sudah merambah ekspor ke mancanargara. Di antaranya ke Azarbaijan, Maroko, dan Singapura.

“Yang laku diekspor ke mancanegara adalah kayu dan minyak sulingan, itu yang asli buatan saya. Sedangkan untuk minyak wangi, juga diekspor tapi melalui perusahaan lain, yang membeli bahan dari saya,” ujarnya.

Hani juga mengungkapkan, produknya sudah pernah dipamerkan di berbagai wilayah di Indonesia, di antaranya di Bandung, Jakarta, Surabaya, Aceh dan Sulawesi.

“Sedangkan untuk mancanegara, saya pernah pameran di Azarbaijan dan sering pameran di Singapura,” imbuhnya.

Untuk pemasaran, Hani mengaku saat ini lebih memanfaatkan offline melalui kegiatan pameran di produk UMKM Kabupaten Kendal.

“Ya karena dengan memasarkan lewat pameran, saya menyebarkan kartu nama. Dari penyerbaran kartu nama itulah saya mendapatkan banyak pesanan. Sedangkan untuk online, banyak dibantu oleh media sosial milik dinas maupun UMKM,” ungkapnya.

Sedangkan untuk produk kerajinan kayu gaharu yang ia produksi, di antaranya hiasan dinding replika keris, cincin, alat pijat, dan gantungan kunci. Kemudian ada produk teh daun gaharu dan produk kecantikan.

“Untuk kerajinan dari kayu gaharu harganya bervariasi tergantung besar kecilnya barang. Dari Rp 35 ribu hingga Rp 100 ribu. Sedangkan untuk minyak wangi harga yang saya tawarkan mulai Rp 250 ribu per botol,” pungkas Hani.(HS)

Naik Phinisi di Perairan Taman Nasional Komodo, Sandiaga : View Dapat dan Sensasinya Luar Biasa

Dewan Apresiasi Dishub Kota Semarang Pilih Duta Abdi Yasa Teladan 2022